Rupiah Tertekan Dolar AS, Pasar Cermati Inflasi dan Sinyal The Fed

Rupiah ditutup melemah ke 17.903 per dolar AS. Investor menanti data inflasi AS yang menjadi petunjuk arah kebijakan The Fed.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 14 Oktober 2026, 17:25 WIB
Karyawan menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing, Jakarta. (Kapanlagi.com/Budy Santoso)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tipis pada perdagangan hari ini. Pergerakan rupiah dipengaruhi sikap investor yang menanti rilis data inflasi AS serta mencermati arah kebijakan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Pada Rabu (14/10/2026), rupiah turun 3 poin atau 0,02 persen ke level 17.903 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi 17.900 per dolar AS.

Berbeda dengan kurs pasar, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) justru menguat ke level 17.898 per dolar AS dari sebelumnya 17.930 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara (BWS) Rully Nova mengatakan, pergerakan rupiah yang relatif datar dipengaruhi sikap pelaku pasar yang menunggu data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS.

“Rupiah hari ini yang datar-datar saja dipengaruhi oleh global antisipasi data inflasi CPI AS nanti malam (Rabu, 14/10), dan sikap dovish dari pejabat The Fed terkait kenaikan suku bunga tahun depan,” katanya dikutip Antara.

 

Sentimen Dalam Negeri

Petugas menata mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Inflasi AS diperkirakan meningkat akibat kenaikan biaya energi. Data tersebut akan menjadi petunjuk bagi pasar untuk memperkirakan arah kebijakan moneter The Fed. Estimasi pasar uang menunjukkan peluang sebesar 78 persen bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada bulan ini.

Sementara itu, Presiden The Fed New York John Williams berpandangan suku bunga sebaiknya kembali dinaikkan satu kali pada tahun ini. Namun, ia menilai kenaikan lanjutan tidak diperlukan setelahnya karena inflasi diperkirakan turun signifikan pada tahun depan.

Dari dalam negeri, penguatan harga obligasi pemerintah bertenor pendek turut menopang stabilitas rupiah. Sebaliknya, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi tenor panjang, terutama surat utang acuan 10 tahun, masih memberikan tekanan.

“Yield obligasi tenor pendek 2 tahun terpangkas 8,4 bps (basis points) jadi 6,7 persen tenor 3 tahun 5,7 bps jadi 6,86 persen, dan 1 tahun 3,2 bps ke 6,65 persen. Tenor panjang 10 tahun naik 0,4 bps ke 7,19 persen, 40 tahun naik 4,9 bps ke 7,26 persen,” kata Rully.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya