Liputan6.com, Jakarta - Presenter sekaligus komedian Irfan Hakim menjadi sorotan setelah menjual kaus bertema kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kaus tersebut membawa pesan kepedulian terhadap lingkungan, khususnya nasib orang utan yang habitatnya terancam akibat kerusakan hutan. Namun, langkah Irfan justru memicu pro dan kontra di media sosial.
Sebagian warganet mempertanyakan keputusan menjual merchandise di tengah isu karhutla. Mereka khawatir persoalan lingkungan yang berdampak pada manusia dan satwa liar justru dijadikan peluang untuk mencari keuntungan. Kritik juga muncul karena perhatian terhadap korban karhutla dinilai tidak seharusnya hanya terpusat pada satu jenis satwa.
Advertisement
"Mereka mungkin tak bisa bersuara seperti kita. Tapi mereka juga ingin hidup. Bersuara bisa dengan berbagai cara. Salah satunya, melalui kaos ini. Sebuah pengingat bagi kita dan mereka yang bertanggung jawab, bahwa ada kehidupan yang harus kita jaga. 100% keuntungan dari penjualan kaos ini akan didonasikan. Karena setiap kehidupan berhak untuk diselamatkan. Save my Home," tulis Irfan Hakim pada caption foto postingannya.
Irfan Hakim Tegaskan Keuntungan Penjualan Kaus Akan Didonasikan
Menanggapi kritik tersebut, Irfan memberikan klarifikasi melalui kolom komentar di media sosial. Ia menegaskan bahwa tujuan utamanya bukan meraup keuntungan dari penjualan kaus, melainkan menyebarkan pesan kepedulian terhadap lingkungan dan mengajak lebih banyak orang ikut berkontribus
“Bukan keuntungan penjualan yang menjadi tujuan. Tapi tujuan utamanya adalah menyebar pesan kebaikan melalui kaos ini. Istilahnya, saya sedang merekrut duta-duta alam yang menyampaikan tentang kerusakan. Dengan menggunakan kaos ini, mudah-mudahan banyak orang yang melihat dan tersadarkan untuk menyelamatkan orang utan,” jelas Irfan.
Irfan juga menegaskan bahwa 100 persen keuntungan dari penjualan kaus akan didonasikan. Dalam penjelasan lebih lanjut, ia menyebut dana tersebut direncanakan untuk membantu para pegiat konservasi di Kalimantan, termasuk Conservation Action Network (CAN) Borneo, dalam upaya menyelamatkan satwa endemik seperti orang utan, bekantan, dan rangkong.
Kaus bertajuk Save My Home edisi orang utan itu dibanderol Rp150 ribu, dengan periode pemesanan yang diumumkan pada 14 hingga 20 Oktober 2026. Desainnya menampilkan ilustrasi orang utan yang mengenakan masker sebagai gambaran dampak kebakaran hutan terhadap satwa dan habitatnya.
Kritik Warganet Jadi Pengingat Pentingnya Transparansi
Kontroversi ini memperlihatkan bahwa kampanye sosial yang melibatkan penjualan produk bisa memunculkan beragam respons. Di satu sisi, merchandise dapat menjadi sarana untuk menyebarkan pesan kepedulian dan mengajak masyarakat berkontribusi. Di sisi lain, publik juga ingin mengetahui dengan jelas bagaimana dana yang terkumpul akan digunakan.
Klarifikasi Irfan menjelaskan tujuan yang ingin ia capai melalui penjualan kaus tersebut. Transparansi mengenai jumlah donasi yang terkumpul, pihak penerima, dan realisasi penyalurannya nantinya dapat membantu publik melihat dampak nyata dari gerakan tersebut.
Pada akhirnya, perhatian terhadap karhutla tidak hanya berkaitan dengan penyelamatan orang utan, tetapi juga perlindungan ekosistem dan berbagai satwa yang kehilangan habitat akibat kebakaran. Berbagai bentuk dukungan dapat membantu, selama pesan kepedulian itu diikuti upaya nyata untuk menjaga lingkungan dan memastikan bantuan tersalurkan dengan baik.