Australia dan Finlandia Bisa Jadi Rujukan Indonesia Tangani Kebakaran Hutan

BRIN menyoroti pentingnya deteksi dini, pemetaan, dan koordinasi antarlembaga.

oleh Zahraa DevanaDiterbitkan 15 Oktober 2026, 18:55 WIB
Lubang yang menganga dengan pijar merah menyala di lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan menjadi tanda adanya bahaya tersembunyi. (Foto: Tangkapan Layar Sosmed)

Liputan6.com, Jakarta - Peneliti Konservasi Hutan Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yayan Hadiyan mengatakan, penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya bergantung pada pemadaman saat api muncul.

Menurut dia, deteksi dini, pemetaan wilayah rawan, kesiapan personel, hingga koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting untuk mengendalikan kebakaran dan mengurangi dampaknya.

Yayan juga menyebut Australia dan Finlandia sebagai negara yang dapat menjadi rujukan Indonesia dalam penanganan kebakaran hutan, mulai dari sistem komando insiden hingga pemantauan dan pemetaan risiko kebakaran.

"Kalau terbaik untuk semua jenis kebakaran, rasa belum ada. Tetapi yang kadang jadi rujukan bisa Australia atau Finlandia," kata dia kepada Liputan6.com, Kamis (15/10/2026).

Mengutip laman Department of Biodiversity, Conservation and Attractions (DBCA) pemerintah Australia Barat, penanganan kebakaran hutan di Negara Kanguru tersebut memanfaatkan sistem komando terpadu yang dinamakan Australasian Inter-service Incident Management System (AIIMS), sebuah kerangka manajemen insiden untuk mengoordinasikan penanganan berbagai keadaan darurat, termasuk kebakaran hutan.

Dalam AIIMS, penanganan insiden dipimpin oleh satu pengendali yang mengarahkan operasi berdasarkan tujuan dan rencana bersama. Sistem ini juga menetapkan pembagian tanggung jawab dan fungsi secara jelas, dengan prinsip kesatuan komando, pengelolaan berbasis tujuan, serta fleksibilitas sesuai skala dan kompleksitas kejadian.

Melalui sistem tersebut, pengerahan sumber daya dapat ditingkatkan saat kebakaran meluas dan membutuhkan dukungan lintas instansi. Dengan demikian, seluruh pihak dapat bergerak berdasarkan satu rencana penanganan yang terkoordinasi.

Selain memperkuat koordinasi, Australia meningkatkan kesiapsiagaan melalui Seasonal Bushfire Outlook yang diterbitkan secara berkala oleh Australasian Fire and Emergency Service Authorities Council (AFAC).

Prakiraan ini memetakan wilayah berisiko kebakaran lebih tinggi dengan mempertimbangkan cuaca, iklim, curah hujan sebelumnya, suhu, jenis vegetasi, dan ketersediaan bahan bakar alami berupa tumbuhan kering.

Informasi tersebut menjadi dasar bagi otoritas untuk menentukan prioritas persiapan, mulai dari perencanaan sumber daya dan kesiapan petugas hingga penyampaian informasi risiko kepada masyarakat.

Meski demikian, AFAC menegaskan bahwa prakiraan musiman bukan prediksi pasti mengenai lokasi dan waktu kebakaran. Kebakaran berbahaya tetap dapat terjadi di wilayah dengan tingkat risiko normal.

Australia juga menerapkan pembakaran terkendali (prescribed burning) di lokasi dan kondisi tertentu untuk mengurangi penumpukan bahan bakar vegetasi.

Praktik ini direncanakan dengan mempertimbangkan cuaca, tujuan pengelolaan lahan, dan risiko penyebaran api. Di sejumlah wilayah, cultural burning turut melibatkan masyarakat adat dengan memanfaatkan pengetahuan tradisional dalam pengelolaan api dan lanskap. Penerapannya disesuaikan dengan karakteristik lingkungan setempat.

 

 

 

 

 

 

 

 

Negara Finladia

Sementara itu, dikutip dari siaran pers bersama Kementerian Pertanian dan Kehutanan serta Kementerian Dalam Negeri Finlandia, negara tersebut mengandalkan peringatan dini, pemantauan satelit, dan penerbangan observasi untuk mendeteksi kebakaran hutan sejak awal.

Finnish Meteorological Institute menerbitkan peringatan kebakaran saat permukaan tanah cukup kering berdasarkan indeks kelembapan lapisan tanah atas sedalam sekitar 3–6 sentimeter. Saat peringatan berlaku, masyarakat dilarang menyalakan api terbuka untuk mengurangi risiko kebakaran.

Finlandia juga mengembangkan peta kebakaran hutan tiga dimensi melalui Finnish Forest Centre dengan memanfaatkan data hutan dan pemindaian laser.

Peta ini membantu mengidentifikasi wilayah rawan, memperkirakan potensi penyebaran api berdasarkan kondisi medan, serta menunjukkan akses jalan hutan dan sumber air untuk pemadaman.

Selain itu, jaringan jalan hutan yang rapat memudahkan petugas menjangkau lokasi kebakaran. Penanganan dilakukan melalui kerja sama layanan penyelamatan dengan kelompok kesiapsiagaan Finnish Forest Centre, pemadam kebakaran kontrak, instansi terkait, dan relawan jika diperlukan.

Sementara itu, dilansir dari Badan Pertanahan Nasional Finlandia, negara tersebut tengah mengembangan teknologi drone dan kecerdasan buatan (AI) melalui proyek penelitian FireMan. Teknologi ini dirancang untuk mendeteksi indikasi kebakaran, mengirimkan informasi secara langsung kepada petugas, serta mendukung koordinasi dan penentuan langkah pemadaman.

Dalam pengujiannya, drone merekam kondisi hutan sebelum, selama, dan setelah pembakaran. Rekaman tersebut digunakan untuk melatih sistem AI mengenali asap dan memantau perkembangan api.

Namun, teknologi ini masih dalam tahap pengembangan dan pengujian, sehingga belum dapat dianggap sebagai bagian rutin dari seluruh layanan pemadam kebakaran Finlandia.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya