Ada Potensi Reklasifikasi MSCI, Mirae Asset Waspadai Tekanan Arus Modal Asing

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia mengungkapkan dampak jika reklasifikasi pasar saham Indonesia diterapkan menjadi standalone market.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 16 Oktober 2026, 18:26 WIB
Pekerja tengah melintas di bawah layar Indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Selasa (16/5/2023). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai usulan MSCI untuk mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market sebagai perkembangan serius yang berpotensi membawa konsekuensi jangka panjang bagi pasar modal domestik.

Persoalan ini tidak hanya menyangkut potensi tekanan jual dalam jangka pendek, tetapi juga posisi Indonesia dalam indeks saham global, akses terhadap investor institusional internasional, serta daya tarik pasar saham Indonesia sebagai tujuan investasi.

MSCI memulai konsultasi atas usulan tersebut pada 15 Oktober 2026, menyusul kekhawatiran terkait transparansi struktur kepemilikan saham, kualitas free float, dan dugaan aktivitas perdagangan terkoordinasi. Keputusan final dijadwalkan paling lambat akhir Juni 2027.

Menurut Mirae Asset Sekuritas Indonesia, perkembangan ini menunjukkan persoalan yang dihadapi pasar saham Indonesia bukan semata-mata sentimen pasar, melainkan menyangkut aspek mendasar dari transparansi dan aksesibilitas pasar bagi investor global.

Head of Research &Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menuturkan, apabila reklasifikasi menjadi Standalone Market benar-benar diterapkan, saham-saham Indonesia berpotensi keluar dari indeks Emerging Market yang menjadi acuan berbagai produk investasi global. Konsekuensinya dapat berupa penjualan oleh investor pasif yang mengikuti indeks tersebut, disertai penyesuaian alokasi oleh investor institusional aktif.

"Risikonya bukan hanya berapa besar dana asing yang berpotensi keluar. Dalam jangka lebih panjang, perubahan klasifikasi ini dapat mempersempit basis investor institusional, mengurangi likuiditas pasar, dan meningkatkan premi risiko yang diminta investor untuk berinvestasi di saham Indonesia. Dengan kata lain, dampaknya bisa lebih luas daripada tekanan jual yang kita lihat saat ini,” jelas Rully, mengutip keterangan resmi, Jumat, (16/10/2026).

Meski demikian, Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai skenario Standalone Market belum dapat dianggap sebagai hasil yang pasti. Periode konsultasi yang masih berlangsung memberikan kesempatan bagi otoritas pasar modal Indonesia untuk menunjukkan kemajuan yang konkret, terutama dalam transparansi kepemilikan saham, pengawasan terhadap aktivitas perdagangan terkoordinasi, serta penerapan aturan free float yang kredibel dan konsisten.

 

 

Perhatian Investor Global

Pekerja mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan Sekuritas, Jakarta, Rabu (14/11). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di zona hijau pada penutupan perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

“Yang akan menjadi perhatian investor global bukan sekadar komitmen untuk melakukan perbaikan, tetapi sejauh mana reformasi tersebut benar-benar dilaksanakan dan dapat diverifikasi. Karena itu, perkembangan respons regulator terhadap kekhawatiran MSCI akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah kepercayaan investor ke depan,” ujar Rully.

Dari sisi strategi investasi, Mirae Asset Sekuritas menyarankan pendekatan yang lebih selektif di tengah volatilitas pasar yang tinggi.

Investor yang masih memiliki posisi kas cukup besar dapat mempertimbangkan pembelian kembali secara bertahap (gradual re-entry), dengan fokus pada saham-saham yang relatif rendah kepemilikan investor institusional asing dan memiliki eksposur lebih terbatas terhadap tekanan jual terkait MSCI. Beberapa saham komoditas dapat menjadi area yang dicermati, dengan tetap mempertimbangkan likuiditas dan karakteristik masing-masing saham.

“Kami tidak melihat perlunya investor terburu-buru kembali masuk ke pasar secara agresif. Namun, koreksi yang sangat tajam juga dapat membuka peluang secara selektif. Dalam kondisi seperti ini, kami lebih memilih saham yang relatif tidak bergantung pada aliran dana asing, sambil tetap mempertahankan fleksibilitas kas untuk menghadapi kemungkinan volatilitas lanjutan,” ujar Rully.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya