Ibu Manohara Ungkap Putri Sulungnya Stres Usai Alami Dugaan Premanisme, Sempat Tak Bisa Tidur

Ibunda Manohara mengaku takut menghadapi situasi yang dinilainya mengarah pada tindakan arogan dan premanisme.

oleh m.altaf.jauharDiterbitkan 15 Oktober 2026, 13:01 WIB
Ibunda Manohara, Daisy Fajarina. (M Altaf Jauhar/ Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Tindakan dugaan premanisme yang diklaim ibunda Manohara Odelia Pinot, Daisy Fajarina, terjadi di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, berdampak pada kondisi psikologis keluarga. Daisy mengungkapkan bahwa putri sulungnya, Dewi, mengalami stres hingga kesulitan tidur akibat persoalan yang mereka hadapi.

Daisy mengaku takut menghadapi situasi yang dinilainya mengarah pada tindakan arogan dan premanisme. Ia meminta petunjuk kepada kuasa hukumnya, Erles Rareral, untuk mencari jalan keluar dari persoalan tersebut.

"Tapi kan dengan cara mereka premanisme, arogan begini, ya Mama kan juga takut kan. Kita ya ngapain sih mau ribut gitu ya, takutlah mau di situ. Makanya Mama datang ke Bang Erles untuk meminta petunjuk, karena beliau kan juga udah seperti saudara juga," ungkap Daisy di Bareskrim Polri, Selasa (13/10/2026).

"Saya bilang, 'Bagaimana ini Dinda, kok saya diperlakukan seperti ini banget gitu.' Kan kasihan juga anak Mama kan, Mbak Dewi gitu yang jadi stres juga dia. Kita juga baru berusaha di situ masih 5 bulan ya," Daisy menyambung.

Daisy juga mengenang perjuangan dirinya bersama sang putri untuk membangun usaha kuliner tersebut. Ia merasa sedih karena usaha yang baru berjalan sekitar lima bulan itu justru menghadapi persoalan yang menghambat aktivitas bisnis mereka.

"Kita juga, gimana ya, maksudnya memulai usaha di situ juga nggak mudah kan gitu. Ya kasihan gitu ya, kasihan putri saya lah. Banyak hal-hal yang kami perjuangkan sampai akhirnya alhamdulillah kita bisa membuka tempat di situ gitu loh. Tapi kok jadi kayak diginiin gitu anak saya gitu. Itu aja sih," kata Daisy.

 


Gagal Saat Berkomunikasi

Ibunda Manohara Resmi Adukan Dugaan Premanisme yang Dialaminya ke Bareskrim Polri

Di tengah konflik tersebut, putri Daisy berusaha mencari solusi dengan menghubungi pelanggan yang memesan air dari restoran mereka. Ia berharap, dengan pelanggan mengirim perwakilan dapat membantu menyelesaikan persoalan, dan memungkinkan barang pesanan keluar dari lokasi.

"Nah, putri saya menghubungi beliau yang memesan air ini, lalu beliau kirim lah perwakilan dari beliau untuk mengambil. Kira-kira, oke Bunda siapa tahu dengan saya mengirim perwakilan saya, mungkin mereka nggak percaya, siapa tahu dengan saya mengirim perwakilan saya mereka akan percaya dan akan memberikan air itu untuk dikeluarkan. Ternyata tetap tidak, nggak bisa. Jadi mereka arogan banget gitu," jelas Daisy.

Lanjut Baca:

Daisy menjelaskan, restoran keluarganya sudah hampir sebulan tidak beroperasi sejak 2 Oktober 2026 akibat situasi pembongkaran gedung dan berbagai kendala lainnya. Kondisi tersebut membuat pemasukan usaha mereka terhenti, sementara keluarga tetap berupaya menjaga hubungan baik dengan pelanggan. "Saya hanya, memang tugas kami, pekerjaan kami adalah restoran gitu loh, dan restoran kita ini udah hampir 1 bulan dari sejak tanggal 2 kita udah nggak operasi lagi karena situasi pembongkaran gedung dan lain-lain sebagainya. Sedikit sekali yang kita dapat income dari air ini, tapi kita harus menjaga relationship dengan customer kita kan,' gitu. 'Oh tetap tidak bisa," akunya. Persoalan tersebut turut memengaruhi kondisi keluarga Daisy di rumah. Ia mengaku kesulitan beristirahat karena memikirkan masalah yang terjadi, terlebih saat melihat kondisi putri sulungnya yang mengalami stres. "Eh, ya gimana ya, orang discuss, semalem aja tidurnya nggak bisa tidur ngadepin Kak Dewi yang stres kan dia, anak saya yang pertama," imbuhnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya