Liputan6.com, Jakarta - Pesatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) di sektor industri tidak hanya mengubah lanskap efisiensi kerja, tetapi juga mendefinisikan ulang peta ancaman keamanan siber.
Di tengah gelombang transformasi digital ini, banyak perusahaan di Indonesia yang masih terjebak pada persepsi lama, di mana menganggap ketersediaan cadangan data (backup) sudah cukup untuk menjamin keberlangsungan operasional bisnis saat diserang peretas.
Advertisement
Realitas di lapangan menunjukkan ancaman siber, terutama ransomware canggih berbasis AI, kini langsung menyasar dan melumpuhkan sistem backup utama terlebih dahulu. Dampaknya, ketika infrastruktur primer terserang, sistem pemulihan ikut terkunci, mengakibatkan kelumpuhan operasional total dan potensi kebocoran data sensitif yang masif.
“AI semakin banyak digunakan dalam operasional bisnis, mulai dari pengelolaan data hingga kolaborasi tim,” ujar Country Manager Synology Indonesia, Clara Hsu, dalam keterangannya, Rabu (14/10/2026).
Namun, ia menambahkan, penerapan AI perlu didukung infrastruktur yang mampu mengimbangi pertumbuhan data, sistem perlindungan yang andal, serta teknologi yang benar-benar membantu meningkatkan produktivitas perusahaan.
Isu ketahanan siber menjadi perhatian utama mengingat fakta lapangan yang cukup memprihatinkan. Riset terbaru Synology menunjukkan bahwa hanya sekitar 2 dari 10 (20%) perusahaan di Indonesia yang merasa sangat yakin dapat memulihkan operasional bisnis mereka dengan cepat usai terhantam serangan ransomware.
Kondisi ini dipicu oleh praktik pengelolaan IT tradisional yang kerap menyatukan lingkungan produksi utama dengan sistem backup. Ketika peretas berhasil menembus benteng pertahanan utama, salinan data turut mengalami modifikasi, enkripsi, hingga penghapusan permanen.
Guna memitigasi risiko tersebut, industri keamanan siber kini mendorong penerapan strategi isolasi data ketat melalui metode immutable backup (salinan data yang tidak dapat diubah atau dihapus) serta skema air-gap. Pendekatan ini memisahkan secara fisik maupun logis antara infrastruktur pemulihan dan sistem operasional harian.
Sebagai jawaban atas tantangan ini, Synology meluncurkan ActiveProtect, sebuah perangkat keras (appliance) khusus yang difungsikan penuh untuk memusatkan perlindungan data sekaligus mengisolasi lingkungan pemulihan dari jaringan utama.
Lewat seri terbarunya seperti DP5200, perusahaan dapat mengelola backup terenkripsi dari berbagai titik lokasi kantor cabang secara terpusat tanpa membahayakan data inti bisnis.
Ancaman Sovereignty Data AI
Selain ancaman keamanan eksternal, ledakan volume data yang diproses oleh model AI memicu persoalan serius pada efisiensi infrastruktur. Sebanyak 88% responden perusahaan di Indonesia mengeluhkan lonjakan inefisiensi penyimpanan akibat redundansi dan duplikasi data AI yang sangat tinggi.
Guna mengatasi persoalan skalabilitas tanpa membengkakkan anggaran IT, modernisasi media penyimpanan menjadi mutlak. Solusi kelas enterprise berkinerja tinggi seperti arsitektur NVMe pada PAS7700, dipadukan dengan manajemen DSM 7.4 Tiering, kini dimanfaatkan untuk memilah data secara otomatis berdasarkan frekuensi akses serta mengeliminasi duplikasi secara real-time.
Di sisi lain, adopsi tools AI untuk produktivitas tim seperti penyuntingan dokumen, analisis spreadsheet, dan komunikasi internal menimbulkan risiko baru terkait data sovereignty (kedaulatan data). Penggunaan platform AI berbasis cloud publik berpotensi mengekspos rahasia dagang atau data pelanggan ke pihak ketiga.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, pemanfaatan ekosistem AI berbasis on-premises seperti Synology Office Suite menjadi alternatif strategis.
Pendekatan ini memungkinkan perusahaan mengeksploitasi kemampuan AI untuk memangkas waktu kerja administratif--yang saat ini masih menyita hingga 2 jam per minggu bagi 80% karyawan di Indonesia--tanpa harus memindahkan kendali data sensitif keluar dari infrastruktur internal perusahaan.
Transformasi AI hingga Pengawasan Fisik
Pemanfaatan AI dalam infrastruktur IT modern tidak hanya berhenti pada dokumen digital, melainkan merambah ke sistem pengawasan fisik (physical surveillance). Rekaman CCTV berdurasi ribuan jam yang selama ini sekadar menjadi arsip pasif kini diubah menjadi data intelijen operasional secara real-time.
Melalui pemrosesan kecerdasan buatan pada perangkat DVA7400, tim keamanan siber dan operasional dapat melakukan analisis video cerdas, deteksi ancaman fisik, hingga pencarian kejadian spesifik secara presisi.
Integrasi antara pengawasan fisik AI dan ketahanan infrastruktur digital ini menegaskan bahwa keamanan bisnis di era modern membutuhkan pendekatan holistik, mulai dari perlindungan aset fisik di lapangan hingga pemulihan data di ruang siber.