Liputan6.com, Jakarta - PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX) melalui anak usahanya, PT Multi Nice Paper Indonesia (MNPI), meresmikan pabrik baru khusus manufaktur popok bayi di Legok, Kabupaten Tangerang. Perseroan mengucurkan investasi senilai USD 6 juta (sekitar Rp 102 miliar) dengan membidik pendapatan hingga Rp 473 miliar pada 2027.
Direktur Utama PT Multi Nice Paper Indonesia, Mengky Mangarek, menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas produksi ini merupakan langkah strategis perusahaan untuk memperkuat industri perawatan bayi dalam negeri sekaligus menekan ketergantungan pada produk impor.
Advertisement
Pada tahap awal, pabrik ini berdiri di atas lahan seluas 1 hektar dari total area pengembangan seluas 3 hektar.
"Di tengah gejolak ekonomi saat ini, pembangunan pabrik popok di dalam negeri menjadi strategi kami untuk menekan biaya produksi dan menjaga stabilitas margin tanpa khawatir fluktuasi nilai tukar," ujar Mengky, Jumat (16/1/2026).
Melalui beroperasinya pabrik tersebut, perseroan memproyeksikan pendapatan mencapai Rp 473 miliar pada 2027, atau melonjak 21,91 persen dibandingkan target 2026 sebesar Rp 388 miliar. Sementara itu, EBITDA ditargetkan menyentuh Rp 116 miliar pada 2027, tumbuh 31,82 persen dari target Rp 88 miliar pada 2026.
"Pertumbuhan ini akan didorong oleh penguatan merek, perluasan jaringan distribusi—termasuk e-commerce—serta optimalisasi kapabilitas manufaktur," tambah Mengky.
Target Produksi 1,8 Miliar Popok
Pada tahap awal pengoperasian dua lini produksi, perusahaan mematok kapasitas produksi mencapai 1,8 miliar unit popok. Ke depan, kapasitas ini diproyeksikan merangkak naik hingga 3 miliar unit per tahun.
"Target awal produksi kami 1,8 miliar unit dan akan ditingkatkan menjadi 3 miliar unit. Jumlah tersebut diperkirakan mampu memenuhi sekitar 10 persen dari total kebutuhan popok nasional yang mencapai 33 miliar unit per tahun," jelas Mengky.
Dalam simulasi dampak manufaktur pada 2027, skenario dengan keberadaan pabrik memproyeksikan laba kotor sebesar USD 12,25 juta, lebih tinggi dibandingkan perkiraan tanpa pabrik sebesar USD 10,92 juta. Margin laba kotor pun terdongkrak dari 41,2 persen menjadi 46,3 persen.
Pada simulasi yang sama, laba bersih dengan pabrik diproyeksikan menyentuh USD 2,55 juta, atau melesat 69,1 persen dibandingkan skenario tanpa pabrik sebesar USD 1,51 juta. Margin laba bersih juga meningkat dari 5,7 persen menjadi 9,6 persen.
"Investasi ini diharapkan mampu memperkuat daya saing industri perawatan bayi nasional, meningkatkan penggunaan bahan baku domestik, serta membuka peluang ekspansi ke pasar ekspor," tuturnya.
Untuk pasar ekspor, perusahaan membidik negara-negara di Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, Filipina, dan Vietnam, memanfaat jaringan kemitraan ritel Indonesia yang telah berekspansi ke kawasan tersebut.