Jembatan Baru China-Korea Utara Akan Dibuka Setelah Tertunda 12 Tahun

China menyatakan jembatan ini akan mendorong perdagangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat kedua negara.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 15 Oktober 2026, 08:02 WIB
Jembatan New Yalu River yang dirancang untuk menghubungkan kawasan Dandong New Zone di China dengan Sinuiju di Korea Utara, terlihat dari Dandong, Provinsi Liaoning, China, pada 5 Oktober 2026. (Dok. AP Photo/File)

Liputan6.com, Beijing - Jembatan baru yang menghubungkan China dan Korea Utara akhirnya akan dibuka pada Kamis (15/10/2026), setelah tertunda selama 12 tahun. 

China merupakan mitra dagang terbesar Korea Utara sekaligus sumber dukungan diplomatik, ekonomi, dan politik yang penting bagi negara bersenjata nuklir yang tertutup tersebut. 

Jembatan New Yalu River sepanjang 3.026 meter menghubungkan Kota Dandong di perbatasan timur laut China dengan Korea Utara, salah satu negara paling terisolasi di dunia.

Jembatan empat jalur untuk kendaraan itu sebenarnya telah rampung dibangun pada 2014. Namun, pembukaannya tertunda karena belum tersedianya jalan penghubung dan fasilitas bea cukai di sisi Korea Utara, menurut laporan kantor berita Korea Selatan, Yonhap.

Korea Utara menutup perbatasannya selama pandemi COVID-19. Layanan kereta api antara kedua negara Asia Timur itu baru kembali beroperasi pada Maret lalu, setelah terhenti selama enam tahun.

Jembatan baru tersebut akan menjadi jalur alternatif bagi Jembatan Persahabatan China-Korea yang telah berusia puluhan tahun dan terletak lebih jauh di sepanjang Sungai Yalu. Sungai tersebut dikenal dengan nama Amnok di Korea Utara. Jembatan lama itu sebelumnya rutin dilintasi kereta penumpang, tetapi kapasitasnya terbatas.

"Selama ini, aktivitas penyeberangan melalui jembatan-jembatan di Sungai Yalu, Dandong, masih relatif terbatas. Namun, setelah jembatan baru dibuka, ratusan kendaraan bisa melintasinya setiap hari," kata Ahn Chan-il, seorang peneliti asal Korea Utara, kepada AFP.

"Jembatan ini bisa menjadi jalur masuk berbagai barang dan sumber daya yang melimpah dari China ke Korea Utara, sehingga memberikan dorongan besar bagi perekonomiannya."

Kementerian Unifikasi Korea Selatan mengatakan kepada AFP bahwa Seoul terus memantau perkembangan terkait pembukaan jembatan tersebut.

Sementara itu, Korea Utara belum kembali menerbitkan visa wisata bagi warga China, yang sebelumnya merupakan kelompok wisatawan asing terbesar di negara itu.

Pembukaan Jembatan New Yalu River berlangsung sekitar sebulan lebih setelah Korea Utara dan Rusia membuka jembatan jalan raya pertama yang menghubungkan kedua negara. Pyongyang menyebut pembukaan itu sebagai tanda semakin eratnya hubungan kedua negara.

Menurut para analis, perdagangan Korea Utara dengan Rusia sebagian besar melibatkan pasokan militer. Sebaliknya, perdagangan dengan China dinilai lebih berpotensi mencakup barang-barang yang sangat dibutuhkan Korea Utara untuk mengembangkan perekonomian sipilnya.

"Jembatan New Yalu River merupakan infrastruktur penting yang menghubungkan kedua negara," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers rutin pada Rabu.

"Pembukaannya akan semakin mendorong hubungan ekonomi dan perdagangan serta pergerakan masyarakat antara kedua negara, sekaligus meningkatkan kesejahteraan rakyat kedua negara."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya