MSCI Soroti Kualitas Pasar Saham Indonesia, BEI Minta Klarifikasi

Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan kinerja emiten masih kuat.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 16 Oktober 2026, 15:56 WIB
Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Saidu Solihin, Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi, Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko BEI Abdul Munim, dan Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Yulianto Aji Sadono di Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Saidu Solihin menanggapi kekhawatiran para investor saham setelah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka proposal terkait klasifikasi pasar saham Indonesia.

"Kita tentunya akan memastikan, mekanisme pasar saat ini tetap berjalan dan kita akan sesegera mungkin berdiskusi untuk meminta klarifikasi teknis dengan MSCI,” ungkapnya di Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Ia menilai, kinerja BEI saat ini masih cukup kuat. Laba dalam laporan keuangan perusahaan Juni 2026 meningkat sekitar 9%, dengan aset agregat meningkat hampir 3%.

"Kinerja emiten kita masih cukup kuat dengan pertumbuhan pendapatan sales-nya meningkat 13% kalau secara agregat, pertumbuhan dari emiten-emiten kita per Juni 2026,” jelas Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi.

"Dari Rp 21,583 triliun menjadi Rp 22,128 triliun. Equity juga secara agregat masih menunjukkan peningkatan Rp 59,69 triliun, dari Rp 7,136 triliun menjadi Rp 7,196 triliun,” ungkap Saidu.

Terkait wacana perubahan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market, Iding menegaskan akan menggali lebih jauh apa yang sebenarnya menjadi perhatian MSCI.

“Kami akan gali lebih jauh lagi, dan komitmen kami adalah terus melakukan reformasi yang sudah kami lakukan,” ujar Iding.

Ia menambahkan akan memperbaiki kualitas, bukti, serta ukuran efektivitas perusahaan.

Sementara, ia menilai yang menjadi perhatian MSCI tak hanya soal skala, melainkan masalah kualitas pasar.

"Quality itu mengenai investability, transparency, integrity, itu menjadi pertimbangan juga. Mereka menganggap bahwa quality dari market kita perlu diuji lebih lanjut,” kata dia.

Mengenai proyeksi dana asing yang keluar, Iding mengatakan, hal tersebut belum dapat diperkirakan.

“Kami tidak bisa memproyeksikan dan tidak bisa memperkirakan berapa yang dibuat, mungkin itu bergantung pada keputusan investor global dengan kondisi seperti ini,” ujarnya, meski tetap berkomitmen untuk terus melakukan reformasi fundamental.

“Kami tidak bisa mengontrol investor asing mau masuk, mau keluar begitu. Kami fokus bahwa kami melakukan reformasi dengan benar,” ungkap Iding.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya