Liputan6.com, Jakarta - Kepedulian terhadap penyu lekang (Lepidochelys olivacea) yang mendarat untuk bertelur di Pantai Biaung, Desa Kesiman Kertalangu, Bali, mendorong sekelompok nelayan terlibat aktif dalam upaya pelestarian satwa dilindungi tersebut.
Inisiatif konservasi ini berawal dari aktivitas sehari-hari masyarakat yang kerap menyaksikan penyu naik ke pantai untuk bertelur. Berangkat dari kepedulian tersebut, masyarakat mulai mengamankan telur, memantau sarang, hingga merelokasi telur yang berisiko ke tempat penetasan semi-alami.
Advertisement
Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) Sari Segara Kesiman Kertalangu, I Made Bagus Mahayana, mengatakan keterlibatan masyarakat dalam konservasi tumbuh dari kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
“Awalnya kami adalah nelayan. Karena sering melihat penyu naik ke Pantai Biaung untuk bertelur, kami mulai ikut mengamankan telur-telurnya. Dari situ kami belajar memantau sarang, merelokasi telur yang berisiko ke tempat penetasan, hingga nantinya tukik menetas dan dilepasliarkan kembali,” ujar I Made Bagus Mahayana, Rabu (14/10/2026).
Kegiatan yang awalnya dilakukan secara sederhana itu kemudian berkembang menjadi upaya konservasi yang lebih terorganisasi melalui pendampingan Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus melalui Fuel Terminal (FT) Sanggaran, dengan Program Konservasi Penyu Berbasis Masyarakat untuk memperkuat perlindungan penyu sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat pesisir.
Melalui pendampingan tersebut, anggota kelompok mendapat peningkatan kapasitas dalam pemantauan sarang, relokasi telur, pengelolaan tempat penetasan (hatchery), pencatatan perkembangan telur, hingga pelepasliaran tukik.
Hingga 2026, kegiatan konservasi ini telah menghasilkan ribuan tukik yang berhasil menetas dan dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya. Program tersebut juga memperkuat kapasitas 13 anggota POKMASWAS dalam menjalankan pengelolaan konservasi secara lebih terstruktur.
Perkuat Kapasitas Masyarakat Pesisir
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyampaikan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya perusahaan menjaga keanekaragaman hayati melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
“Pertamina berkomitmen mendukung pelestarian keanekaragaman hayati melalui program yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama konservasi. Melalui pendampingan POKMASWAS Sari Segara Kesiman Kertalangu, kami mendorong peningkatan kapasitas masyarakat, pemanfaatan inovasi teknologi, serta pengembangan edukasi dan aktivitas ekonomi alternatif yang selaras dengan prinsip konservasi. Dengan demikian, upaya menjaga kelestarian penyu dapat berjalan beriringan dengan penguatan kemandirian masyarakat pesisir,” ujar Ahad.
Selain meningkatkan keterampilan teknis, pendampingan juga diarahkan untuk memperkuat kemampuan kelompok dalam menjaga keberlanjutan kegiatan konservasi.
Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan sistem pemantauan, pemanfaatan teknologi, serta penyediaan sarana edukasi untuk memperluas pemahaman masyarakat tentang pentingnya perlindungan penyu dan habitat pesisir.
Pendekatan berbasis masyarakat ini menempatkan warga sebagai pelaku utama perlindungan penyu, mulai dari pemantauan sarang hingga pelepasliaran tukik. Dengan penguatan kapasitas dan pendampingan berkelanjutan, masyarakat diharapkan dapat terus menjalankan kegiatan konservasi sekaligus menjaga kelestarian ekosistem pesisir Pantai Biaung.