Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melaporkan masih ada 639,23 hektare lahan yang terbakar dan dalam proses penanganan di sejumlah wilayah Indonesia.
Kebakaran terbesar terjadi di Kalimantan Tengah (Kalteng), termasuk di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.
Advertisement
Laporan tersebut disampaikan Suharyanto kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (12/10/2026). Informasi itu disampaikan melalui siaran YouTube Sekretariat Presiden pada Selasa (13/10/2026).
"Untuk hari ini, yang terbakar, yang masih ditangani oleh satgas di lapangan, jumlahnya adalah 639,23 hektar," kata Suharyanto.
Dia mengatakan, lahan yang masih terbakar tersebar di enam provinsi, yakni Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau. Sebagian besar wilayah terdampak merupakan kawasan gambut.
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan kebakaran terbesar setelah ditemukan titik api baru di Taman Nasional Tanjung Puting, yang berada di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan.
"Yang terbesar memang terjadi di Kalimantan Tengah. Kenapa paling besar, karena baru saja ditemukan kebakaran baru di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan. Per hari ini ada 513,89 hektar yang terbakar di sana," jelasnya.
"Meskipun bukan lahan gambut, lahan mineral, tetapi ini menjadi pekerjaan yang segera harus kami lakukan. Pangdam Kalimantan Tengah juga sudah memimpin langsung di lapangan per hari ini," sambung Suharyanto.
Operasi Udara Terkendala Kabut Asap
Suharyanto mengatakan, pemerintah menambah personel dan peralatan Satuan Tugas (Satgas) Darat untuk memperkuat penanganan karhutla melalui operasi darat. Sementara itu, upaya pemadaman dari udara turut dilakukan dengan mengerahkan helikopter water bombing.
Namun, operasi udara menghadapi kendala berupa kabut asap tebal yang mengurangi jarak pandang.
"Sementara untuk Satgas Udara, kami sudah coba bergerak baik dari Palangka Raya Tjilik Riwut maupun dari Syamsudin Noor Banjarmasin, sementara belum tembus karena visibility yang sangat tebal. Dan di Kalimantan Tengah ini operasi-operasi udara, baik heli water bombing, operasi modifikasi cuaca, maupun pesawat komersial sementara tidak dapat terbang karena visibility yang rendah," tutur dia.
Karena kondisi tersebut, penanganan karhutla di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan untuk sementara dititikberatkan pada operasi darat. Suharyanto mengatakan, helikopter water bombing di Kalimantan Tengah belum dapat beroperasi akibat kondisi cuaca dan jarak pandang.
"Untuk Sumatra Selatan baru hari ini bisa terbang, dan nanti kami akan padukan dengan operasi modifikasi cuaca, kami tambah armadanya. Kalimantan Tengah menggunakan empat pesawat dan Sumatra Selatan menggunakan dua pesawat dari Pangkal Pinang," ujar Suharyanto.
BNPB Pantau Prediksi Hujan
Suharyanto mengatakan, pemerintah terus mencermati prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi hujan di berbagai wilayah Indonesia.
Hujan diharapkan membantu memperbaiki kondisi karhutla dalam beberapa pekan ke depan.
"Paling tidak di bulan Oktober ini, mudah-mudahan nanti begitu prediksi BMKG sudah mulai turun hujan alami di pertengahan Oktober sampai dengan November, dan selanjutnya setelah musim hujan turun, tentu saja kondisi karhutla akan lebih baik. Tapi sebelum itu kami siap untuk bekerja keras mengerahkan segala kemampuan yang kami miliki," pungkas dia.