Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia turun lebih dari 1% pada perdagangan Rabu, memperpanjang pelemahan selama tiga sesi berturut-turut. Penurunan ini terjadi setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), pada Oktober.
Mengutip CNBC, Kamis (15/10/2026), harga emas di pasar spot merosot 1,5% menjadi US$ 4.093,03 per ons, sekaligus menyentuh level terendah sejak 7 Oktober. Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember turun 1,5% menjadi US$ 4.115,50 per ons.
Advertisement
Indeks dolar AS menguat 0,4%. Kondisi ini membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun juga meningkat, menambah tekanan terhadap harga emas.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan memperbesar kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga.
“Pada titik ini, hal tersebut mengindikasikan bahwa The Fed lebih mungkin menaikkan suku bunga,” kata Meger, merujuk pada data indeks harga konsumen (CPI) yang masih berada di atas target The Fed.
Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Meningkat
Meger menambahkan, penguatan dolar AS turut memberikan tekanan terhadap pasar emas.
“Akibatnya, kita melihat dolar menguat dan tekanan terhadap pasar emas semakin besar,” ujarnya.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan indeks harga konsumen (CPI) naik 0,6% pada bulan sebelumnya, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4% pada Agustus.
Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober mencapai sekitar 35%, meningkat dari 22% sebelum data inflasi dirilis. Sementara itu, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan sekitar 90%.
Emas biasanya dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga cenderung mengurangi daya tarik emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil bunga.
Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan, Michelle Bowman, mengatakan bank sentral AS masih memiliki waktu untuk mengamati perkembangan pasar keuangan dan perekonomian setelah menaikkan suku bunga pada September, sebelum memutuskan langkah berikutnya.
Harga Perak Anjlok 6,5%, Logam Mulia Lain Ikut Melemah
Di tengah tekanan terhadap harga emas, analis Julius Baer, Carsten Menke, menilai prospek jangka panjang logam mulia tersebut masih berpotensi membaik.
“Dalam jangka panjang, emas seharusnya kembali diuntungkan oleh pembelian bank sentral yang tetap kuat serta kekhawatiran baru terhadap utang AS dan beban pembayaran bunganya yang terus meningkat,” kata Menke.
Sementara itu, harga minyak naik pada Rabu setelah terjadi serangan terhadap kantor pusat perusahaan minyak milik negara Arab Saudi. Pejabat Iran juga mengatakan kepada Reuters bahwa negaranya menerapkan taktik baru untuk menargetkan kapal-kapal.
Langkah tersebut disebut bertujuan mempertahankan harga minyak tetap tinggi dan memengaruhi pemilihan paruh waktu AS.
Pelemahan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak di pasar spot anjlok 6,5% menjadi US$ 55,60 per ons.
Harga platinum turun 3,5% menjadi US$ 1.604,20 per ons, sedangkan paladium melemah 2,7% menjadi US$ 1.095,41 per ons.
Penurunan serentak ini menunjukkan tekanan pasar logam mulia di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga.