Liputan6.com, Jakarta - Pemanfaatan artificial intelligence (AI) di perusahaan tidak cukup mengandalkan kecanggihan teknologi.
Kesiapan data, keamanan, dan budaya kerja yang mendukung tata kelola juga menjadi faktor penting agar penggunaannya dapat diperluas ke seluruh organisasi.
Advertisement
“Kalau teknologi (AI) tidak bisa dibendung, yang penting kita (perusahaan) tahu apa yang mesti kita lakukan,” kata Direktur Virtus Technology Indonesia, Christian Atmadjaja, Selasa (13/10/2026) di Jakarta.
Christian menjelaskan, banyak perusahaan sudah memulai inisiatif AI, tetapi penerapannya masih berada pada tahap uji coba atau proof of concept (POC). Sebagian lainnya baru menggunakan teknologi ini di divisi tertentu.
Untuk memperluas penggunaan AI ke seluruh perusahaan, ada sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.
“Prediktabilitas, skalabilitas, kesiapan platform, dan keamanan sebagai aspek penting dalam penerapan AI di lingkungan bisnis,” Christian menambahkan.
Menurutnya, pembahasan AI di perusahaan kini bukan sekadar mengenai kemampuan teknologi. Perusahaan juga perlu memastikan hasil yang lebih terukur, kesiapan sistem untuk dikembangkan, serta perlindungan data yang memadai.
Kesiapan data turut menjadi perhatian. Christian mengingatkan prinsip garbage in, garbage out, yang berarti data masukan berkualitas buruk berisiko menghasilkan output yang tidak akurat.
Resistensi Budaya Perusahaan Jadi Hambatan
Pentingnya kesiapan organisasi juga disoroti perusahaan riset asal Amerika Serikat, Gartner. Sebanyak 60% organisasi yang mengabaikan tantangan budaya dalam tata kelola data dan analitik berisiko gagal mengelola AI secara efektif pada 2027.
Dalam riset yang melibatkan 223 pemimpin data dan analitik pada September 2026, Gartner menemukan bahwa resistensi budaya menjadi salah satu hambatan utama dalam tata kelola data.
Sebanyak 60% responden menyoroti kendala ini, sedangkan 40% menyebut pendanaan sebagai hambatan.
Budaya Data Tak Bisa Hanya Dibebankan kepada Tim IT
Budaya dalam tata kelola data mencakup pola pikir, perilaku, dan norma organisasi yang memengaruhi penerapan kebijakan. Artinya, keberhasilan AI tidak hanya ditentukan oleh perangkat atau aturan yang disiapkan perusahaan, tetapi juga kebiasaan orang-orang yang menjalankannya.
Karena itu, pengelolaan data tidak seharusnya hanya menjadi tanggung jawab tim teknologi informasi (IT).
Unit bisnis dan tim teknologi perlu bekerja sama agar tata kelola data selaras dengan kebutuhan operasional serta tujuan perusahaan.
Pentingnya Literasi Data dan AI
Perusahaan juga perlu meningkatkan literasi data dan AI di kalangan karyawan. Pemahaman ini harus diterapkan dalam aktivitas sehari-hari, bukan berhenti pada kebijakan atau pelatihan semata.
Pada akhirnya, keberhasilan penerapan AI tidak cukup diukur dari jumlah proyek atau teknologi yang dibeli.
Kualitas data, keamanan, tata kelola yang dijalankan, dan keterlibatan karyawan turut menentukan apakah teknologi ini mampu memberikan manfaat bagi perusahaan.