Liputan6.com, Jakarta - Lonjakan pesat teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak hanya merambah ke sektor bisnis, tetapi juga memicu krisis energi serta infrastruktur demi membangun pusat data.
Raksasa teknologi seperti Google, Microsoft, OpenAI, dan Anthropic terus menggelontorkan miliaran dolar untuk mengembangkan AI. Demikian sebagaimana dikutip dari BGR, Senin (19/10/2026).
Advertisement
Namun, di balik kecanggihannya, server AI membutuhkan daya listrik yang masif sehingga menghasilkan panas luar biasa.
Salah satu cara untuk mengatasi panas berlebih adalah dengan membangun pusat data di dasar laut seperti yang telah diuji Microsoft sebelumnya.
Microsoft sempat menguji gagasan ini dengan mengoperasikan pusat data tertutup di dasar laut lepas pantai Skotlandia selama beberapa tahun, dimulai sejak 2018.
Meskipun eksperimen yang disebut Project Natick itu dianggap sukses secara teknis, pada akhirnya dihentikan karena biaya operasional tinggi serta minim permintaan pelanggan. Hal ini menyoroti berbagai tantangan dalam pengembangan pusat data di bawah laut.
Kendala Pemeliharaan Fasilitas Pusat Data di Laut
Salah satu tantangan terbesar pusat data adalah sistem pendinginan. Server AI bekerja tanpa henti memproses jutaan permintaan pengguna setiap detik, yang menghasilkan panas berlebih.
Sebagian besar konsumsi listrik pusat data darat justru habis hanya untuk menjalankan pendingin ruangan. Jika listrik tersebut berasal dari bahan bakar fosil, emisi gas rumah kaca pun meroket.
Sementara kekurangan utama pusat data di laut adalah terkait pemeliharaan dan peningkatan sistem. Jika terdapat kerusakan di bawah air, teknisi akan sulit mengakses dan memaksa peralatan diangkat ke permukaan atau diperbaiki dari jarak jauh, berbeda dengan di darat.
Selain itu, untuk memperbarui chip secara berkala, pada fasilitas berbasis laut yang tertutup rapat, mengganti seluruh unit mungkin jauh lebih hemat dibandingkan mengganti chip satu per satu.
Berpotensi Merusak Ekosistem Laut
Dari sisi lingkungan turut menjadi sorotan. Meskipun air laut dapat membantu mendinginkan peralatan, panas yang dihasilkan akan diserap oleh perairan di sekitarnya. Akibatnya, suhu air meningkat dan berpotensi memengaruhi kadar oksigen serta kehidupan biota laut.
Meskipun efek satu pusat data relatif kecil, penempatan puluhan pusat data dalam satu wilayah dapat berdampak fatal.
Ancaman korosi air garam dan penumpukan kerang pada radiator pembuang panas juga menjadi tantangan teknis tersendiri.
Melirik Luar Angkasa
Melihat rumitnya kendala di laut, sejumlah perusahaan kini mengalihkan pandangan ke luar angkasa. Pusat data berbasis satelit di orbit bumi rendah hingga Bulan mulai dijajaki.
Di sana, pusat data dapat memanfaatkan energi matahari sekaligus menghindari berbagai kendala pendinginan yang dihadapi di Bumi.
Google tengah mengeksplorasi gagasan ini lewat Project Suncatcher dan berencana meluncurkan satelit purwarupa pertamanya tahun ini. Perusahaan lain seperti Starcloud bekerja sama dengan Firefly menguji teknologi pusat data di orbit Bulan.
Tak ketinggalan, SpaceX merancang inisiatif Starmind untuk membangun jaringan AI orbital pada 2027, memanfaatkan keunggulan roket dan jaringan Starlink milik mereka.
Namun, gagasan mengenai pusat data berbasis di luar angkasa ini menghadapi sejumlah hambatan besar. Jensen Huang, CEO produsen chip Nvidia, menyoroti tingginya biaya untuk mengirimkan peralatan ke orbit.
Selain itu juga terdapat tantangan seperti dalam membuang panas di ruang hampa udara, radiasi yang dapat merusak chip AI dan peralatan lainnya, hingga perbaikan pusat data di luar angkasa jauh lebih rumit.