Liputan6.com, Jakarta - PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) akan mengakselerasi Project Pani Gold Mine dengan menambah fasilitas Carbon-in-Leach (CIL) menjadi dua agar dapat melipatgandakan produksi masa depannya.
Usai uji coba operasi (commissioning) dari kedua fasilitas tersebut berhasil, total kapasitas gabungan CIL akan meningkat dari 250.000–350.000 ons per tahun menjadi sebesar 500.000–700.000 ons per tahun.
Advertisement
Fasilitas CIL fase 1 sedang dibangun dengan kapasitas pemrosesan sebesar 12 juta ton per tahun (million tonnes per annum/Mtpa) dengan potensi peningkatan (surge capacity) sebesar 20%, yang memungkinkan hasil produksi (throughput) hingga mencapai 14,4 Mtpa.
Fasilitas pemrosesan yang lebih tinggi ini menandai langkah penting dalam transisi Pani Gold Mine dari tahap peningkatan produksi (ramp-up) saat ini menuju operasi berskala lebih besar dengan kemampuan menghasilkan kas (cash-generation) yang lebih kuat. Perseroan juga tengah mempercepat fasilitas CIL Fase 2, yang skalanya akan sepadan dengan Fase 1 sehingga dapat melipatgandakan kapasitas pemrosesan CIL Pani Gold Mine setelah rampung.
Presiden Direktur PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), Boyke P. Abidin menuturkan, proyek CIL Fase 1 mengalami kemajuan yang baik pada aspek rekayasa teknis, pengadaan, dan konstruksi.
“Dengan merancang pabrik yang dapat menyangga penambahan kapasitas, kami telah mengamankan target hasil produksi yang direncanakan sekaligus menyediakan ruang untuk terus meningkatkannya. Rencana kami untuk membangun fasilitas CIL kedua akan meningkatkan kapasitas produksi emas Pani secara signifikan, sementara akselerasi Fase 2 akan memungkinkan kami untuk mempercepat realisasi arus kas di masa depan,” ujar Boyke mengutip keterangan resmi, Sabtu (17/10/2026).
Ia menambahkan, secara keseluruhan, berbagai pengembangan ini memperkuat posisi Perseroan sebagai tambang emas dengan operasional berskala besar.
Pekerjaan Sipil
Kemajuan konstruksi untuk Fase 1 terus berlanjut di seluruh aspek pekerjaan. Rekayasa dasar (basic engineering) telah diselesaikan, rekayasa terperinci (detailed engineering) sudah sangat maju, seluruh peralatan utama dengan waktu tunggu pemesanan yang lama (major long-lead equipment) telah dipersiapkan, dan kontraktor konstruksi telah dimobilisasi ke lokasi.
Pekerjaan sipil pun telah dimulai di beberapa area seperti penggilingan (milling), pelindian (leaching), dan pengentalan (thickening). Pembangunan Fasilitas Penyimpanan Tailing (Tailings Storage Facility/TSF) juga berjalan dengan baik, termasuk bendungan pengelak (coffer dams) dan sistem pengalihan air menjelang penimbunan tanggul bendungan awal (starter dam embankment filling).
Desain Fase 1 juga telah mengintegrasikan infrastruktur utama yang dibutuhkan untuk CIL Fase 2. Sistem penghancuran (crushing), pengangkutan (conveying), penumpukan (stockpiling), utilitas air, dan sistem reagen sedang dikembangkan melalui CIL Fase 1, sementara pekerjaan tahap awal konstruksi (bulk earthworks) untuk Fase 2 juga akan diselesaikan sebagai bagian dari Fase 1.
Hal ini memungkinkan fasilitas kedua untuk mengikuti program konstruksi yang lebih efisien dan terstruktur. Rangkaian pengembangan Fase 2 secara strategis dilanjutkan segera setelah keberhasilan uji coba operasi (commissioning) dan peningkatan operasional Fase 1.
Susun Feasibility Study
Saat ini, Perseroan menyusun pembaruan studi kelayakan (feasibility study) yang mencakup Fase 2. Studi ini akan mencerminkan revisi profil produksi, kebutuhan modal, dan nilai keekonomian proyek.
“Dengan kemajuan konstruksi Fase 1 dan percepatan yang tengah dilakukan pada Fase 2, EMAS berada pada posisi yang kuat untuk memperluas kapasitas pemrosesan dan skala produksi Pani Gold Mine secara signifikan,” ujar Boyke.
Ekspansi CIL secara bertahap ini diharapkan dapat memperkuat profil operasional jangka panjang tambang serta mengakselerasi kontribusinya terhadap pendapatan dan arus kas masa depan EMAS.
Kendati demikian, proyek-proyek ini tetap terikat pada lingkungan operasi yang sangat dinamis. Volatilitas makroekonomi, ketidakpastian rantai pasok, kompleksitas operasional, serta perubahan lanskap regulasi dapat berdampak terhadap lini masa eksekusi proyek.