Liputan6.com, Jakarta - Sekretaris Utama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Guswanto angkat bicara soal kabar sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan dan Sumatera.
"Kalau kita lihat dari citra sebaran asap wilayah Indonesia yang dirilis BMKG jam 10.00 tadi ya, itu hasil deliniasi terdeteksi asap yang sudah masuk ke wilayah Banten, maupun Jawa Barat, ataupun di Jakarta sendiri," kata dia saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (16/10/2026).
Advertisement
Guswanto menjelaskan, terdapat dua wilayah sebaran asap berdasarkan deliniasi yang terpantau. Sebaran pertama, ditandai garis putus-putus berwarna merah muda, berasal dari kebakaran hutan di Merauke atau Papua Selatan dan meluas hingga Maluku.
Sementara itu, sebaran asap dari wilayah Kalimantan dan Sumatra mencakup kedua pulau tersebut hingga sebagian wilayah Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta.
Sementara, kata Guswanto, pergerakan asap lintas negara juga terdeteksi dari Sumatra menuju Semenanjung Malaysia dan Singapura, serta dari Kalimantan ke Semenanjung Malaysia. Sementara itu, arah angin di Indonesia umumnya bertiup dari timur hingga tenggara menuju barat laut.
"Artinya ini sudah melintas di Jawa ya. Yang perlu dicermati itu adalah tingkat konsentrasi air quality. Jadi, dari gambar tersebut kita melihat arah pergerakan asap di Jawa itu bergerak ke arah tenggara hingga barat. Sehingga perlu dipantau terus, apakah konsentrasi yang di Jakarta ini benar-benar meningkat di permukaan, atau hanya melintas di lapisan atmosfer atas," jelas dia.
Guswanto menerangkan jika kualitas udaranya buruk, paling tidak sebaiknya terus gunakan masker serta mengurangi aktivitas di luar ruangan.
“Jadi imbauannya yaitu gunakan masker, baik yang KN95, KF94, atau N95, itu lebih efektif dalam menyaring partikel udara,” kata dia.
Untuk tingkat keparahannya sendiri, pihak BMKG mengatakan masih perlu memeriksa lebih lanjut. Misalnya dengan melihat dari jumlah hotspot atau area terbakar, serta kondisi kualitas udaranya.
Kualitas Udara Jakarta Memburuk, Pramono Pilih Tak Berspekulasi
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengamini kondisi udara di ibu kota belakangan ini dalam kondisi buruk. Meski demikian, dia tak menyebut hal ini akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
"Pertama, saya tidak mau menyalahkan siapa pun. Memang sekarang ini dalam dua tiga hari ini kondisi asap kita, kondisi udara kita mengalami kondisi yang memburuk," kata dia di Jakarta, Jumat (16/10/2026).
"Sebenarnya dari tiga hari yang lalu saya ingin menyampaikan kepada publik, tetapi saya tidak ingin kemudian ini malah menjadi pro kontra apakah ini disebabkan oleh apa. Namun, yang jelas bahwa betul sekarang ini kondisi yang tidak baik," sambung Pramono.
Pramono menegaskan, Jakarta telah memiliki ratusan alat pemantau emisi yang dapat mendeteksi kondisi udara, sehingga pemerintah daerah sudah memiliki data sebelum informasi dari BMKG dirilis. Menurut dia, informasi tersebut memperkuat indikasi memburuknya kondisi cuaca.
"Sebenarnya tanpa dari BMKG saja datanya sudah ada. Penegasannya bahwa ini cuacanya memburuk," jelas Pramono.