Berapa Banyak Air dan Waktu untuk Padamkan Karhutla Kalimantan dan Sumsel?

Lahan gambut bersifat hidrofobik atau cenderung menolak air ketika kering.

oleh Lia HarahapDiterbitkan 13 Oktober 2026, 11:32 WIB
Petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air untuk memadamkan api yang melalap lahan gambut di Kubu Raya, Kalimantan Barat, Indonesia, Selasa, 11 Agustus 2026. (Foto AP/Stefanus Taman)

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatera Selatan membutuhkan upaya pemadaman yang tidak sederhana. Selain kobaran api di permukaan, petugas harus mengatasi bara yang tersimpan di bawah tanah, terutama pada lahan gambut yang kering.

Kondisi tersebut membuat pemadaman tidak cukup dilakukan dengan menyiram api yang terlihat. Petugas harus memastikan lapisan gambut yang terbakar benar-benar dingin agar api tidak kembali menyala.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton SP Panjaitan, mengatakan setiap skala kebakaran memiliki estimasi waktu pemadaman yang berbeda.

"Untuk titik kebakaran skala kecil atau lokal (spot), dibutuhkan waktu dua hingga lima hari untuk pengamatan dan pengawasan secara terus-menerus di setiap lokasi," ujarnya saat berbincang dengan Liputan6.com, Selasa (13/10/2026).

Sementara itu, untuk area yang cukup luas, pemadaman hingga pendinginan secara menyeluruh guna memastikan bara di bawah tanah benar-benar padam membutuhkan waktu tujuh hingga 14 hari.

"Bahkan bisa lebih lama jika kedalaman gambut mencapai lebih dari dua meter dan tidak didukung hujan lebat," ujarnya.

 

Butuh Ratusan Ribu hingga Jutaan Liter Air

Pelajar bernama Rudiansyah dengan mengenakan kostum Superman membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Petuk Katimpun, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 17 Agustus 2026. (AFP/ Reina)

Terkait kebutuhan air untuk pemadaman, Berton mengatakan hasil riset dan perhitungan teknis menunjukkan bahwa dibutuhkan sekitar 2–6 liter air untuk setiap satu kilogram gambut yang terbakar.

Besarnya kebutuhan air tersebut berkaitan dengan sifat gambut yang hidrofobik atau cenderung menolak air ketika kering. Kondisi ini membuat air sulit meresap tanpa metode penyemprotan bertekanan tinggi atau penggunaan agen pembasah (wetting agent).

"Estimasi per Hektar (Ha), untuk kejenuhan tanah kedalaman 50–100 cm, dibutuhkan ratusan ribu hingga jutaan liter air per hektare (sekitar 300.000–1.000.000 liter air/ha) untuk memastikan bara api padam total dan tidak menyala kembali (re-ignition)," ujarnya.

Kendala lainnya juga menghambat  proses pemadaman adalah ketersediaan awan potensial untuk penyemaian dan keterbatasan jarak pandang.

Penyemaian awan membutuhkan awan potensial yang cukup untuk mendukung pembentukan hujan. Pada puncak musim kemarau, kelembapan udara di lapisan atmosfer bawah dan menengah umumnya sangat rendah. Akibatnya, awan potensial tidak terbentuk atau terlalu tipis untuk disemai.

"Sementara itu, jarak pandang akibat asap pekat dapat turun hingga di bawah batas aman navigasi penerbangan. Hal ini menghambat operasi pesawat penyemai, mulai dari lepas landas, mendeteksi lokasi awan sasaran, hingga melakukan manuver penerbangan secara presisi," ujarnya.

 

Teknologi Canggih Deteksi Titik Api

Diskusi Presiden RI dan Akademisi Terkait Penanganan Lahan Gambut pada Potensi Karhutla (Foto: Youtube Sekretariat Presiden)

Sebelumnya. dalam diskusi Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah akademisi terkait penanganan lahan gambut pada September 2026, salah satu pakar dari UI juga membenarkan bahwa sifat hidrofobik gambut menjadi salah satu penyebab api sulit dipadamkan, terutama setelah gambut mengalami pengeringan ekstrem.

"Dari penelitian yang kami lakukan menggunakan water spray dalam skala laboratorium, kami menemukan bahwa untuk memadamkan satu kilogram gambut dibutuhkan kurang lebih enam liter air, Pak Presiden," ujar pria berbatik biru.

Dia menjelaskan, kebutuhan air untuk memadamkan lahan gambut dalam skala luas juga sangat besar.

"Ini angka yang menakjubkan. Kalau kita punya satu hektare lahan gambut, kita membutuhkan kurang lebih 200.000 liter sampai satu juta liter. Ini luar biasa. Artinya, untuk dipadamkan," lanjutnya.

Yulianto menambahkan, lokasi kebakaran lahan gambut biasanya sangat sulit diakses. Ketika kebakaran terjadi dan terlanjur meluas, proses pemadaman pun membutuhkan upaya yang lebih besar.

"Kami sampaikan tadi, apakah water bombing itu efektif? Kalau melihat data yang kami miliki, itu tidak efektif, Bapak Presiden. Tetapi, mungkin itu upaya yang bisa kita lakukan untuk kondisi-kondisi yang sangat ekstrem," ujarnya.

Oleh karena itu, Yulianto menilai perlu dikembangkan sistem untuk mendeteksi bara api di lahan gambut sedini mungkin. Salah satu teknologi yang dapat dimanfaatkan adalah kamera termal inframerah (thermal infrared camera) untuk membantu menemukan titik panas.

"Dari hasil penelitian yang kami lakukan, kami menemukan bahwa apabila kita melakukan injeksi air ke dalam lapisan gambut, proses pemadaman bisa berlangsung jauh lebih cepat. Oleh karena itu, kami mendorong korporasi juga perlu dilengkapi dengan teknologi pendeteksian," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya