Warga di Tangsel Diare Massal, Diduga Air Tercemar

Ratusan warga di Tangsel mengalami diare dan muntaber secara bersamaan diduga karena air yang masuk ke rumah mereka sudah tercemar.

oleh Pramita TristiawatiDiterbitkan 14 Oktober 2026, 09:21 WIB
Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan bersama UPTD Puskesmas Keranggan mengambil sampel di instalasi pengolahan air bersih atau Water Treatment Plant/WTP dan rumah warga untuk dilakukan pemeriksaan. (Liputan6.com/ Dok Ist)

Liputan6.com, Tangerang Selatan - Sebanyak 146 warga di Perumahan Serpong Lagoon, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), diduga menjadi korban keracunan air yang sehari-hari dikonsumsi. Akibatnya ratusan warga tersebut diare dan muntaber secara bersamaan.

Ketua RT setempat, Heru Cahyono mengungkapkan, keluhan warganya itu terjadi pada sepekan terakhir. Tiba-tiba saja secara bersamaan hanya hitungan hari, warga mengeluhkan demam, mual, pusing yang berujung pada diare dan muntaber.

"Benar, sampai hari ini ada warga sebanyak 146 terkena diare, muntaber," ujar Heru, Rabu (14/10/2026).

Heru mengungkapkan, awalnya ibu-ibu di perumahan tersebut mengaku curiga, kenapa gelaja sakit setiap penghuni rumah seperti sama. Lalu, secara inisiatif, ibu-ibu kader Posyandu dan kesehatan itu pun secara inisiatif mendata ada berapa warga yang mengeluhkan sakit serupa.

Hasilnya terus bertambah hingga didapat 146 warga yang mengeluhkan sakit tersebut. Dan langsung dilaporkan ke ketua RT untuk diteruskan ke Puskesmas.

Dugaan pun mencuat ke penggunaan air oleh warga. Makanya dinas terkait sudah turun ke pemukiman untuk mengambil sampel.

"Dari Dinas Kesehatan dan LH sudah turun ke perumahan kami, untuk ambil sampel air di semua RT. Kami pun menguji air sendiri dengan pihak swasta agar ada pembanding," katanya.

Sementara, Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan mengaku sudah melakukan penanganan terhadap peningkatan kasus diare akut yang terjadi di Perumahan Serpong Lagoon tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, dr. Allin Hendalin Mahdaniar menuturkan, laporan masuk ke Dinkes pada 7 Oktober 2026. Setelah sejumlah warga mengalami keluhan kesehatan berupa diare, demam, mual, dan muntah dalam waktu yang hampir bersamaan.

"Lalu, berdasarkan hasil pemantauan hingga 12 Oktober 2026, tercatat sebanyak 145 warga mengalami gejala diare, dengan 67 orang telah sembuh, 67 orang menjalani rawat jalan, dan 11 orang mendapatkan perawatan di rumah sakit," kata Allin.

Kasus diare tersebut terjadi pada berbagai kelompok usia, mulai dari balita, anak-anak hingga orang dewasa. Berdasarkan hasil pendataan sementara, kelompok balita merupakan kelompok yang paling banyak terdampak.

Menindaklanjuti kejadian tersebut, Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan bersama UPTD Puskesmas Keranggan telah melakukan penyelidikan epidemiologi, pendataan dan pemantauan kasus, pemeriksaan kesehatan, serta pemberian pengobatan kepada warga yang mengalami keluhan.

"Dinas Kesehatan juga telah melakukan pemeriksaan kualitas air melalui pengambilan sampel di instalasi pengolahan air bersih atau Water Treatment Plant/WTP dan rumah warga untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium sebagai bagian dari upaya mengidentifikasi faktor risiko kejadian diare,"katanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya