MSCI Mau Ubah Status Pasar Saham Indonesia, Leon Hartono Soroti Dampak ke Sektor Riil

Rencana perubahan klasifikasi MSCI terhadap pasar saham RI berpotensi memengaruhi keputusan investasi, termasuk penanaman modal di sektor riil.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 16 Oktober 2026, 20:50 WIB
Pendiri kanal edukasi finansial The Overpost sekaligus pendiri startup SpaceStock, Leon Hartono. (Tangkapan layar)

Liputan6.com, Jakarta - Rencana perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) berpotensi membawa dampak lebih luas daripada sekadar tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kondisi ini juga dapat memengaruhi pertimbangan investor dalam menanamkan modal di sektor riil.

Pendiri kanal edukasi finansial The Overpost sekaligus pendiri startup SpaceStock, Leon Hartono, menilai persoalan tersebut perlu menjadi peringatan bagi para pemangku kepentingan. Menurut dia, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh investor saham, tetapi juga berpotensi menjangkau masyarakat luas.

“Jadi, ini menjadi hopefully menjadi wake-up call dan menjadi orang-orang yang memiliki power understand the urgency lah, soalnya ini besar sekali impact-nya,” kata Leon dalam Program CUANOMIX Liputan 6 SCTV, dikutip Jumat (16/10/2026).

Ia mengingatkan, pasar saham kerap dianggap hanya berkaitan dengan aktivitas perdagangan atau spekulasi. Padahal, kondisi pasar modal dapat memengaruhi keputusan investasi di berbagai sektor usaha.

“Ini impact-nya tuh bukan orang-orang yang investasi saham doang. Banyak orang tuh yang ngerasa, ya lu sih main-main saham, trading itu judi, ya kan?” ujarnya.

Leon mencontohkan keputusan investor yang mempertimbangkan pembangunan hotel dibandingkan membeli saham perbankan. Menurut dia, investor akan membandingkan potensi keuntungan, risiko, dan waktu pengembalian modal sebelum menentukan pilihan.

“Misalnya gini, misalnya gue pengin bikin hotel gitu. Kalau misalnya gue bikin hotel, hotel itu tuh payback period-nya sekitar 8–9 tahun gitu,” kata Leon.

Ia menilai saham perbankan bisa menjadi alternatif bagi investor yang mempertimbangkan valuasi dan potensi imbal hasil.

“Ngapain bikin hotel? Beli aja BBRI gitu atau BMRI gitu,” ujarnya.

 

Opportunity Cost

Leon menjelaskan, investasi di sektor riil seperti perhotelan memiliki tantangan tersendiri. Selain membutuhkan waktu untuk mengembalikan modal, bisnis hotel juga menuntut pengelolaan operasional dan sumber daya manusia. Asetnya pun relatif tidak likuid karena proses penjualan dapat membutuhkan waktu.

“Kalau misalnya hotel enggak liquid. Enggak liquid, banyak karyawan harus pusingin ini itu. Kalau misalnya mau jual mungkin harus nunggu 5 tahun baru kejual hotelnya. Kalau misalnya BMRI-BBRI bisa jual kapanpun gitu,” kata dia.

Karena itu, investor akan mempertimbangkan biaya peluang atau opportunity cost ketika memilih menanamkan modal di sektor riil dibandingkan instrumen pasar keuangan.

“Jadi dari segi investor ke sektor yang real pun pasti akan menimbangkan opportunity cost saat mereka pengin berinvestasi di real sector gitu,” ujarnya.

Leon turut menyoroti valuasi saham perbankan besar. Ia menyebut price-to-earnings ratio (P/E ratio) BMRI dan BBRI berada di kisaran lima hingga enam kali, sedangkan BBCA sekitar 10 kali. Ia juga menyinggung dividend yield yang menurutnya mencapai 14 persen pada saham tertentu.

“Pasti mereka bakal lihatin yang ini dividen yield-nya tadi sudah sampai 14%. Gila banget 14% gitu,” kata Leon.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa angka tersebut bukan jaminan keuntungan yang pasti diterima investor. Perhitungan imbal hasil tetap bergantung pada asumsi laba perusahaan dan faktor lainnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya