Usia Pakai Mobil Listrik Cuma 10 Tahun, Benarkah?

Calon pembeli mobil listrik, masih ada yang beranggapan jika kendaraan bertenaga baterai ini hanya memiliki usia pakai 10 tahun. Benarkah?

oleh Arief AszhariDiterbitkan 13 Oktober 2026, 15:02 WIB
Pengunjung mengisi daya pada mobil listrik Hyundai di EV Charging Station Senayan Park Jakarta (10/06/2022). Sebagai bentuk dukungan terhadap percepatan ekosistem mobil listrik, Lippo Malls menyediakan EV Charging Station yang dapat menampung 3 slot mobil listrik. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Liputan6.com, Jakarta - Masih ada anggapan jika mobil listrik hanya memiliki usia pakai 10 tahun, dan hal tersebut masih jadi kekhawatiran bagi konsumen. Hal ini tentunya berkaitan dengan daya tahan baterai mobil listrik, yang dianggap belum sebanding dengan mesin mobil konvensional.

Padahal, riset yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Energy menunjukkan, baterai mobil listrik berpotensi memiliki masa pakai optimal antara 10 hingga 20 tahun, bergantung dengan pola penggunaan dan pengelolaan suhu.

Penurunan kapasitas baterai juga berlangsung secara bertahap, bukan berarti kendaraan langsung tidak bisa digunakan setelah melewati satu dekade. Angka 10 tahun kerap dikaitkan dengan masa garansi atau kondisi kapasitas baterai yang tersisa sekitar 70 hingga 80 persen.

Studi yang menganalisis lebih dari 29 juta unit kendaraan di Inggris pada periode 2005 sampai 2022 ini menunjukkan, bahwa perkiraan usia baterai mobil listrik cenderung dibuat secara konservatif.

Dalam penelitian yang berjudul "The closing longevity gap between battery electric vehicles and internal combustion vehicles in Great Britain", yang dirilis pada 2024 mengungkapkan, bahwa kesenjangan usia pakai antara mobil listrik dan kendaraan bermesin pembakaran semakin menyempit.

Sebagai gambaran, mobil bensin rata-rata dapat menempuh hingga 320.000 kilometer sebelum membutuhkan perbaikan mesin besar, sementara baterai mobil listrik generasi terbaru juga berpotensi mencapai jarak tempuh serupa dengan kapasitas yang masih layak digunakan.

Ada sejumlah faktor yang memengaruhi ketahanan baterai, salah satunya suhu. Paparan panas atau dingin ekstrem dapat mempercepat penurunan kinerja baterai.

Karena itu, sistem pendingin cair atau liquid cooling system berperan penting menjaga temperatur baterai, terutama saat mobil digunakan di tengah kemacetan atau diparkir di lokasi yang panas.

Kebiasaan pengisian daya juga perlu diperhatikan. Penggunaan DC fast charging terlalu sering berpotensi meningkatkan suhu baterai, sedangkan pengisian AC di rumah dapat menjadi pilihan untuk penggunaan sehari-hari.

Cara Merawat Baterai Mobil Listrik

Membiarkan baterai terus berada di level 0 persen atau mengisinya hingga 100 persen secara terus-menerus juga dapat memperpendek usia pakai. Secara umum, baterai memiliki siklus pengisian dan pengosongan sekitar 1.500 hingga 3.000 kali.

Di Indonesia, perlindungan konsumen mobil listrik juga didukung aturan mengenai garansi baterai. Berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 15 Tahun 2025, mobil listrik yang dijual di Tanah Air wajib memiliki garansi baterai minimal delapan tahun atau 160.000 kilometer.

Sementara itu,untuk memperpanjang usia baterai, pemilik mobil listrik disarankan menjaga kapasitas baterai di kisaran 20 sampai 80 persen untuk pemakaian harian, serta menghindari parkir terlalu lama di bawah terik matahari.

Pengisian daya di rumah menggunakan wallbox juga bisa diprioritaskan dibandingkan penggunaan fast charging secara berlebihan.

Selain itu, pembaruan perangkat lunak di bengkel resmi penting dilakukan karena produsen dapat menghadirkan peningkatan pada sistem manajemen baterai atau Battery Management System (BMS).

Dengan perawatan yang tepat, penurunan kapasitas baterai dapat dikelola sehingga mobil listrik tetap bisa digunakan dalam jangka panjang, meski daya jelajahnya berkurang seiring bertambahnya usia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya