Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan Jumat setelah Iran meningkatkan serangan di Selat Hormuz, kelompok Houthi meluncurkan rudal ke Arab Saudi, dan Ukraina berjanji melanjutkan serangan terhadap kilang minyak Rusia.
Mengutip CNBC, Sabtu (17/10/2026), harga minyak mentah Brent sempat menyentuh US$ 110 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei sebelum ditutup di US$ 109,86 per barel, naik 3,7%.
Advertisement
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) menguat 3,5% menjadi US$ 101,41 per barel.
Dalam sepekan, harga WTI melonjak lebih dari 10%, sedangkan Brent naik hampir 5%.
Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi global akibat konflik geopolitik.
Arab Saudi pada Jumat mencegat sejumlah rudal yang ditembakkan melintasi Laut Merah, termasuk satu rudal yang mengarah ke terminal ekspor minyak Yanbu. Militer negara tersebut juga menghancurkan tiga drone di Riyadh dan wilayah selatan.
Serangan di Selat Hormuz Ganggu Pengiriman Minyak
Kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran berulang kali melancarkan serangan ke Arab Saudi sepanjang pekan ini. Kementerian Energi Arab Saudi menyebut salah satu gedung administratif perusahaan minyak Aramco di Dhahran juga terkena serangan pada Selasa.
Sementara itu, sedikitnya sembilan kapal tanker dan kapal kargo diserang di Selat Hormuz sejak Minggu. Iran berupaya menghambat ekspor minyak melalui jalur perairan strategis tersebut.
Komando Pusat AS menyatakan Iran menenggelamkan kapal kontainer GFS Pride pada Rabu. Otoritas maritim Singapura menyebut seluruh awak kapal berbendera Singapura itu berhasil dievakuasi dengan selamat.
Organisasi Maritim Internasional melaporkan tiga pelaut terluka dan dua lainnya hilang sepanjang pekan ini akibat serangan tersebut.
Data perusahaan riset energi Kpler menunjukkan ekspor minyak mentah melalui Selat Hormuz mencapai 9,4 juta barel per hari pada pekan yang berakhir Rabu. Angka tersebut setara sekitar 70% dari rata-rata sebelum perang Iran, setelah sebelumnya sempat kembali ke tingkat sebelum perang pada September.
Konflik Rusia-Ukraina Ikut Tekan Pasokan Energi
Di sisi lain, gencatan senjata di sektor energi yang diupayakan Presiden AS Donald Trump antara Rusia dan Ukraina dengan cepat runtuh. Kremlin tetap menyerang infrastruktur Ukraina meski kesepakatan penghentian serangan tersebut sempat diupayakan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan Kyiv akan kembali menyerang kilang minyak Rusia sebagai balasan.
Harga solar di AS juga melonjak tahun ini akibat serangan Ukraina terhadap kilang Rusia dan serangan Iran terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah.
Menurut data AAA, harga rata-rata solar pada Jumat mencapai US$ 6,33 per galon, lebih dari 70% di atas periode yang sama tahun lalu.
Harga minyak mentah AS turut terdorong oleh penurunan persediaan komersial lebih dari 8 juta barel pada pekan yang berakhir 9 Oktober. Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mengaitkan penurunan tersebut dengan penghentian sementara produksi di kawasan Pantai Teluk akibat Badai Isaias.
Kombinasi konflik geopolitik, gangguan pengiriman, dan berkurangnya persediaan memperbesar tekanan terhadap pasar energi global. Jika gangguan berlanjut, pasokan minyak dan biaya bahan bakar berpotensi tetap berada di bawah tekanan.