Dikepung Asap Kebakaran, Pelajar di Lampung Tengah Belajar dari Rumah

Asap berasal dari kebakaran Taman Nasional Way Kambas.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 15 Oktober 2026, 13:48 WIB
Pelajar di Lampung Tengah belajar daring

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, mulai berdampak terhadap aktivitas pendidikan di Kabupaten Lampung Tengah. Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah membuat lima sekolah di dua kecamatan terpaksa menerapkan pembelajaran daring.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Lampung Tengah Nur Rohman mengatakan, kebijakan belajar dari rumah diterapkan secara kondisional dengan mempertimbangkan tingkat gangguan kabut asap di lingkungan sekolah.

"Kami menginformasikan kepada beberapa satuan pendidikan atau sekolah untuk dikondisikan dalam posisi sesuatu yang membahayakan siswa, murid maupun proses pembelajaran. Kepala satuan pendidikan bisa mengambil tindakan terukur, misalnya proses pembelajarannya dipindah secara daring jika kondisi di satuan pendidikan membahayakan," ujar Nur Rohman, Kamis (15/10/2026).

Nur Rohman menyebut wilayah yang terdampak kabut asap cukup tebal berada di Kecamatan Bandar Surabaya dan Seputih Surabaya, Lampung Tengah.

Berdasarkan laporan sebelumnya, sekitar lima hingga enam satuan pendidikan di kedua kecamatan tersebut telah menyampaikan kondisi lingkungan sekolah yang terdampak asap dan menerapkan pembelajaran dari rumah.

Namun, Disdikbud Lampung Tengah belum memperoleh pembaruan data mengenai jumlah sekolah yang masih menjalankan pembelajaran daring maupun kemungkinan adanya sekolah tambahan yang mengambil kebijakan serupa.

"Sehari ini saya belum meng-update apakah berapa yang sekarang sudah bisa masuk atau justru ada tambahan satuan pendidikan yang melakukan pembelajaran di rumah atau daring," jelasnya.

Gangguan kabut asap terhadap kegiatan pendidikan dilaporkan terjadi sekira lima hari hingga satu minggu terakhir. Sejumlah sekolah mengeluhkan kondisi asap yang cukup tebal sehingga menghambat pelaksanaan pembelajaran secara langsung.

Menurut Nur Rohman, keputusan untuk mengalihkan pembelajaran ke sistem daring disesuaikan dengan situasi di masing-masing sekolah, bukan diberlakukan secara seragam di seluruh wilayah Lampung Tengah.

"Ada proses pembelajaran yang terkendala karena kabut asap yang agak tebal. Jadi kebijakan tersebut diserahkan kepada masing-masing satuan pendidikan, dengan menyesuaikan kondisi lingkungan sekolah," terangnya.

Meski siswa mengikuti pembelajaran dari rumah, Disdikbud Lampung Tengah menegaskan pelayanan pendidikan harus tetap berjalan. Tenaga pendidik juga diminta memastikan kesiapan sekolah dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

"Termasuk tenaga pendidik. Tapi tetap prosesnya bagi kita, tenaga pendidik juga harus memposisikan di satuan pendidikan untuk tetap ada pelayanan dalam posisi kesiapan," ungkap Nur Rohman.

Disdikbud Lampung Tengah akan terus memantau kondisi kabut asap di wilayah terdampak untuk menentukan langkah selanjutnya. Apabila situasi membaik dalam satu hingga dua hari, informasi tersebut akan diteruskan kepada sekolah agar kegiatan pembelajaran dapat disesuaikan kembali.

Nur Rohman menegaskan, keselamatan peserta didik dan kelangsungan proses belajar mengajar menjadi pertimbangan utama dalam penerapan kebijakan tersebut.

"Betul, terutama pada anak-anak didik maupun proses pembelajarannya," ujarnya.

Hingga Kamis (15/10), Disdikbud Lampung Tengah masih menunggu perkembangan kondisi di lapangan untuk memastikan apakah sekolah yang menerapkan pembelajaran daring dapat kembali menggelar kegiatan belajar mengajar secara tatap muka.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya