Liputan6.com, Jakarta - Goldman Sachs, investor saham bersikap skeptis terhadap ekspansi pesat di perusahaan-perusahaan China ke luar negeri.
"Pasar ingin melihat ekspansi yang menguntungkan,” ujar salah satu kepala riset wilayah China di Goldman Sachs Research, Trina Chen, mengutip CNBC, Rabu (14/10/2026).
Advertisement
Lemahnya permintaan konsumen di China telah mendorong banyak perusahaan, seperti merek mobil listrik, untuk mempercepat rencana masuk ke negara lain. Produsen mobil Geely adalah salah satu perusahaan China terbaru yang ekspansi ke luar negeri. Pada Jumat lalu, perseroan mengumumkan rencana untuk masuk ke pasar Kanada tahun depan.
Dalam laporan tertanggal 14 September, Chen dan timnya memprediksi pangsa pasar luar negeri perusahaan-perusahaan China kemungkinan akan mencapai 31% pada 2035, naik dari angka sekitar 18% saat ini. Analisis mereka mencakup lebih dari 10 sektor, termasuk layanan pengiriman kilat, robot industri, dan peralatan rumah tangga elektronik (seperti AC).
Perusahaan-perusahaan China sering kali memperoleh margin keuntungan yang lebih tinggi di luar negeri dibandingkan di dalam negeri, sehingga memungkinkan mereka menawarkan harga yang lebih rendah daripada pesaing lokal.
"Investor perlu diyakinkan bahwa ekspansi global ini "tidak berakhir dengan situasi yang mirip dengan involution (persaingan destruktif), di mana harga justru anjlok akibat persaingan," kata Chen.
Ia menambahkan, faktor geopolitik dan pembatasan akses pasar juga turut memengaruhi kinerja saham.
Istilah involution merujuk pada persaingan sengit yang saling menjatuhkan harga (race-to-the-bottom) di China, sebuah fenomena yang coba ditangani oleh regulator dalam beberapa tahun terakhir.
“Ketidakpastian tersebut berarti bahwa potensi ekspansi global perusahaan-perusahaan China belum banyak tercermin dalam harga saham mereka, ujar Chen.
Merek China Bukan Lagi Penantang Pasar
Namun di sisi lain, ia mencatat investor bersikap "kejam" ketika perusahaan petahana kehilangan pangsa pasar, hilangnya pangsa pasar sebesar 10% hingga 15% dapat memangkas kapitalisasi pasar perusahaan tersebut hingga 50%–80%.
Perusahaan-perusahaan China tidak hanya membidik pasar AS dan Eropa. Goldman Sachs mencatat pertumbuhan paling pesat justru terjadi di pasar negara berkembang (emerging markets), seiring langkah perusahaan-perusahaan tersebut menyasar wilayah yang belum terlayani secara memadai oleh para pesaing.
"Merek-merek China bukan lagi sekadar penantang pasar," ungkap Euromonitor dalam sebuah laporan bulan lalu.
Euromonitor menyebutkan, merek-merek ini kini menjadi pesaing jangka panjang yang mengakar kuat dan mampu mengubah dinamika pasar di seluruh Amerika Latin.