Liputan6.com, Jakarta - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah bukan hanya mengancam kesehatan dan mengganggu perjalanan masyarakat.
Di balik penerbangan yang tertunda dan jarak pandang yang memburuk, ada pekerja harian yang ikut menanggung dampaknya, mulai dari sopir taksi bandara, porter, hingga petugas ground handling yang penghasilannya bergantung pada kelancaran aktivitas penerbangan.
Advertisement
Kelompok pekerja tersebut mulai menyuarakan kesulitan mereka kepada anggota DPR daerah pemilihan Kalimantan Tengah, Andina Thresia Narang. Bagi mereka, berkurangnya aktivitas penerbangan berarti berkurangnya kesempatan memperoleh penghasilan, sementara kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi setiap hari.
“Ini menunjukkan bahwa dampak karhutla meluas hingga pekerja sektor informal yang mengandalkan penghasilan harian untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” kata Andina saat dihubungi, Selasa (13/10/2026).
Menurut Andina, aktivitas penerbangan di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, telah terganggu selama lebih dari sebulan akibat kabut asap dan terbatasnya jarak pandang. Kondisi tersebut tidak hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga memengaruhi kegiatan ekonomi yang bergantung pada transportasi udara.
Dampak karhutla turut dirasakan di jalur darat. Jarak pandang yang terbatas menyulitkan perjalanan, sedangkan asap yang menyelimuti sejumlah wilayah menambah urgensi penanganan kebakaran.
Namun, memadamkan api bukan perkara mudah. Sejumlah titik kebakaran sulit dijangkau petugas dan relawan, sementara keterbatasan akses serta sumber air membuat proses pemadaman membutuhkan lebih banyak tenaga dan waktu.
Kondisi kemarau semakin memperberat upaya tersebut. Di desa-desa yang jauh dari pusat kota atau kabupaten, petugas kerap harus mencari sumber air terlebih dahulu sebelum dapat melanjutkan pemadaman. Pada saat yang sama, api masih berpotensi meluas ke area lain.
Tantangan Lahan Gambut
Tantangan juga muncul di lahan gambut. Api yang membakar lapisan bawah tanah dapat bertahan meskipun permukaan lahan terlihat sudah padam. Bara yang tersisa berisiko memicu kebakaran kembali sehingga pemantauan dan pendinginan perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses melalui jalur darat, Andina menilai pemadaman dari udara melalui water bombing perlu dioptimalkan.
“Dikarenakan banyaknya titik-titik api yang sulit dijangkau relawan, maka dibutuhkan water bombing agar penanganan lebih maksimal,” ujarnya.
Selain armada pemadaman, ketersediaan air, peralatan, dan logistik juga menjadi faktor penting dalam penanganan karhutla. Ironisnya, kekeringan yang menyulitkan petugas memadamkan api turut membuat sebagian masyarakat menghadapi persoalan mendasar lainnya, yakni keterbatasan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Warga di kawasan rawan kebakaran, termasuk petani dan pekebun, harus menghadapi ancaman berlapis. Paparan asap mengganggu kesehatan, sementara keterbatasan air bersih dan terganggunya aktivitas ekonomi menambah beban kehidupan sehari-hari.
Kelompok rentan, terutama anak-anak, balita, dan lanjut usia, membutuhkan perhatian khusus di tengah memburuknya kondisi udara. Andina meminta kementerian dan lembaga terkait hadir secara langsung untuk membantu masyarakat yang terdampak.
“Dampaknya tentu sangat dirasakan oleh masyarakat, dan ini harus menjadi perhatian serius seluruh elemen kementerian dan lembaga untuk bersama-sama memberikan perhatian langsung,” katanya.
Sebagai bentuk kepedulian, Andina mengaku telah menyalurkan lebih dari 20.000 masker, multivitamin, dan bantuan air bersih sejak Juli. Bantuan lain yang diberikan mencakup pembangunan sumur bor, pompa air, peralatan pemadam kebakaran, serta logistik bagi relawan yang terlibat dalam penanganan karhutla.
Upaya perlindungan warga juga dilakukan melalui penyediaan Rumah Aman Asap di Palangka Raya oleh Dewan Pimpinan Wilayah Partai NasDem Kalimantan Tengah. Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mendapatkan layanan nebulizer dan oksigen.
Siaga Musim Kemarau
Meski bantuan darurat dibutuhkan, Andina mengingatkan bahwa penanganan karhutla tidak seharusnya hanya berpusat pada pemadaman ketika api sudah membesar. Kesiapsiagaan perlu dibangun sebelum musim kemarau tiba, antara lain melalui penjagaan kawasan gambut, penyediaan sumber air, peningkatan kapasitas petugas dan relawan, serta penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.
Sebab, dampak karhutla tidak serta-merta berakhir ketika api berhasil dipadamkan. Selama kabut asap masih mengganggu transportasi dan aktivitas masyarakat, pekerja harian akan terus menghadapi ketidakpastian penghasilan. Pada saat bersamaan, warga membutuhkan perlindungan kesehatan dan akses terhadap air bersih.
Bagi sopir taksi bandara, porter, dan petugas ground handling, setiap penerbangan yang terganggu bukan sekadar persoalan transportasi, melainkan juga berkurangnya peluang untuk membawa pulang penghasilan.
Di tengah upaya memadamkan api dan mengendalikan kabut asap, pemulihan kehidupan masyarakat menjadi bagian yang tidak kalah penting. Sebab, ketika karhutla meluas, dampaknya tidak hanya terlihat pada hamparan lahan yang terbakar, tetapi juga pada kehidupan warga yang harus bertahan di tengah krisis.