Layanan Kesehatan Preventif Makin Jadi Kebutuhan, Ekosistem Kesehatan Harus Ikut Beradaptasi

Layanan kesehatan preventif tidak cukup berhenti di edukasi.

dr. Irwan Heriyanto, MARS, Chief of Medical Halodoc. Foto: Djoko

Liputan6.com, Jakarta - Menjaga kesehatan idealnya tidak dimulai ketika tubuh sudah memberi tanda ada yang salah. Banyak hal sebenarnya bisa dilakukan lebih awal, mulai dari menjaga pola hidup, melakukan pemeriksaan berkala, skrining, konsultasi, sampai vaksinasi. Menurut saya, perubahan cara pandang inilah yang membuat layanan kesehatan preventif semakin penting dalam keseharian.

Di saat yang sama, masyarakat juga semakin mudah mendapatkan informasi kesehatan. Mesin pencari, media sosial, platform kesehatan, sampai teknologi kecerdasan buatan membuat informasi tersedia hampir setiap saat. Tapi akses yang luas belum tentu membuat seseorang lebih mudah mengambil keputusan yang tepat.

Tantangannya justru ada di tahap berikutnya: bagaimana informasi itu bisa diterjemahkan menjadi tindakan.

Karena itu, layanan kesehatan preventif tidak cukup berhenti di edukasi. Masyarakat juga membutuhkan akses yang mudah ke konsultasi, skrining, pemeriksaan, vaksinasi, dan layanan lanjutan jika memang diperlukan.

Telemedicine bisa menjadi salah satu pintu masuk. Tidak semua keluhan perlu langsung berujung pada kunjungan fisik. Dalam banyak kasus, konsultasi awal dapat membantu seseorang memahami kondisinya, mendapatkan edukasi dari tenaga medis, sekaligus mengetahui apakah ia membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Data Indonesia Employee Health & Benefit Insights 2026 menunjukkan lebih dari 95% kasus kesehatan yang ditangani melalui telemedicine tidak membutuhkan tindak lanjut rawat jalan dalam 30 hari. Telemedicine juga menangani 24% volume kasus, tetapi hanya menyumbang 8% dari total biaya kesehatan.

Buat saya, data ini menunjukkan bahwa sebagian kebutuhan kesehatan dapat ditangani lebih awal melalui kanal yang sesuai.

Namun, layanan preventif tentu tidak berhenti pada konsultasi. Skrining, medical check-up, dan vaksinasi tetap punya peran penting dalam mengelola risiko sebelum masalah kesehatan berkembang lebih jauh.

Berdasarkan analisis data Halodoc, pada pasien yang sering mengalami gangguan pernapasan, frekuensi konsultasi berkurang hingga 66% setelah vaksinasi flu dalam periode 90 hari. Angka ini memberi gambaran bahwa langkah pencegahan tertentu bisa ikut memengaruhi kebutuhan layanan kesehatan di kemudian hari.

Karena itu, semakin mudah tindakan preventif diakses, semakin kecil pula hambatan seseorang untuk melakukannya. Konsultasi, pemeriksaan, maupun vaksinasi idealnya tidak terasa seperti proses yang rumit, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan menjaga kesehatan.

Perubahan perilaku masyarakat ini juga membawa konsekuensi bagi tenaga kesehatan. Pasien hari ini datang dengan lebih banyak informasi dan pertanyaan. Dokter tidak hanya menghadapi pasien yang datang karena keluhan, tetapi juga orang yang ingin memahami faktor risiko, membaca hasil pemeriksaan, mempertimbangkan skrining, atau sekadar memastikan informasi kesehatan yang mereka temukan memang benar.

Artinya, layanan kesehatan preventif juga membutuhkan dokter yang terus belajar. Perkembangan bukti ilmiah, praktik klinis, metode skrining, dan pengelolaan faktor risiko bergerak terus. Karena itu, Continuing Medical Education dan Continuing Professional Development menjadi semakin penting agar tenaga medis tetap bisa memberikan panduan yang relevan.

Studi The Asia Pacific Scholar oleh NUS Singapura pada 2024 terhadap tenaga medis di lima wilayah Asia, termasuk Indonesia, menemukan 81,46% responden Indonesia menilai partisipasi dalam CME/CPD dapat meningkatkan keterampilan dan kompetensi klinis. Sebanyak 86,34% juga menilai pengembangan profesional berkelanjutan membantu mereka memiliki pengetahuan terkini untuk memberikan pelayanan terbaik.

Namun, pembelajaran untuk dokter juga harus realistis. Dokter tetap punya tanggung jawab klinis dan waktu yang terbatas. Studi yang sama menunjukkan 31,16% responden Indonesia mempertimbangkan relevansi materi dengan praktik klinis sebagai faktor utama dalam memilih aktivitas CME/CPD. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran perlu hadir dalam format yang fleksibel, kredibel, mudah diakses, dan benar-benar dekat dengan kebutuhan praktik sehari-hari.

Pada akhirnya, layanan kesehatan preventif bukan hanya soal membuat masyarakat lebih sadar pentingnya menjaga kesehatan sejak dini. Yang lebih penting adalah memastikan kesadaran itu bisa diterjemahkan menjadi tindakan.

Teknologi bisa membantu memperpendek jarak antara kebutuhan dan layanan, tetapi bukan menggantikan peran dokter. Justru teknologi seharusnya membuat masyarakat lebih mudah mengambil langkah yang tepat, sambil membantu tenaga kesehatan terus berkembang mengikuti kebutuhan pasien.

Bagi saya, masa depan layanan kesehatan preventif akan ditentukan oleh seberapa baik kita menghubungkan empat hal sekaligus: informasi yang kredibel, akses yang mudah, tindakan pencegahan yang relevan, dan tenaga kesehatan yang terus belajar.

Ketika keempatnya berjalan bersama, sistem kesehatan tidak hanya menjadi lebih siap menangani penyakit, tetapi juga lebih mampu membantu orang tetap sehat.

 

 

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya