Liputan6.com, Jakarta - Di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), perjalanan wisata bisa dinikmati selangkah demi selangkah. Jalan kaki menyusuri lanskap alam, kampung adat, situs religi, serta jejak sejarah menjadi cara untuk mengenal pulau itu lebih dekat melalui Camino de Flores, jalur ziarah yang memadukan petualangan budaya dan pengalaman spiritual.
Gagasan perjalanan ziarah ini terinspirasi dari Camino de Santiago di Spanyol, jalur peziarahan yang dikenal sejak abad ke-9. Inisiator Camino de Flores, Mari Elka Pangestu, tergerak mengembangkan konsep serupa di Indonesia setelah menempuh perjalanan sejauh 140 kilometer selama enam hari di Spanyol.
Advertisement
"Saya berpikir Indonesia bisa punya Camino-nya sendiri, dan Flores adalah tempat yang sempurna untuk itu," ujar Mari Elka saat jumpa pers di Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026.
Camino de Flores menggabungkan wisata religi, eksplorasi budaya, dan perjalanan alam dalam satu pengalaman. Sepanjang rute, peserta berkesempatan mengenal kehidupan masyarakat setempat, mengunjungi tempat-tempat sakral, serta menyusuri kawasan yang menyimpan cerita sejarah dan tradisi Flores.
Berbeda dari perjalanan wisata yang berfokus pada banyaknya destinasi, konsep ini memberi perhatian pada pengalaman selama berjalan. Setiap langkah menjadi kesempatan untuk mengamati lingkungan sekitar, berinteraksi dengan masyarakat, dan menikmati suasana tanpa terburu-buru.
Camino de Flores menyasar peziarah dan wisatawan yang ingin menjelajahi Flores melalui perjalanan spiritual, kedekatan dengan alam, serta pengenalan budaya lokal.
Etape Tengah Jadi Perjalanan Pembuka
Etape Tengah menjadi rute pertama yang diuji dalam proyek percontohan Camino de Flores pada 23–27 Oktober 2026. Sekitar 70 peserta dari komunitas karitatif akan menempuh perjalanan jalan kaki sejauh kurang lebih 70 kilometer, dari Bajawa, melewati Boawae, hingga Ende. Jalur ini melintasi tiga kabupaten, yaitu Ngada, Nagekeo, dan Ende.
Perjalanan tersebut mengajak peserta menelusuri tempat-tempat yang menyimpan kisah iman, budaya, dan sejarah Flores. Destinasi yang masuk dalam agenda antara lain Seminari Mataloko, Kampung Adat Bena, kawasan Danau Kelimutu, serta rumah pengasingan Bung Karno di Ende.
Tim memilih Etape Tengah setelah memetakan sejumlah alternatif jalur dan memeriksa kondisi lapangan. Akses jalan, titik persinggahan, serta pilihan tempat bermalam turut menjadi pertimbangan dalam menyiapkan perjalanan.
Uji coba ini juga menjadi tahap untuk mengevaluasi pelaksanaan rute sebelum standar teknis Camino de Flores ditetapkan lebih lanjut.
Menikmati Flores dalam Setiap Langkah
Sepanjang jalur, peserta dapat menyaksikan perubahan lanskap, melewati desa-desa, serta mengamati aktivitas masyarakat setempat. Perjalanan ini juga membuka kesempatan untuk mengenal kekayaan budaya Flores, mulai dari proses pembuatan tenun ikat hingga kuliner khas daerah.
Peserta dapat mendengar langsung cerita warga tentang tradisi dan kehidupan sehari-hari, sehingga pengalaman budaya terasa lebih dekat dengan keseharian masyarakat. Bagi peziarah dan wisatawan yang mencari pengalaman berbeda, berjalan kaki memberi waktu untuk menikmati alam sekaligus melakukan refleksi diri.
Perjalanan bersama juga memungkinkan peserta berbagi cerita dan berinteraksi dengan warga yang ditemui di sepanjang rute. Camino de Flores direncanakan berkembang melampaui proyek percontohan Etape Tengah.
Rencana Pengembangan Camino de Flores
Pengembangan Camino de Flores direncanakan berlanjut melalui Etape Barat yang menghubungkan Labuan Bajo dan Ruteng, serta Etape Timur dari Maumere menuju Larantuka. Ketiga rute tersebut berpeluang dirangkai menjadi perjalanan lebih panjang sesuai waktu, kebutuhan, dan minat wisatawan.
Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, turut mendorong pengembangan jalur serupa di wilayah lain.
"Kita bisa buat Camino de NTT. Jadi di Flores buat sendiri, Timor buat sendiri, Sumba buat sendiri sesuai dengan daya tarik, cerita dan keunikan masing-masing," ujarnya di kesempatan yang sama.
Sebelum memperluas jalur, penyelenggara akan mengevaluasi proyek percontohan untuk menyempurnakan rute, standar kelayakan, dan pemetaan risiko.
Kementerian Pariwisata bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores juga menyiapkan petugas pengarah rute, pos kesehatan, stasiun air bergerak, serta mitigasi cuaca dan perubahan elevasi demi keselamatan peserta.