Cerita Warga Makassar Harus Tetap Bekerja di Tengah Kabut Asap

Cerita Warga Makassar Harus Tetap Bekerja di Tengah Kabut Asap

oleh FauzanDiterbitkan 14 Oktober 2026, 15:30 WIB
Kualitas udara Kota Makassar memburuk

Liputan6.com, Jakarta - Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) terdampak kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah. Alhasil, kualitas udara di Makassar terus memburuk.

Gita Suarni, seorang karyawati swasta di Makassar, mengaku kondisi udara belakangan ini membuatnya lebih waspada saat berangkat dan pulang kerja. Mobilitas sehari-hari yang mengharuskannya berada di luar ruangan membuat kondisi tersebut sulit dihindari.

"Belakangan ini udara terasa kurang nyaman, terutama kalau pagi saat berangkat kerja. Kadang kondisi di jalan terlihat berkabut, jadi saya lebih waspada saat berkendara," ujar Gita, Rabu (14/10/2026).

Dia mengatakan, kondisi tersebut membuatnya lebih memperhatikan perlindungan diri saat beraktivitas di luar rumah. Gita juga berusaha mengurangi waktu berada di luar ruangan jika tidak ada keperluan mendesak.

"Cukup mengganggu, apalagi saya harus keluar rumah untuk bekerja setiap hari. Biasanya saya bisa beraktivitas seperti biasa, tetapi sekarang lebih berhati-hati dan sebisa mungkin tidak terlalu lama berada di luar ruangan," katanya.

Gita mengaku mulai membiasakan diri menggunakan masker ketika bepergian. Langkah itu dilakukan sebagai upaya mengurangi paparan partikel di udara yang kualitasnya sedang memburuk.

"Iya, sekarang saya berusaha memakai masker saat keluar rumah, terutama ketika berkendara atau berjalan di luar. Sebelumnya saya tidak selalu memakai masker, tetapi melihat kondisi udara seperti ini, rasanya lebih baik melakukan pencegahan," tuturnya.

Kekhawatiran Gita bukan hanya terkait kenyamanan saat beraktivitas, tetapi juga kondisi udara jika kabut asap terus menyelimuti Makassar. Dia berharap kualitas udara segera membaik agar warga dapat kembali menjalankan kegiatan sehari-hari dengan lebih nyaman.

"Sejauh ini yang paling terasa adalah rasa tidak nyaman saat berada di luar ruangan. Saya juga lebih khawatir kalau kondisi ini berlangsung lama, karena setiap hari harus berangkat dan pulang kerja," ungkapnya.

Dia berharap pemerintah terus menyampaikan informasi mengenai perkembangan kualitas udara dan langkah perlindungan yang perlu dilakukan masyarakat. Menurutnya, informasi yang jelas dapat membantu warga menyesuaikan aktivitas dengan kondisi lingkungan.

"Saya berharap kondisi udara bisa segera membaik dan ada informasi yang jelas kepada masyarakat tentang kondisi kualitas udara. Kalau memang belum aman untuk beraktivitas di luar, masyarakat perlu diberi tahu supaya bisa lebih berhati-hati," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, kualitas udara di Makassar terus memburuk. Konsentrasi partikel polusi berukuran sangat kecil atau PM2.5 bahkan menembus 150 mikrogram per meter kubik pada 13-14 Oktober 2026, hingga kualitas udara masuk kategori sangat tidak sehat.

Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV Makassar, Rizky Yudha Pahlawan, mengatakan penurunan kualitas udara di Makassar dan sekitarnya telah terpantau sejak akhir September 2026. Kondisi tersebut terus memburuk hingga pertengahan Oktober, berdasarkan pemantauan konsentrasi PM2.5 di Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan di Maros.

"Memang kami amati sejak tanggal 30 September kualitas udara di wilayah Makassar dan sekitarnya ini turun ke level tidak sehat," kata Rizky.

Rizky menjelaskan, memburuknya kualitas udara dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya meningkatnya kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran tersebut terjadi di Sulawesi Selatan maupun di luar provinsi, sehingga partikel polutan dapat menyebar ke sejumlah wilayah.

"Dari analisis kami memang disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya meningkatnya kebakaran hutan dan lahan, baik itu di wilayah Sulawesi Selatan maupun di luar Sulawesi Selatan," ujarnya.

Menurut Rizky, partikel PM2.5 juga terpantau tersebar di hampir seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Kondisi udara kabur atau haze bahkan dilaporkan meluas hingga Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Utara.

"Kabut asap tidak hanya memengaruhi kualitas udara, tetapi juga berpotensi mengurangi jarak pandang di wilayah terdampak. Dalam kondisi tertentu, jarak pandang dapat berkurang hingga kurang dari lima kilometer," ucapnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya