Camino de Flores, Wisata Jalan Kaki yang Dukung Pemulihan Warga Pascagempa NTT

Camino de Flores membuka peluang ekonomi bagi perajin tenun dan pelaku kuliner, sekaligus mendukung pemulihan masyarakat Flores pascagempa.

oleh Dia FatimahDiterbitkan 15 Oktober 2026, 07:00 WIB
Bukit Sylvia di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Liputan6.com/Asnida Riani)

Liputan6.com, Jakarta - Camino de Flores di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), membuka peluang bagi masyarakat setempat untuk memperoleh manfaat ekonomi dari pariwisata. Jalur wisata jalan kaki ini diharapkan memperluas pergerakan wisatawan agar pengeluaran mereka menjangkau lebih banyak daerah, termasuk wilayah di luar Labuan Bajo.

Selama ini, kunjungan wisatawan lebih terkonsentrasi di Manggarai Barat. Kondisi tersebut membuat pengembangan jalur perjalanan antardaerah menjadi salah satu upaya untuk memperluas kesempatan usaha bagi warga Flores.

Inisiator Camino de Flores, Mari Elka Pangestu, menilai durasi kunjungan dan jangkauan perjalanan wisatawan berpengaruh terhadap manfaat ekonomi yang diterima masyarakat.

"Mereka semua akan mendapat manfaat ketika wisatawan singgah lebih lama dan menyusuri lebih banyak wilayah di Flores," katanya saat jumpa pers di Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026.

Peluang usaha dapat tumbuh melalui penginapan, penyediaan makanan, penjualan kerajinan tenun, serta jasa pemandu lokal. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga berkesempatan melayani kebutuhan peserta selama perjalanan.

Perajin setempat dapat memperkenalkan produk mereka secara langsung pada wisatawan, sementara pemilik homestay berpeluang menerima tamu lebih lama.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana turut menyoroti pentingnya pemerataan kunjungan agar peluang ekonomi pariwisata tidak hanya terpusat di destinasi tertentu. Keterlibatan pelaku usaha lokal menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pengembangan Camino de Flores.

Tenun dan Kuliner Lokal

Ilustrasi potensi tenun ikat sebagai sumber pendapatan bagi masyarakat Flores, Nusa Tenggara Timur. (foto:unsplash)

Tenun ikat dan kuliner khas Flores berpotensi menjadi sumber pendapatan warga melalui pengembangan Camino de Flores. Kain tenun memiliki nilai budaya sekaligus menopang mata pencarian perajin, termasuk perempuan yang mewariskan keterampilan tersebut dari generasi ke generasi.

Wisatawan yang membeli kain secara langsung dapat memberi tambahan pemasukan bagi para pembuatnya. Pengembangan kuliner lokal juga menjadi perhatian tim penggagas. Mereka berencana menghadirkan chef dari Kupang untuk mendampingi warga, terutama para ibu, dalam menyajikan hidangan khas setempat dengan tampilan lebih menarik.

Pendampingan ini tetap mempertahankan cita rasa dan karakter asli makanan Flores. Keterlibatan perajin dan pelaku usaha kuliner dalam pemasaran menjadi salah satu langkah untuk memperluas manfaat pariwisata.

Wisatawan dapat mengenal produk langsung dari pembuatnya, sedangkan warga memiliki kesempatan mengembangkan usaha dengan memanfaatkan keterampilan serta tradisi yang telah mereka kuasai.

Dukungan untuk Warga Flores

Ilustrasi dukungan pemulihan masyarakat Flores pascagempa serta pelestarian ruang budaya dan mata pencarian warga. (foto:unsplash)

Camino de Flores juga membawa misi solidaritas bagi masyarakat Flores yang terdampak gempa pada Agustus 2026. Mari menyampaikan bahwa penggalangan dana akan terus dibuka, termasuk setelah perjalanan percontohan berakhir, agar dukungan bagi warga tetap berlanjut.

Dana tersebut direncanakan untuk membantu pemulihan fasilitas sanitasi, akses air bersih, gereja, serta sarana budaya dan pariwisata. Bantuan juga mencakup RSUD Bajawa melalui penyediaan obat-obatan dan sejumlah peralatan medis.

Pemulihan turut menyasar ruang budaya yang mendukung kegiatan produktif warga, seperti rumah tenun di Desa Borani, Desa Benang, Kampung Adat Nua Pu’u Wologeru, dan rumah tenun Saulawo di Ngada. Tempat-tempat ini berperan dalam menjaga keterampilan menenun sekaligus menopang mata pencarian masyarakat.

Penggalangan dana diharapkan membantu memenuhi kebutuhan dasar pascagempa, serta menjaga keberlangsungan kegiatan budaya dan ekonomi lokal.

Menjaga Manfaat bagi Warga

Puncak Waringin, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Liputan6.com/Asnida Riani)

Keberlanjutan Camino de Flores membutuhkan kolaborasi pemerintah, pengelola program, dan masyarakat setempat. Kementerian Pariwisata mendorong kerja sama dengan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, pemerintah kabupaten terkait, keuskupan se-Flores, serta komunitas lokal untuk mendukung pengembangan jalur wisata tersebut.

Evaluasi proyek percontohan akan menjadi dasar penyusunan paket wisata berkelanjutan sebelum dipasarkan kepada agen perjalanan dan operator tur. Pelaku usaha lokal juga perlu mempersiapkan layanan penginapan, makanan, kerajinan, serta jasa pemandu untuk memenuhi kebutuhan wisatawan.

Kesiapan layanan dan akses pemasaran menjadi bagian penting agar warga dapat terlibat langsung dalam kegiatan pariwisata. Kerja sama dengan penyelenggara perjalanan juga membuka kesempatan bagi usaha setempat menjangkau pengunjung.

Melalui pengelolaan berkelanjutan, pergerakan wisatawan berpotensi memperluas penerima manfaat ekonomi di berbagai wilayah Flores.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya