Laporan Liputan6.com dari Turki: Menyimak Upaya Nol Emisi Industri Maritim Menuju COP31

Berbekal sejarah panjang industri galangan kapal, Turki kini berupaya memperluas penerapan teknologi ramah lingkungan di sektor maritim.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 15 Oktober 2026, 11:21 WIB
Sekretaris Jenderal Turkish Shipbuilders' Association (GISBIR) Mehtap Ozdemir saat memberikan pemaparan kepada media internasional di Istanbul, Turki, Selasa (13/10/2026). (Dok. Liputan6.com/Khairisa Ferida)

Liputan6.com, Istanbul - Industri maritim Turki terus mengembangkan berbagai teknologi dan infrastruktur ramah lingkungan sebagai bagian dari upaya mengurangi emisi karbon. Langkah tersebut tidak hanya dilakukan melalui pembangunan kapal bertenaga listrik, tetapi juga mencakup penggunaan bahan bakar alternatif, pengembangan galangan kapal, hingga rencana mewujudkan pelabuhan nol emisi.

Berbagai upaya tersebut dipaparkan oleh Turkish Shipbuilders' Association (GISBIR) kepada jurnalis internasional dalam kunjungan ke kantornya di Istanbul, Selasa (13/10/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program "On the Road to COP31: Sustainable Future International Media Program", menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP31) yang akan diselenggarakan di Antalya, Turki, pada 9-20 November 2026.

Program yang dikoordinasikan Direktorat Komunikasi Kepresidenan Turki bersama Kementerian Lingkungan Hidup, Urbanisasi, dan Perubahan Iklim itu melibatkan 20 jurnalis dari 15 negara, termasuk Indonesia. Para peserta diajak melihat langsung praktik keberlanjutan yang dikembangkan Turki, termasuk di sektor maritim.

Sekretaris Jenderal GISBIR Mehtap Ozdemir menjelaskan bahwa industri galangan kapal memiliki peran penting dalam mendukung dekarbonisasi atau pengurangan emisi karbon di sektor transportasi laut.

Menurutnya, upaya tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh ekosistem maritim, mulai dari galangan kapal, pemilik dan operator kapal, hingga industri daur ulang kapal.

Ozdemir menuturkan industri galangan kapal Turki telah menghasilkan berbagai jenis kapal dengan teknologi yang lebih ramah lingkungan, termasuk kapal listrik, kapal hibrida, kapal berbahan bakar alternatif, serta kapal yang memanfaatkan bantuan tenaga angin untuk penggeraknya.

Ia menyebut lebih dari 60 persen kapal yang dibangun untuk pasar ekspor termasuk dalam kategori kapal inovatif dan ramah lingkungan. Sebagian di antaranya telah mengadopsi teknologi yang memungkinkan penggunaan metanol, sistem propulsi hibrida, maupun teknologi lain untuk mendukung pengurangan emisi.

Meski demikian, penggunaan teknologi tersebut tidak serta-merta menjadikan seluruh kapal bebas emisi. Tingkat pengurangan emisi bergantung pada teknologi dan jenis bahan bakar yang digunakan.

Ambisi Mengembangkan Pelabuhan Nol Emisi

Selain mengembangkan teknologi kapal, industri maritim Turki berupaya memperluas penerapan energi bersih ke kawasan pelabuhan.

Salah satunya melalui rencana pengembangan pelabuhan nol emisi di Tuzla, Istanbul, dengan konsep Zero Emission Electric Port atau Z-Port.

Perwakilan Navtek Naval Technologies Dilek Savas menjelaskan bahwa konsep tersebut dirancang dengan mengintegrasikan berbagai teknologi energi bersih, mulai dari turbin angin, panel surya, sistem penyimpanan energi berbasis baterai, hingga fasilitas produksi dan penyimpanan hidrogen.

Rencana tersebut mencakup infrastruktur penyaluran energi serta penyediaan sambungan listrik dari darat bagi kapal pesiar dan kapal kargo yang sedang bersandar. Dengan demikian, kapal dapat memperoleh pasokan energi dari fasilitas pelabuhan sebagai alternatif penggunaan mesin berbahan bakar fosil selama berada di dermaga.

Namun, pengembangan pelabuhan nol emisi membutuhkan investasi yang besar.

Dalam sesi tanya jawab, Ozdemir menyampaikan bahwa pihaknya menargetkan penyelesaian proyek tersebut dalam waktu sekitar tiga hingga lima tahun, bergantung pada ketersediaan pendanaan.

Ia menyebut kebutuhan dana sekitar 17 juta euro untuk melengkapi berbagai fasilitas yang direncanakan, termasuk dua kapal tunda listrik, satu kapal tunda berbasis hidrogen, tiga kapal untuk kegiatan tambat dan penanganan kapal, fasilitas elektrolisis untuk produksi hidrogen, sistem penyimpanan energi, serta infrastruktur pendukung lainnya.

Menurutnya, apabila pendanaan tersedia, fasilitas yang direncanakan tersebut diperkirakan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua tahun.

Teknologi yang Sudah Diterapkan

Seorang jurnalis mengabadikan suasana di atas kapal tunda listrik saat mengikuti kunjungan media internasional di Teluk Tuzla, Istanbul, Turki, Selasa (13/10/2026). (Dok. Liputan6.com/Khairisa Ferida)

Di tengah pengembangan pelabuhan nol emisi, sebagian teknologi untuk mengurangi emisi kegiatan maritim telah diterapkan di Tuzla.

Salah satu contohnya adalah GISAS POWER, kapal tunda bertenaga listrik yang dirancang oleh insinyur Turki dan dibangun oleh Navtek. Kapal yang mulai beroperasi pada 2020 itu diperkenalkan GISBIR sebagai kapal tunda listrik penuh pertama di dunia.

Pengembangan teknologi tersebut kemudian berlanjut dengan pengoperasian tiga kapal tunda listrik lainnya pada 2023, masing-masing bernama GISAS POWER 2, GISAS POWER 3, dan GISAS POWER 4.

Dengan tambahan tersebut, sebanyak empat kapal tunda listrik telah digunakan untuk mendukung kegiatan operasional pelabuhan di Tuzla.

Dalam presentasinya, Savaş menyampaikan data mengenai manfaat lingkungan dari penggunaan kapal-kapal tersebut.

Berdasarkan data operasional hingga 31 Mei 2026 yang dipaparkan Navtek, kapal GISAS POWER pertama disebut telah menghasilkan penghematan emisi karbon dioksida sekitar 1.221 ton dibandingkan penggunaan kapal konvensional.

Sementara itu, tiga kapal lainnya masing-masing dilaporkan menghasilkan penghematan emisi sekitar 400 ton, 530 ton, dan 400 ton karbon dioksida.

Navtek menyampaikan bahwa penggunaan kapal tunda listrik memberikan keuntungan dari sisi efisiensi biaya bahan bakar serta pemeliharaan dan perbaikan.

Meski demikian, investasi awal untuk pengadaan kapal listrik masih lebih tinggi dibandingkan kapal konvensional.

Dalam sesi diskusi, Ozdemir menjelaskan bahwa biaya pembangunan kapal tunda listrik dengan kemampuan tarik 30 ton berada di kisaran 6,5 juta euro. Ia menyebut investasi awalnya sekitar 30 hingga 50 persen lebih tinggi dibandingkan kapal tunda konvensional.

Kapal-kapal tersebut menggunakan baterai yang dirancang dengan masa pakai sekitar 10 tahun dan memerlukan fasilitas pengisian daya khusus di pelabuhan.

Navtek juga mengembangkan sistem pengisian daya cepat. Berdasarkan penjelasan Savas, kapal tunda listrik berkemampuan tarik 30 ton membutuhkan sekitar 55 menit untuk pengisian daya, sedangkan kapal berkemampuan tarik 45 ton memerlukan sekitar satu setengah jam.

Dalam sesi tanya jawab, pihak Navtek menjelaskan bahwa kapal dapat beroperasi menggunakan baterai selama sekitar lima jam, meskipun pengisian daya dilakukan setelah setiap operasi.

Usai pemaparan, rombongan jurnalis internasional berkesempatan menaiki GISAS POWER untuk mengikuti pelayaran singkat di Teluk Tuzla sekaligus melihat langsung penerapan teknologi tersebut.

Infrastruktur dan Pendanaan Jadi Tantangan

Meski teknologi kapal listrik telah diterapkan, perluasan penggunaannya masih menghadapi tantangan, terutama kesiapan jaringan listrik untuk memenuhi kebutuhan energi kapal dan kegiatan pelabuhan.

Ozdemir menyebutkan bahwa pelabuhan dengan kebutuhan energi besar mungkin memerlukan investasi tambahan untuk meningkatkan kapasitas jaringan listrik.

Tanpa infrastruktur kelistrikan yang memadai, penerapan teknologi listrik dalam skala lebih luas akan sulit dilakukan.

Untuk pengoperasian kapal tunda listrik di Tuzla, Ozdemir menuturkan kapasitas jaringan yang tersedia saat ini masih mencukupi kebutuhan pengisian daya. Ia menjelaskan bahwa listrik yang digunakan untuk pengisian baterai berasal dari jaringan listrik dan didukung sertifikasi energi terbarukan I-REC.

Selain infrastruktur, tantangan lainnya adalah keputusan investasi dari para pemilik kapal.

Menurut Ozdemir, industri galangan kapal memiliki kemampuan mengembangkan teknologi dan membangun kapal yang lebih ramah lingkungan. Namun, penerapannya tetap membutuhkan permintaan dari pemilik kapal serta mekanisme pembiayaan yang mendukung.

Kapal Kecil Juga Perlu Mendapat Perhatian

Dalam diskusi bersama jurnalis internasional, Ozdemir turut menyoroti perhatian dunia terhadap pengurangan emisi transportasi laut yang selama ini banyak berfokus pada kapal-kapal besar.

Menurutnya, kapal yang beroperasi di wilayah pesisir dan perairan domestik juga perlu menjadi bagian dari upaya dekarbonisasi.

Kapal tunda, feri, kapal pandu, serta berbagai kapal berukuran kecil dan menengah memiliki kebutuhan energi yang besar meskipun ukuran fisiknya jauh lebih kecil dibandingkan kapal kargo yang melintasi samudra.

Ozdemir menilai negara-negara dapat mulai mengurangi emisi dengan memperbarui armada kapal yang beroperasi pada rute pendek.

Menurutnya, teknologi baterai sudah cukup matang untuk diterapkan pada sejumlah jenis kapal kecil, terutama yang memiliki wilayah operasi terbatas dan didukung fasilitas pengisian daya.

Namun, penerapannya tetap harus mempertimbangkan karakteristik pelayaran, kebutuhan energi, serta ketersediaan infrastruktur.

Ia menilai pula perlu dilakukan kajian mengenai konsumsi energi dan emisi kapal-kapal yang beroperasi di perairan domestik agar kontribusinya terhadap emisi sektor maritim dapat dipahami dengan lebih baik.

Perlindungan Ekosistem Laut

Upaya keberlanjutan industri maritim Turki mencakup perlindungan ekosistem laut, bukan hanya pengurangan emisi dari penggunaan energi.

GISBIR, misalnya, mendukung kegiatan pelestarian lamun Posidonia oceanica, tumbuhan laut yang memiliki peran penting bagi ekosistem perairan.

Ozdemir mengungkapkan bahwa pihaknya juga mengembangkan konsep penanganan limbah kapal wisata di kawasan pesisir.

Salah satu gagasannya adalah proyek Blue Bird, yang dirancang menggunakan kapal-kapal kecil bertenaga listrik untuk mengumpulkan limbah dari yacht atau kapal wisata.

Limbah tersebut nantinya direncanakan dipindahkan ke kapal induk yang dilengkapi fasilitas pengolahan air limbah sebelum air hasil pengolahan dibuang sesuai ketentuan yang berlaku.

Ozdemir menyebut konsep tersebut telah dikaji untuk kawasan Gocek, salah satu wilayah wisata pesisir Turki dan disampaikan kepada kementerian terkait. Namun, proyek tersebut belum direalisasikan dan masih membutuhkan dukungan pendanaan.

GISBIR juga mendorong penggunaan sistem tambat kapal untuk mengurangi kerusakan habitat laut akibat penggunaan jangkar di kawasan wisata.

Menjelang COP31, GISBIR berharap pengalaman dan tantangan sektor maritim dapat menjadi bagian dari pembahasan internasional.

Ozdemir menyampaikan bahwa pihaknya telah mengajukan permohonan untuk berpartisipasi dalam sejumlah panel diskusi. Salah satu topik yang diharapkan dapat dibahas berkaitan dengan perlindungan Posidonia oceanica.

Ia berharap forum tersebut membuka peluang kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memperluas penerapan teknologi ramah lingkungan di sektor maritim.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya