Rupiah Menguat ke 17.900 per Dolar AS, Pasar Cermati Harga Energi

Nilai tukar rupiah menguat 13 poin, meski JISDOR BI melemah ke 17.930 per dolar AS. Simak faktor penggeraknya.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 13 Oktober 2026, 17:50 WIB
Karyawan menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing, Jakarta. (Kapanlagi.com/Budy Santoso)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada penutupan perdagangan Selasa (13/10/2026). Rupiah naik 13 poin atau 0,07 persen ke level 17.900 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.913 per dolar AS.

Namun, penguatan rupiah di pasar spot tersebut berbanding terbalik dengan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI). JISDOR tercatat melemah ke 17.930 per dolar AS dari posisi sebelumnyaRp 17.899 per dolar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menilai penguatan rupiah dipengaruhi kebijakan Amerika Serikat yang untuk sementara mencabut sanksi terhadap bahan bakar Rusia.

"Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Rusia telah sepakat untuk memasok solar ke pasar global, dan pemerintahannya untuk sementara mencabut sanksi AS terhadap bahan bakar Rusia, sanksi yang sebelumnya diterapkan untuk memutus aliran pendapatan bagi Moskow guna membiayai perang di Ukraina," ujarnya dikutip Antara.

Menurut Ibrahim, tambahan pasokan solar berpotensi meredakan tekanan pasokan bahan bakar global. Kondisi tersebut juga dapat mengurangi kekhawatiran pasar yang selama ini ikut menopang harga minyak mentah.

Meski demikian, perkembangan geopolitik masih menjadi faktor yang perlu dicermati pelaku pasar.

 

Ketegangan Geopolitik Bayangi Rupiah

Seorang menghitung uang kertas Dolar AS di salah satu kantor penukaran uang, Jakarta. (BAY ISMOYO/AFP)

Ibrahim mengatakan, prospek kesepakatan yang disebut sebagai "gencatan senjata energi" antara Rusia dan Ukraina masih menyisakan keraguan. Pasalnya, muncul laporan serangan Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan tersebut.

Sejumlah anggota parlemen AS dari kedua partai juga menilai kesepakatan Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin berpotensi bertentangan dengan undang-undang AS yang melarang impor energi Rusia, kecuali Moskow menghentikan agresinya terhadap Ukraina.

Di sisi lain, risiko terhadap infrastruktur energi dan jalur pelayaran di kawasan Teluk masih menjadi perhatian. Hal ini menyusul serangan Ansarullah Yaman terhadap bandara internasional Riyadh pada akhir pekan serta laporan serangan terhadap kapal tanker di dekat Selat Hormuz.

"Insiden-insiden tersebut mengancam membatalkan pemulihan pasokan dari Timur Tengah yang sempat terlihat pada bulan September, sekaligus memperkuat kekhawatiran akan gangguan lebih lanjut di salah satu jalur transit energi terpenting di dunia," ungkap Ibrahim.

Ketidakpastian tersebut berpotensi memengaruhi pasokan energi global dan sentimen investor, yang pada akhirnya dapat berdampak terhadap pergerakan mata uang, termasuk rupiah.

 

Investor Menanti Data Inflasi AS

Selain perkembangan geopolitik dan pasokan energi, pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat. Dua indikator yang menjadi perhatian adalah Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI), yang dijadwalkan terbit pada Rabu (14/10/2026) dan Kamis (15/10/2026).

Inflasi konsumen AS pada September diperkirakan meningkat. CPI utama diproyeksikan naik 0,6 persen secara bulanan (month-on-month/mom), lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4 persen pada Agustus.

Sementara itu, inflasi tahunan diperkirakan mencapai 3,7 persen, naik dari 3,4 persen pada bulan sebelumnya.

Perkembangan inflasi tersebut akan dicermati investor untuk memperkirakan arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Perubahan ekspektasi suku bunga AS dapat memengaruhi pergerakan dolar dan nilai tukar rupiah.

Selain data ekonomi, pasar juga menantikan pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Bangkok pada Jumat (16/10/2026).

"Pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan IMF (International Monetary Fund) dan Bank Dunia di Bangkok pada hari Jumat (16/10/2026) juga akan menjadi perhatian pasar," ucap dia.

Dengan demikian, pergerakan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi kombinasi sentimen geopolitik, perkembangan harga energi, dan prospek kebijakan moneter AS.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya