Vatikan: Paus Leo XIV Mengidap Kanker Paru-paru

Paus Leo secara terbuka mengungkap masalah kesehatan serius pertamanya yang diketahui publik selama 17 bulan memimpin Gereja Katolik.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 14 Oktober 2026, 07:00 WIB
Paus Leo XIV saat tiba di Rumah Sakit Gemelli, Roma, Italia, pada Selasa (13/10/2026). (Dok. AP/Gregorio Borgia)

Liputan6.com, Roma - Paus Leo XIV didiagnosis mengidap kanker paru-paru setelah menjalani operasi di Rumah Sakit Gemelli, Roma, Italia, pada Selasa (13/10/2026). Dalam operasi tersebut, dokter mengangkat lobus bawah atau bagian bawah paru-paru kanannya.

Seperti dilaporkan Associate Press, Vatikan mengumumkan bahwa hasil pemeriksaan saat operasi memastikan Paus Leo mengidap adenokarsinoma paru, salah satu jenis kanker paru-paru. Penyakit tersebut sebelumnya telah dicurigai berdasarkan pemeriksaan praoperasi, tetapi diagnosisnya baru dipastikan saat pembedahan berlangsung.

Vatikan belum mengumumkan rencana pengobatan selanjutnya. Para dokter juga belum membahas kemungkinan kemoterapi atau terapi lainnya karena masih menunggu hasil pemeriksaan tambahan.

Kantor Pers Vatikan menjelaskan bahwa istilah "pengangkatan radikal" dalam laporan medis menunjukkan dokter telah mengangkat seluruh jaringan yang dicurigai mengandung kanker. Langkah ini dilakukan dengan harapan tidak ada lagi jaringan kanker yang tertinggal.

Kelenjar getah bening Paus Leo juga diperkirakan turut diangkat untuk diperiksa guna mengetahui apakah kanker telah menyebar. Namun, hasil pemeriksaan tersebut belum diumumkan.

"Adenokarsinoma merupakan jenis kanker paru-paru yang paling umum ditemukan dan juga memiliki prognosis paling baik," kata Dr. Stephen Liu, pakar kanker paru-paru dari Lombardi Comprehensive Cancer Center di Universitas Georgetown.

"Meski diagnosisnya sudah diketahui, sekarang kita perlu mengetahui stadium kankernya."

Liu menjelaskan bahwa dokter perlu mengetahui ukuran kanker, jumlah bagian paru-paru yang terdampak, serta kemungkinan penyebarannya ke kelenjar getah bening.

"Kita perlu mengetahui seberapa besar ukurannya dan berapa banyak titik di paru-paru yang terdampak. Apakah hanya ada satu nodul atau lebih dari satu? Apakah kelenjar getah beningnya juga mengandung sel kanker?" ujarnya.

Jika kanker telah menyebar, Liu mengatakan bahwa pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk menentukan pengobatan yang tepat.

Pilihan pengobatan dapat mencakup kemoterapi, kombinasi kemoterapi dan imunoterapi, atau terapi target menggunakan obat minum yang ditujukan untuk jenis kanker tertentu.

 

Vatikan Nyatakan Operasi Berjalan Sukses

Paus berusia 71 tahun itu berada di ruang operasi selama sekitar tiga jam. Vatikan menjelaskan bahwa tindakan pembedahannya sendiri berlangsung sekitar 90 menit.

"Operasi berjalan sukses dan tidak terjadi komplikasi," demikian pernyataan Vatikan.

Setelah operasi, Paus Leo kembali ke kamar perawatannya.

Sebelumnya pada hari yang sama, Paus Leo memasuki Rumah Sakit Gemelli melalui pintu utama. Ia sempat melambaikan tangan kepada puluhan orang yang berkumpul untuk menyambutnya.

Vatikan menyatakan bahwa operasi tersebut ditangani oleh tim medis yang dipimpin Dr. Stefano Margaritora, kepala ahli bedah toraks Rumah Sakit Gemelli.

Dalam doa tengah hari pada Minggu (11/10), Paus Leo mengungkapkan bahwa dokter menemukan nodul di paru-parunya. Lantas ia mengumumkan rencana menjalani operasi untuk mengangkat nodul tersebut.

Sebelum operasi, sejumlah dokter spesialis kanker menyatakan bahwa peluang kesembuhan Paus Leo akan tetap "sangat baik", sekalipun nodul tersebut terbukti bersifat kanker karena dapat diangkat pada stadium awal.

Pada Senin (12/10), Vatikan membatalkan seluruh agenda audiensi Paus Leo hingga 20 Oktober.

Rumah Sakit Gemelli sebenarnya memiliki apartemen khusus bagi paus yang pernah digunakan oleh para pendahulunya. Apartemen di lantai 10 itu dilengkapi dengan kapel pribadi.

Namun, Kantor Pers Vatikan menyatakan bahwa Paus Leo akan menempati kamar lain di dekat apartemen tersebut karena fasilitas khusus kepausan itu sedang direnovasi.

 

Pemulihan Bisa Memungkinkan Kunjungan ke Amerika Selatan pada November

Paus Leo XIV saat tiba di Rumah Sakit Gemelli, Roma, Italia, pada Selasa (13/10/2026). (Dok. AP/Alessandra Tarantino)

Belum ada kepastian apakah Paus Leo tetap dapat melakukan perjalanan yang telah direncanakan ke Amerika Selatan bulan depan.

Dokter spesialis kanker umumnya menyarankan pasien untuk tidak melakukan perjalanan udara selama tiga minggu setelah operasi.

Jika pemulihannya berjalan sesuai harapan, jeda waktu tersebut masih memungkinkan Paus Leo menjalankan kunjungannya ke Uruguay, Argentina, dan Peru yang dijadwalkan berlangsung pada 6–17 November.

Rencana perjalanan itu tergolong padat dan akan menjadi kunjungan terpanjang selama masa kepausannya.

Berdasarkan jadwal saat ini, Paus Leo akan menempuh perjalanan lebih dari 31.000 kilometer dengan sekitar 12 penerbangan dan dua perjalanan helikopter. Kunjungan tersebut juga mencakup perubahan ketinggian yang cukup signifikan selama berada di Peru.

"Ia memutuskan untuk segera menjalani operasi agar tidak perlu mengubah rencana kunjungan luar negerinya. Jadi, tidak perlu khawatir karena ini bukan kondisi darurat," tutur Kardinal Kikuchi Tsutomu dari Tokyo, yang bertemu Paus Leo pada Senin.

Nodul paru-paru merupakan area abnormal berukuran kurang dari tiga sentimeter yang terkadang ditemukan melalui pemeriksaan CT scan pada dada atau perut.

Nodul tersebut sering kali ditemukan secara tidak sengaja ketika pasien menjalani pemeriksaan untuk kondisi lain, seperti cedera atau infeksi paru-paru, bukan melalui pemeriksaan khusus untuk mendeteksi kanker paru-paru.

Nodul dapat bersifat jinak maupun ganas. Dalam banyak kasus, dokter menyarankan pengangkatan melalui operasi untuk memastikan apakah nodul tersebut merupakan kanker, sekaligus mengobatinya jika terbukti ganas dan masih terbatas pada satu area.

Pernah Dirawat Akibat Demam Tifoid pada 1985

Operasi kali ini diyakini menjadi perawatan kedua Paus Leo di rumah sakit.

Selama ini, ia dikenal aktif berolahraga dan memiliki kondisi fisik yang prima. Ia rutin bermain tenis setiap pekan dan berenang.

Ketika masih menjadi imam misionaris muda, Paus Leo pernah terserang demam tifoid pada 1985, tidak lama setelah tiba di Chulucanas, Peru.

Pengalaman sakit dan menjalani perawatan di rumah sakit tersebut menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Saat itu, ia memutuskan untuk tetap tinggal di Peru meski harus menghadapi kemiskinan dan berbagai keterbatasan, setelah sebelumnya menikmati kehidupan yang relatif nyaman di Roma.

Keputusan tersebut pada akhirnya membuka jalan menuju kepausannya. Paus Leo menceritakan pengalaman itu dalam wawancara dengan Elise Ann Allen pada 2025 untuk buku "Pope Leo XIV: The Biography".

Dalam buku tersebut, Paus Leo mengaku pernah berdoa kepada Tuhan agar dirinya dibiarkan meninggal dunia daripada harus terus menanggung rasa sakit yang "mengerikan" akibat demam tifoid.

"Saat itu saya sedang diinfus dan berkata, 'Tuhan, jika ini cara-Mu bercanda, menurut saya Engkau bisa melakukannya dengan lebih baik.'"

"Tentu saja saya selamat dan sembuh. Namun, pengalaman itu menjadi momen yang sangat penting bagi saya. Saat itu, saya seolah berkata kepada diri sendiri, 'Kamu sudah berhasil melewati penyakit ini. Kamu sudah melihat sendiri berbagai kebutuhan masyarakat di sini. Ordo Agustinian dan Gereja mengatakan bahwa mereka membutuhkanmu di sini. Jadi, lanjutkanlah tugasmu.' Sejak saat itu, saya tidak pernah lagi mempertanyakan keputusan untuk tetap menjalankan tugas sebagai misionaris di Peru."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya