Liputan6.com, Paris - Serangan siber terhadap sistem pendingin ratusan supermarket di Prancis menyebabkan suhu kulkas dan freezer melonjak hingga 50 derajat Celsius. Insiden ini mengakibatkan makanan rusak dan kebakaran di sejumlah gerai.
Dikutip dari Al Jazeera, Rabu (14/10/2026), sejumlah peritel besar, termasuk Intermarche, Cooperative U, dan E Leclerc, mengonfirmasi serangan siber yang mereka sebut belum pernah terjadi sebelumnya pada Senin.
Advertisement
Dikutip dari AFP, sedikitnya 300 gerai Intermarche atau merek Netto miliknya menjadi sasaran serangan. Lebih dari 100 gerai Cooperative U juga terdampak.
Carrefour melaporkan 80 supermarketnya terkena dampak, sementara Monoprix menyebut sekitar 5 persen dari total sekitar 490 gerainya terdampak. E Leclerc juga mengonfirmasi bahwa sejumlah gerainya menjadi sasaran.
Kantor Kejaksaan Paris menyatakan serangan berskala besar tersebut menyasar sistem pendingin yang terhubung ke internet di sejumlah jaringan peritel makanan besar di seluruh Prancis. Serangan itu menyebabkan kerugian berupa makanan yang rusak serta kebakaran.
Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu kemudian memerintahkan Badan Keamanan Siber Nasional Prancis (ANSSI) untuk menyelidiki insiden tersebut, menurut seorang sumber di kantornya kepada Reuters.
Sumber itu mengatakan Prancis juga berkoordinasi dengan negara-negara Eropa lainnya karena serangan serupa berpotensi berdampak pada negara lain. Otoritas juga tengah menilai apakah perusahaan-perusahaan Prancis lainnya menghadapi risiko serupa.
Kerugian Diperkirakan Capai Puluhan Juta Euro
Belum ada perkiraan total kerugian yang dialami industri ritel akibat serangan tersebut. Namun, CEO Intermarche Thierry Cotillard mengatakan kepada BFM TV bahwa serangan yang disebutnya belum pernah terjadi sebelumnya itu dapat menimbulkan kerugian hingga puluhan juta euro di seluruh Prancis hanya dalam satu hari.
Menurut BFM TV, peretas berhasil memicu proses pencairan es secara paksa dari jarak jauh pada sistem pendingin di banyak gerai. Akibatnya, stok makanan segar dan produk beku rusak.
Intermarche mengatakan kepada AFP bahwa gerai-gerai yang terdampak harus membuang seluruh produk segar dan beku mereka.
CEO Cooperative U Dominique Schelcher mengatakan serangan tersebut telah mengganggu sistem pendingin sejak Minggu malam.
“Menargetkan peralatan yang sangat penting untuk menjaga kesegaran produk dan menjamin pasokan pangan bagi masyarakat Prancis merupakan hal yang sangat serius dan belum pernah terjadi sebelumnya. Ini tidak dapat diterima,” tulis Schelcher di platform X.
Ia mengatakan tim perusahaan sedang bekerja untuk memulihkan operasional normal secepat mungkin. Penyelidikan juga diperlukan untuk mengungkap secara menyeluruh serangan tersebut.
Kerentanan Perangkat Lunak Jadi Sorotan
Sistem pendingin di supermarket umumnya dikendalikan melalui panel yang mengatur seluruh kulkas dan freezer di satu gerai. Panel tersebut dapat diakses melalui internet sehingga perusahaan pemeliharaan bisa melakukan penyesuaian dari mana saja.
Sumber yang dekat dengan Lecornu mengatakan ANSSI telah mengidentifikasi kerentanan pada perangkat lunak yang dipasok perusahaan Denmark, Danfoss.
Danfoss menyatakan mengetahui adanya insiden di Prancis yang memengaruhi sejumlah terbatas sistem manajemen pendingin.
Perusahaan itu mengatakan perangkat yang terdampak masih menggunakan firmware versi lama. Danfoss menambahkan bahwa pihaknya telah lama menyarankan pelanggan untuk memperbarui sistem mereka dan mengganti peralatan yang sudah usang.
Serangan ini terjadi setelah perusahaan keamanan siber Claroty menerbitkan penelitian pada 9 Agustus yang mengungkap kerentanan dalam sistem Danfoss. Kerentanan tersebut berpotensi memungkinkan penyerang melewati mekanisme autentikasi.
Federasi peritel Prancis, FCD, meminta Danfoss memberikan transparansi penuh terkait insiden tersebut. FCD juga menyebut sejumlah gerai yang terdampak telah kembali beroperasi.
Felix Aime, analis senior intelijen ancaman siber di Sekoia Threat Detection and Research, mengatakan kepada Reuters bahwa Spanyol, Portugal, Polandia, Jerman, dan Belgia juga terdampak.
Jadi Peringatan bagi Dunia
Analis keamanan siber Steven Lachance mengatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan semacam ini bukan hal yang sepenuhnya baru, meski skala serangannya tergolong jarang terjadi.
Menurut dia, ketika kerentanan ditemukan pada perangkat yang terhubung ke internet, penyerang dapat masuk dari jarak jauh dan mengaktifkan fungsi perangkat tersebut.
“Kita memiliki infrastruktur terhubung yang aktif di internet dan bisa diretas. Ini adalah realitas baru,” ujarnya, seraya menyebut serangan tersebut sebagai “peringatan bagi dunia”.
“Kita benar-benar membutuhkan langkah-langkah nasional dan internasional untuk mencegah serangan ini. Jika tidak, hal seperti ini akan terus terjadi,” katanya.
Lachance memperingatkan bahwa meskipun peritel telah kehilangan jutaan euro akibat makanan yang rusak, serangan berikutnya bisa menyasar sektor yang lebih krusial.
“Serangan itu bisa menargetkan infrastruktur energi atau rumah sakit,” ujarnya.