Liputan6.com, Jakarta - Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas di Kabupaten Ponorogo,. Hingga akhir September 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat total area terbakar mencapai 341,85 hektare yang tersebar di 56 desa pada 17 Kecamatan.
Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, mengungkapkan cuaca kemarau ekstrem menjadi pemicu utama meluasnya kobaran api, baik di kawasan hutan negara maupun hutan rakyat.
Advertisement
“Data karhutla tahun ini sangat kuat kaitannya dengan cuaca kering atau kemarau yang jauh lebih ekstrem dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujar Masun pada Selasa (13/10/2026)
Berdasarkan pemetaan BPBD, Kecamatan Slahung menjadi wilayah terdampak paling parah dengan luas kebakaran mencapai 81,3 hektare. Menyusul di belakangnya, Kecamatan Bungkal 64,5 hektar, Kecamatan Sambut 42,5 hektare, Kecamatan Jenangan 34,5 hektare dan Kecamatan Kauman 30 hektare.
Fenomena Hari Tanpa Hujan
Masun menjelaskan, sebagian besar wilayah Ponorogo kini mengalami fenomena Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 60 hari berturut-turut. Kondisi ini membuat semak belukar, serasah, dan pepohonan mengering tajam sehingga sangat rentan tersulut api.
“Kondisi hutan sangat kering dan mudah terbakar. Situasi ini kian memburuk akibat terpaan angin kencang yang mempercepat penyebaran api,” tambahnya.
Mengingat wilayah Ponorogo diproyeksikan belum akan memasuki musim hujan pada Oktober 2026, BPBD mengimbau masyarakat untuk ekstra waspada terhadap potensi munculnya sumber titik api.
"Warga dilarang keras membuka lahan dengan cara membakar serta diminta aktif menjaga lingkungan demi mencegah kerugian ekologis dan ekonomi yang lebih besar," pungkasnya