Kelangkaan BBM di Bali, Bahlil: Stok Nasional Aman

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menuturkan, stok nasional BBM di 16-18 hari.

oleh Lizsa EgehamDiterbitkan 14 Oktober 2026, 19:49 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (Foto: Biro Sekretariat Presiden)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan stok bahan bakar minyak (BBM) dalam kondisi aman. Hal ini disampaikan Bahlil menyusul kelangkaan BBM yang terjadi di sejumlah daerah di Bali.

"Kalau stok nasional itu kita di angka 16 sampai 18 hari, jadi masih clear, enggak ada masalah secara stok-stok nasional," kata Bahlil usai rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (14/10/2026).

Hanya saja, Bahlil menyebut ada masalah dengan distribusi BBM sehingga menyebabkan adanya kelangkaan. Dia mengaku telah menuturkan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri telah berada di Bali untuk menangani kelangkaan BBM di Bali.

"Di Bali, Pak Simon sudah di sana, Pak Dirut Pertamina. Karena kita tahu bahwa pemerintah kan regulator, implementasi daripada itu semua adalah BUMN, dalam hal ini Pertamina," ujarnya.

Bahlil belum bisa berbicara banyak soal kelangkaan BBM di Bali. Dia mengaku masih menunggu laporan dari Dirut Pertamina dan pejabat terkait di lapangan.

"Jadi mungkin distribusinya yang ada sedikit mengalami terkendala. Itu yang sebentar saya akan rapat," tutur dia.

"Saya rapat dulu ya, saya rapat dulu dengan mereka baru saya tahu, ya. Saya akan, saya akan bukan pegawai yang membawa kapal ya. Nanti kita atur baik-baik ya," sambung Bahlil.

Bahlil memastikan tak ada perubahan harga BBM subsidi. Sementara itu, harga BBM non subsidi akan mengikuti harga minyak dunia.

"Harga untuk harga untuk subsidi masih tetap tidak ada perubahan apa-apa. Kalau harga menyangkut dengan BBM yang di luar subsidi, itu pasti akan terjadi fluktuatif berdasarkan harga perkembangan dunia, ya," jelas Bahlil.

 

Masalah Proses Distribusi

Ilustrasi sepeda motor sedang mengisi BBM di SPBU Pertamina (Istimewa)

Sebelumnya, antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Bali terjadi akibat kendala distribusi bahan bakar minyak (BBM). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan ketahanan stok BBM masih berada pada level aman, sementara penyaluran dipercepat untuk mengatasi gangguan pasokan di lapangan.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan, antrean BBM di Bali dipicu keterlambatan kedatangan kapal pengangkut BBM. Setelah kapal tiba, distribusi langsung dikebut melalui operasi selama 24 jam.

"Iya, itu masalah proses distribusi saja. Jadi kemarin memang ada keterlambatan kapal. Kapalnya sudah tiba, sejak di sana kemarin sudah dilakukan operasi pasar 24 jam. Semoga, mungkin hari ini atau besok sudah selesai permasalahannya," ujar Laode saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Rabu (14/10/2026).

Laode menjelaskan, ketahanan stok BBM saat ini masih berkisar 18--20 hari. Menurut dia, gangguan yang terjadi bukan semata-mata disebabkan oleh ketersediaan BBM, melainkan kendala dalam proses pengiriman hingga sampai ke konsumen.

"Ketahanan masih aman, 18-20. Jadi masalah yang ada ini lebih disebabkan oleh pola distribusi karena musim," katanya.

 

Faktor Cuaca dan Kondisi Transportasi

Laode memaparkan, faktor cuaca dan kondisi transportasi menjadi tantangan dalam distribusi BBM, terutama di wilayah yang mengandalkan jalur perairan.

Di sejumlah daerah, pengiriman BBM yang biasanya menggunakan angkutan sungai dapat terganggu ketika debit air menurun akibat musim kering. Dalam kondisi tersebut, distribusi harus dialihkan menggunakan truk yang membutuhkan waktu lebih lama dan memiliki kapasitas angkut terbatas.

Selain itu, gelombang tinggi juga dapat menghambat kapal pengangkut BBM untuk bersandar di pelabuhan. Akibatnya, proses bongkar muat dan penyaluran BBM ke wilayah tujuan ikut tertunda.

"Tapi begitu sudah nyender, kayak di Bali kemarin, langsung dilaksanakan distribusi 24 jam. Jadi dikejar," ujar Laode.

Ia menambahkan, persoalan distribusi serupa tidak hanya terjadi di Bali. Laode menyebut kondisi di Makassar juga menghadapi tantangan yang relatif serupa.

"Sama-sama, ini yang saya jelaskan ini penyebab untuk semua, bukan hanya masalah Bali kemarin juga kan di Makassar, saya ke sana juga sama relatiflah permasalahan-permasalahan gitu," katanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya