Kebakaran Hutan Meluas, Warga Palangkaraya Beli Oksigen Agar Bisa Bernapas

Kebakaran hutan di Provinsi Kalimantan Selatan terus berulang. Asapnya melimpas ke permukiman warga, bahkan ke negara tetangga.

oleh Ahmad ApriyonoDiterbitkan 13 Oktober 2026, 11:01 WIB
Warga Palangkaraya terpaksa membeli oksigen hanya untuk bisa bernapas di tengah kebakaran hutan. (Liputan6.com/ Dok Warga: Wahyu)

 

Liputan6.com, Palangkaraya - Kebakaran hutan di Provinsi Kalimantan Selatan terus berulang. Data terbaru Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, total hotspot kebakaran hutan di Kalteng mencapai 3.908 titik. Titik api yang terus meningkat itu membuat statu kualitas udara menjadi 'Berbahaya'. Jarak pandang bandara juga terbatas hanya berkisar 0,2 Km. 

Saat api kebakaran hutan meluas, dampaknya tidak berhenti pada lahan yang terbakar. Asap dapat menyebar hingga ratusan kilometer, mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, transportasi, serta kualitas lingkungan, bahkan melintasi batas negara.

Wahyu, seorang warga di Palangkaraya saat dihubungi tim Regional Liputan6.com, Selasa (13/10/2026) mengatakan, dirinya sampai membeli tabung oksigen untuk bisa bernapas karena kabut asap kebakaran hutan sangat tebal.

"Warga banyak yang beli oksigen, terutama yang punya riwayat asma ya, itu sangat membantu banget. Bahkan ada balita di sini banyak yang sakit," katanya.

Tak hanya itu, masker juga langka dan kalau pun ada harganya sangat mahal. Wahyu menyiasatinya dengan cara membeli online. Air purifier juga menjadi barang yang paling dicari saat asap kebakaran hutan melanda. 

"(Air purifier) saya cari di beberapa toko gak ada, di mal juga gak ada, ada pun barang display, barang display. Kalau pun benar-benar mau beli, ya indent, barang dikirim dari Jawa," katanya. 

 

 

 

 

 

 

Mengapa Kebakaran Hutan Gambut Sulit Padam?

Sementara itu, Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan, kebakaran di lahan gambut sulit padam karena penanganannya yang tidak bisa sembarangan.

Tantangan utama pemadaman di lahan gambut memang terletak pada karakteristik kebakarannya yg berbeda dengan kebakaran vegetasi biasa.

Pada kebakaran vegetasi, kata Daryono, api umumnya terlihat membakar bahan bakar di permukaan. Sementara itu, pada lahan gambut yg kering, pembakaran dapat berlangsung di bawah permukaan melalui proses smouldering combustion, yaitu pembakaran membara tanpa nyala api yang jelas.

Akibatnya, permukaan tanah yang terlihat tidak lagi mengeluarkan api belum tentu menunjukkan bahwa kebakaran telah benar-benar padam.

"Bara dapat tetap bertahan di lapisan gambut dan berpotensi kembali memicu kebakaran permukaan apabila kondisi mendukung," katanya.

Daryono menjelaskan beberapa kendala yang kerap dihadapi dalam pemadaman di lahan gambut:

1. Api tersembunyi di bawah permukaan. Bara dapat merambat melalui lapisan gambut sehingga sulit diketahui hanya melalui pengamatan visual.

2. Keterbatasan sumber air. Pada puncak musim kemarau, ketersediaan air untuk pembasahan dapat berkurang.

3. Akses lokasi yang sulit. Banyak kawasan gambut berada di wilayah terpencil dengan keterbatasan akses kendaraan dan peralatan.

4. Pengaruh angin dan cuaca. Angin dapat mempercepat penyebaran kebakaran permukaan dan membawa asap ke wilayah yang jauh.

5. Keterbatasan pemadaman udara. Pengeboman air dari udara dapat membantu pengendalian kebakaran, tetapi belum tentu mampu menjangkau seluruh bara di lapisan gambut.

"Karena itu, penanganan kebakaran gambut membutuhkan pembasahan yang memadai, pengelolaan tata air, pemantauan kondisi bawah permukaan, dan pemeriksaan berulang untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa," ungkap Daryono.

Dirinya juga mengingatkan prinsip terpenting dalam mitigasi kebakaran gambut adalah mempertahankan kondisi hidrologis gambut agar tetap basah.

"Mencegah gambut mengering umumnya jauh lebih efektif daripada memadamkan kebakaran setelah api berkembang luas," katanya menutup.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya