Kondisi Paus Leo XIV Usai Operasi Kanker Paru-paru

Kondisi Paus Leo XIV membaik setelah operasi kanker paru-paru.

oleh Septian DenyDiterbitkan 15 Oktober 2026, 20:00 WIB
Audiensi ini merupakan salah satu tradisi penting dalam kehidupan Gereja Katolik. (Filippo MONTEFORTE/AFP)

Liputan6.com, Vatikan - Paus Leo XIV mulai berjalan dan kembali menjalani pola makan normal setelah menjalani operasi pengangkatan massa kanker di paru-parunya. Vatikan menyatakan, kondisi pemimpin Gereja Katolik berusia 71 tahun itu menunjukkan pemulihan sesuai rencana.

Selain itu, Paus Leo juga merayakan misa di rumah sakit pada Rabu. Meski demikian, masih belum diketahui apakah kanker yang dideritanya telah menyebar ke bagian tubuh lain. Kondisi tersebut turut memunculkan pertanyaan mengenai rencana kunjungannya ke Amerika Latin bulan depan.

Dikutip dari APNews, Kamis (15/10/2026), Dokter pribadi Paus, Luigi Carbone, bersama kepala bedah toraks Rumah Sakit Gemelli, Stefano Margaritora, mengatakan hasil tes darah dan rontgen dada menunjukkan Leo pulih secara normal.

“Bapa Suci menjalani fisioterapi pernapasan dan mulai berjalan di kamarnya. Ia kembali menjalani pola makan normal serta telah sarapan dan makan siang,” kata kedua dokter tersebut.

Operasi yang dilakukan pada Selasa mengonfirmasi bahwa Leo menderita adenokarsinoma paru-paru, jenis kanker paru-paru yang paling umum. Tim bedah mengangkat lobus bawah paru-paru kanannya.

Paru-paru kanan memiliki tiga lobus, sedangkan paru-paru kiri memiliki dua lobus. Setelah satu lobus diangkat, jaringan paru-paru yang tersisa dapat secara bertahap menyesuaikan diri untuk mengompensasi bagian yang hilang, terutama pada orang yang sehat dan aktif secara fisik.

Leo diketahui memiliki ketertarikan terhadap olahraga, termasuk bermain tenis setiap pekan dan berenang.

Vatikan pada Rabu malam juga mengumumkan bahwa Paus Leo telah merayakan misa bersama para sekretarisnya pada sore hari. Misa tersebut berlangsung di sebuah kapel khusus yang disiapkan untuknya di lantai 10 rumah sakit.

Belum Diketahui Apakah Kanker Telah Menyebar

Para ahli mengatakan, beberapa kelenjar getah bening Paus Leo kemungkinan juga telah diangkat dan diperiksa untuk mengetahui apakah kanker sudah menyebar. Namun, hasil pemeriksaan tersebut sejauh ini belum diumumkan kepada publik.

Pakar kanker paru-paru dari Lombardi Comprehensive Cancer Center di Universitas Georgetown, Dr. Stephen Liu, mengatakan hasil pemeriksaan akan menjadi panduan bagi dokter untuk menentukan pengobatan apabila kanker telah menyebar.

Pilihan pengobatan yang tersedia meliputi kemoterapi, kombinasi kemoterapi dan imunoterapi, atau terapi target. Terapi target menggunakan obat berbentuk pil untuk mengobati kanker dengan karakteristik tertentu.

Liu, yang tidak terlibat dalam perawatan Paus Leo, mengatakan adenokarsinoma memiliki prognosis paling baik dibandingkan jenis kanker paru-paru lainnya.

“Meski kita sudah mengetahui diagnosisnya, sekarang kita perlu mengetahui stadiumnya,” kata Liu.

“Kita perlu mengetahui seberapa besar tumornya, berapa banyak bagian paru-paru yang terdampak. Apakah hanya ada satu nodul atau lebih dari satu, dan apakah kelenjar getah beningnya mengandung sel kanker?”

Sementara itu, Kepala Onkologi Radiasi Rumah Sakit San Pietro Fatebenefratelli di Roma, Dr. PierCarlo Gentile, mengatakan operasi dada dengan bantuan video yang minim invasif, seperti yang dijalani Paus Leo, biasanya membutuhkan waktu pemulihan 15 hingga 20 hari.

Menurut dia, komplikasi pascaoperasi, termasuk infeksi, jarang terjadi.

 

Kunjungan ke Amerika Latin Berpotensi Berubah

Ia mengajak semua pihak yang berkehendak baik untuk menghormati setidaknya satu hari perdamaian pada Hari Natal, tanpa senjata dan kekerasan. Tampak dalam foto, Paus Leo XIV menyampaikan pesannya selama Misa Malam Natal di Basilika Santo Petrus, Vatikan. (AP Photo/Gregorio Borgia)

Vatikan belum mengumumkan perubahan terhadap rencana perjalanan Paus Leo ke Uruguay, Argentina, dan Peru pada 6-17 November.

Namun, Presiden Peru Keiko Fujimori pada Rabu mengatakan diagnosis kanker dan proses pemulihan Paus Leo berpotensi memengaruhi kunjungan tersebut. Meski demikian, ia berharap perjalanan itu tetap terlaksana.

Leo pernah menghabiskan dua dekade sebagai misionaris di Peru. Ia juga memiliki kewarganegaraan Peru dan dicintai oleh umat Katolik di negara tersebut.

“Kami memahami bahwa pemulihan ini akan memakan waktu beberapa pekan, lebih lama dari yang diperkirakan,” kata Fujimori kepada wartawan.

“Kami juga memahami bahwa mungkin ada beberapa perubahan pada jadwal kunjungannya.”

Rencana perjalanan tersebut menjadi lawatan terpanjang selama masa kepausan Leo. Perjalanan itu mencakup jarak lebih dari 31.000 kilometer, dengan 12 penerbangan dan dua perjalanan menggunakan helikopter melintasi tiga negara. Perjalanan di Peru juga akan melibatkan perubahan ketinggian yang cukup signifikan.

Fujimori mengatakan jutaan warga Peru mendoakan kesembuhan Paus Leo dan menantikan pengumuman lebih lanjut dari Vatikan.

“Kami berharap pemulihannya berlangsung cepat dan kunjungannya dapat terlaksana. Namun, kami juga akan memahami jika hal itu tidak memungkinkan,” ujarnya.

“Yang terpenting adalah Yang Mulia kembali sehat.”

Para ahli bedah onkologi biasanya menyarankan pasien untuk tidak melakukan penerbangan selama tiga pekan setelah menjalani operasi.

Liu mengatakan, jika kanker Paus Leo berada pada stadium pertama, ia masih mungkin menyelesaikan perjalanan tersebut. Namun, jika diperlukan pengobatan tambahan, ia kemungkinan akan menyarankan agar perjalanan itu dibatalkan.

“Jika ini stadium satu, ia bisa menyelesaikan perjalanan tersebut. Jika diperlukan pengobatan lebih lanjut, kemungkinan saya akan menyarankan agar ia tidak melakukan perjalanan itu,” kata Liu.

Dokter Telah Mengambil Sampel Jaringan Sebelum Operasi

Paus Leo menunjukkan tingkat keterbukaan yang tidak biasa mengenai masalah kesehatan serius pertama yang diumumkan secara terbuka selama 17 bulan masa kepausannya.

Dalam doa tengah hari pada Minggu, yang disiarkan langsung melalui televisi, Leo mengungkapkan bahwa dokter menemukan nodul atau pertumbuhan jaringan di paru-parunya. Namun, saat itu ia tidak mengungkapkan seluruh informasi yang telah diketahuinya.

Buletin medis yang dirilis pada Selasa menyebutkan bahwa pemeriksaan sebelum operasi telah membuat dokter mencurigai adanya kanker. Dugaan tersebut kemudian dikonfirmasi melalui operasi.

Dalam pengumumannya pada Minggu, Leo tidak menggunakan kata kanker. Ia hanya menggambarkan nodul tersebut berada pada tahap awal dan terlokalisasi.

Vatikan kemudian mengungkapkan bahwa pemeriksaan sebelum operasi mencakup biopsi bronkoskopi robotik yang dikenal sebagai bronkoskopi ION. Prosedur tersebut menunjukkan bahwa dokter telah mengambil sampel jaringan untuk menilai apakah massa di paru-paru itu bersifat kanker.

Kepala Bedah Toraks Institut Onkologi Eropa di Milan, Dr. Lorenzo Spaggiari, mengatakan prosedur tersebut memerlukan anestesi umum dan harus dilakukan di rumah sakit yang memiliki peralatan canggih tersebut. Menurut dia, Rumah Sakit Gemelli telah memiliki peralatan itu selama sekitar satu tahun.

Vatikan tidak mengungkapkan kapan Leo menjalani pemeriksaan diagnostik tersebut. Pemeriksaan itu juga mencakup CT scan dada dengan kontras dan pemindaian PET.

Kepala Bedah Onkologi Montefiore Einstein di New York, Dr. Brendon Stiles, mengatakan pemindaian PET dapat digunakan untuk memastikan penyakit tidak menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Menurut Stiles, hasil pemindaian dan biopsi diharapkan dapat memberikan keyakinan bahwa kanker yang diderita Paus Leo masih berada pada stadium pertama.

 

Keterbukaan Paus Leo Berbeda dari Tradisi Vatikan

Selama bertahun-tahun, Vatikan dikenal tertutup mengenai kondisi kesehatan para paus dan mengendalikan ketat informasi yang dirilis kepada publik.

Praktik tersebut terangkum dalam ungkapan populer di Italia: “Paus baik-baik saja sampai ia meninggal.”

Paus Yohanes XXIII meninggal pada 1963, hampir setahun setelah dokter mendiagnosisnya menderita kanker perut. Namun, diagnosis tersebut dirahasiakan pada saat itu.

Sementara itu, Paus Yohanes Paulus II meninggal pada 2005 setelah bertahun-tahun mengalami dampak penyakit Parkinson yang terlihat jelas. Vatikan baru mengonfirmasi penyakit tersebut setelah ia meninggal.

Paus Fransiskus tampak lebih terbuka mengenai masalah kesehatannya. Ia pernah memberikan wawancara mendalam kepada seorang dokter Argentina untuk sebuah buku yang membahas kondisi fisik dan mentalnya.

Namun, menjelang akhir hayatnya, Fransiskus juga membatasi secara ketat informasi kesehatan yang dirilis kepada publik.

Karena itu, keputusan Leo untuk mengumumkan sendiri keberadaan nodul di paru-parunya dan rencana operasi menjadi langkah yang signifikan.

“Itu benar-benar sebuah revolusi. Seolah-olah ia sendiri yang sedang membacakan buletin medis,” kata Giovanni Maria Vian, sejarawan Gereja sekaligus mantan pemimpin redaksi surat kabar Vatikan, L'Osservatore Romano.

Vian, yang menjadi bagian dari tim komunikasi Vatikan pada 2007-2018, mengatakan kecenderungan Vatikan untuk merahasiakan informasi kesehatan dipengaruhi pertimbangan praktis dan budaya.

Ia menilai Vatikan merupakan institusi berusia 2.000 tahun dengan budaya Eropa. Menurut dia, masyarakat Eropa cenderung lebih tertutup mengenai masalah kesehatan dibandingkan masyarakat Amerika Serikat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya