Liputan6.com, Washington D.C - Sebuah formasi kuno dari anortosit berwarna cerah, jenis batuan yang umum ditemukan di Bulan, menonjol di antara batuan-batuan yang mengalami deformasi parah di bagian selatan Madagaskar.
Dikutip dari Science Daily, Rabu (14/10/2026), sebuah area batuan yang cerah dan tak biasa di Madagaskar selatan memiliki hubungan yang mengejutkan dengan Bulan. Jika dilihat dari ruang angkasa, formasi tersebut terlihat mencolok di tengah lanskap gersang di sekitarnya. Walaupun terlihat tidak biasa di Bumi, jenis batuan yang sama tersebar luas di seluruh permukaan Bulan.
Advertisement
Batu tersebut yang disebut anortosit adalah batuan beku yang membentuk sebagian besar dataran tinggi Bulan yang cerah dan memantulkan cahaya. Wilayah-wilayah berwarna terang ini bisa dilihat dengan mata telanjang saat mengamati Bulan dari Bumi.
Anortosit tidak hanya ada di Bulan. Endapan besar juga terdapat di beberapa wilayah di Bumi, termasuk Kanada bagian timur, Skandinavia, India selatan, dan Madagaskar. Di Madagaskar selatan, salah satu endapan yang sangat mencolok membentuk formasi berbentuk lingkaran yang mudah dibedakan dari area di sekitarnya.
Pada 28 Agustus 2026 lalu, seorang astronaut yang berada di Stasiun Luar Angkasa (ISS) Internasional memotret massif anortosit Saririaky, sebuah formasi batuan besar yang terpapar di permukaan Bumi.
Anortosit diklasifikasikan sebagai batuan beku intrusif, yang artinya batuan ini terbentuk saat material cair mendingin dan mengeras di bawah permukaan Bumi. Karena proses pendinginan ini terjadi di bawah tanah, mineral-mineral tersebut memiliki waktu untuk berkembang menjadi kristal-kristal yang relatif besar.
Hasil penelitian geologi menunjukkan bahwa Formasi Saririaky terbentuk pada akhir zaman Prekambrium, setidaknya 600 juta tahun yang lalu. Kini, batuan yang terpapar tersebut mencakup area seluas sekitar 100 kilometer persegi.
Transformasi Akibat Tabrakan Benua Purba
Meskipun formasi itu sendiri sudah menakjubkan, lanskap di sekitarnya juga memberikan cerita yang juga menarik. Batuan-batuan di sekitarnya menyimpan bukti adanya kekuatan besar yang mengubah bentuk wilayah ini ratusan juta tahun yang lalu.
Massif Saririaky berada di dalam apa yang para ahli geologi sebut sebagai zona geser duktil. Di wilayah-wilayah ini, batuan mengalami deformasi yang intens lantaran gaya geologis yang kuat uang bekerja pada batuan tersebut di kedalaman kerak bumi.
Pada suhu dan tekanan yang cukup tinggi, batuan padat bisa secara bertahap melengkung, meregang, dan mengubah strukturnya, alih-alih hanya hancur berkeping-keping. Proses ini juga bisa mengubah mineral dan tekstur di dalam batuan, sebuah fenomena yang dikenal sebagai metamorfisme.
Penelitian di area tersebut telah mengidentifikasi fitur-fitur geologis yang panjang dan secara kasar sejajar, membentang dari utara ke selatan. Pola-pola ini mencatat deformasi dahsyat yang memengaruhi batuan di sekitar Saririaky.
Para ilmuwan percaya bahwa sebagian besar transformasi ini terjadi akibat tabrakan benua-benua purba selama pembentukan Gondwana, sebuah superbenua raksasa yang akhirnya mencakup bagian-bagian dari Afrika, India, Madagaskar, Australia, dan Antartika saat ini.
Saat fragmen-fragmen benua ini bersatu, tekanan dan panas yang luar biasa membentuk ulang bagian-bagian besar kerak Bumi.
Beberapa peneliti berpendapat bahwa sebuah massif anortosit kedua yang terletak sekitar 60 kilometer di utara Saririaky di dalam zona geser yang sama, dulunya terhubung dengannya.
Menurut interpretasi ini, massa batuan asli meregang dan terpisah karena akibat gaya tektonik. Struktur yang terbentuk dikenal sebagai boudinage, sebuah proses geologis ketika lapisan atau massa batuan yang relatif kuat ditarik menjadi segmen-segmen terpisah seiring dengan deformasi material di sekitarnya.
Jika penjelasan ini benar, kedua formasi tersebut menyimpan bukti adanya gaya luar biasa yang berperan dalam pembentukan salah satu superbenua purba Bumi.
Pentingnya anortosit secara ilmiah jauh melampaui sejarah geologi Bumi. Batuan yang mirip memberikan peluang penting untuk menyelidiki bagaimana Bulan terbentuk dan berevolusi.
Astronaut Apollo Bawakan Sampel Berharga
Dataran tinggi Bulan yang anortositnya melimpah berusia lebih dari empat miliar tahun. Para ilmuwan meyakini bahwa batuan-batuan ini terbentuk pada awal sejarah Bulan, ketika sebagian besar permukaan Bulan yang masih mudah tertutup oleh lautan batuan cair yang sangat luas.
Seiring dengan mendinginnya lautan magma ini secara bertahap, mineral-mineral tertentu mengkristal dan menumpuk di dekat permukaan, sehingga ikut membentuk kerak luar Bulan pada masa awalnya. Anortosit yang terbentuk dari proses ini tetap menjadi komponen utama dataran tinggi Bulan yang cerah yang bisa dilihat hingga saat ini.
Para astronaut Apollo membawa pulang sampel anortosit bulan ke Bumi, jadi para peneliti mendapatkan bahan berharga untuk mempelajari masa lalu Bulan yang sangat kuno. Namun, jumlah batuan bulan yang tersedia terbatas, sehingga formasi geologis serupa di Bumi menjadi sangat berguna untuk perbandingan.
Salah satu persamaan yang sangat mencolok terjadi di Pegunungan Beartooth, Montana, di mana endapan anortosit memiliki komposisi yang sangat mirip dengan endapan sejenis di Bulan.
Dengan meneliti batuan-batuan di Bumi, para ilmuwan bisa menyelidiki proses-proses geologis yang terkait dengan pembentukan dan evolusi anortosit, sehingga membantu mereka menafsirkan material yang jauh lebih tua yang ditemukan di Bulan.
Formasi Saririaky menjadi contoh mencolok lainnya tentang kesamaan geologis antara Bumi dan tetangga langit terdekatnya. Penampilannya yang cerah dan lingkungan sekitarnya yang menakjubkan juga memperlihatkan bagaimana aktivitas tektonik selama ratusan juta tahun bisa mengubah batuan purba menjadi lanskap khas yang terlihat dari orbit.
Foto astronaut ISS075-E-85249 diambil pada tanggal 28 Agustus 2026 oleh seorang anggota awak Ekspedisi 75 di Stasiun Luar Angkasa Internasional. Astronaut tersebut menggunakan kamera digital Nikon Z9 yang dilengkapi lensa dengan panjang fokus 400 milimeter.
Gambar ini disediakan oleh ISS Crew Earth Observations Facility dan Earth Science and Remote Sensing Unit di Pusat Antariksa Johnson NASA. Foto tersebut sudah dipotong dan disesuaikan untuk meningkatkan kontras, dan artefak lensa sudah dihilangkan.