Tiga Mimpi Hijau BYD yang Mengubah Arah Industri Otomotif Global

Tiga visi hijau BYD mencakup upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, menekan efek rumah kaca, serta mengurangi polusi

oleh Septian PamungkasDiterbitkan 15 Oktober 2026, 07:08 WIB
Vice President BYD Co., Ltd. sekaligus General Manager of BYD Asia Pacific Auto Sales Division, Liu Xueliang saat memberikan pemaparan dalam acara peluncuran produk dan teknologi baru di Jakarta. (Liputan6.com/Septian Pamungkas)

Liputan6.com, Jakarta - BYD terus memperkuat pengembangan teknologi energi baru dengan mengintegrasikan pembangkitan listrik, penyimpanan energi, hingga kendaraan listrik. Strategi tersebut berangkat dari tiga visi utama yang dikenal sebagai Three Green Dreams.

Perjalanan perusahaan otomotif asal China ini bermula pada 1994 di Shenzhen, China, dengan memproduksi baterai. Selama lebih dari tiga dekade, BYD mengembangkan teknologi yang berfokus pada energi baru dan pembangunan berkelanjutan.

Tiga visi hijau BYD mencakup upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, menekan efek rumah kaca, serta mengurangi polusi yang dihasilkan kendaraan.

Vice President BYD Co., Ltd. sekaligus General Manager of BYD Asia Pacific Auto Sales Division, Liu Xueliang, mengungkapkan bahwa gagasan tersebut telah diperkenalkan sekitar dua dekade lalu. Namun, pada awalnya, visi tersebut mendapat keraguan karena dinilai sulit diwujudkan.

Untuk memperkenalkan gagasan mengenai masa depan energi, BYD membuat video pada 2008. Setahun kemudian, perusahaan membangun Desa Masa Depan di kantor pusatnya di China.

Kawasan tersebut dirancang untuk menggambarkan ekosistem energi terintegrasi, mulai dari pembangkit listrik tenaga surya di atap bangunan, sistem penyimpanan energi di dalam rumah, hingga kendaraan listrik dan stasiun pengisian daya.

Konsep tersebut menjadi gambaran pendekatan BYD dalam mengembangkan teknologi energi baru yang menghubungkan berbagai sumber energi dengan kebutuhan masyarakat.

"Tiga mimpi hijau BYD adalah memperoleh energi, menyimpannya, hingga memanfaatkannya," kata Liu.

Melalui tiga visi tersebut, BYD mengembangkan teknologi yang mencakup pembangkitan listrik tenaga surya, sistem penyimpanan energi, hingga kendaraan energi baru.

Pendekatan ini menempatkan kendaraan listrik sebagai salah satu bagian dari ekosistem energi yang lebih luas. Selain mengembangkan mobil listrik, perusahaan juga berupaya mengoptimalkan pemanfaatan energi melalui teknologi penyimpanan.

Salah satu langkah penting dalam perjalanan BYD terjadi pada 2022. Kala itu, perusahaan mengumumkan penghentian produksi kendaraan penumpang yang hanya mengandalkan mesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE) berbahan bakar fosil.

Setelah keputusan tersebut, BYD memusatkan pengembangan kendaraan penumpangnya pada dua kategori, yakni mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) dan mobil plug-in hybrid electric vehicle (PHEV).

Mobil BEV menggunakan energi listrik yang tersimpan dalam baterai sebagai sumber tenaga penggerak. Sementara itu, PHEV menggabungkan sistem penggerak elektrifikasi dengan mesin pembakaran internal dan dapat mengisi daya baterai melalui sumber listrik eksternal.

Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya BYD memperluas pilihan kendaraan energi baru di tengah perkembangan industri otomotif global.

 

Penjualan BYD Tembus 4,6 Juta Unit pada 2025

Fokus pada kendaraan energi baru turut mendorong pertumbuhan bisnis BYD di pasar internasional.

Berdasarkan data yang disampaikan Liu, penjualan kendaraan energi baru BYD secara global mencapai 4,6 juta unit sepanjang 2025. Pada periode yang sama, ekspor kendaraan energi baru perusahaan juga melampaui 1 juta unit.

Pencapaian tersebut didukung oleh pengembangan teknologi dan sumber daya manusia. Liu menyebut BYD memiliki lebih dari 123.000 tenaga ahli yang bekerja di bidang penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D).

Selain tim R&D, pertumbuhan perusahaan juga ditopang oleh kontribusi karyawan, mitra bisnis, serta media di berbagai negara.

Saat ini, BYD telah memperluas kehadirannya ke enam benua dan lebih dari 121 negara serta wilayah. Ekspansi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkenalkan kendaraan energi baru ke berbagai pasar.

Perkembangan bisnis BYD berlanjut hingga 2026. Liu menyatakan, penjualan kumulatif kendaraan energi baru perusahaan secara global telah melampaui 18 juta unit hingga September 2026.

Menurut Liu, pencapaian tersebut menjadikan BYD sebagai merek otomotif pertama yang mencapai angka penjualan kumulatif tersebut untuk kategori kendaraan energi baru.

Angka itu sekaligus mencerminkan perkembangan bisnis perusahaan sejak pertama kali memulai perjalanan sebagai produsen baterai pada 1994.

Meski demikian, BYD menyatakan akan terus mengembangkan teknologi dan menghadirkan produk baru untuk menjawab kebutuhan konsumen di berbagai negara.

Bagi perusahaan, capaian penjualan tersebut bukan menjadi akhir dari perjalanan, melainkan dorongan untuk melanjutkan inovasi di bidang energi baru.

Melalui pengembangan baterai, sistem penyimpanan energi, dan kendaraan listrik, BYD berupaya meneruskan tiga visi hijaunya, yakni memperoleh energi, menyimpannya, dan memanfaatkannya untuk mendukung mobilitas yang lebih ramah lingkungan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya