Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meninggalkan posisi 6.000 pada perdagangan saham Senin, 12 Oktober 2026. Seiring IHSG yang masih bergejolak investor harus bagaimana?
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (13/10/2026), IHSG ditutup merosot 2,59% ke 5.936,14 pada penutupan perdagangan kemarin. IHSG berada di level tertinggi 6.128,72 dan terendah 5.917,39.
Advertisement
Seiring tekanan IHSG itu mendorong kapitalisasi pasar saham BEI turun menjadi Rp 10.403 triliun. Meski IHSG tertekan, investor asing melakukan aksi beli saham mencapai Rp 142,75 miliar. Akan tetapi, investor asing masih mencatatkan aksi jual mencapai Rp 84,85 triliun sepanjang 2026.
Dalam catatan Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menuturkan, tekanan utama IHSG masih dipicu oleh aksi lepas portofolio pada saham-saham grup konglomerasi besar di Bursa Efek Indonesia (BEI) seiring merebaknya spekulasi pasar terkait rumor penyesuaian bobot (rebalancing) atau sanksi dari indeks MSCI.
"Kekhawatiran terhadap klasifikasi pasar Indonesia dan transparansi investabilitas saham berpotensi membuat para pelaku investor lebih berhati-hati,” kata Nafan, Selasa, (13/10/2026).
Ia menambahkan,pada saat yang sama, apabila tekanan jual terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar, dampaknya terhadap IHSG dapat menjadi signifikan meskipun kondisi fundamental sebagian emiten masih relatif bagus. Sentimen negatif tersebut turut diperparah oleh masih tertahan-nya depresiasi nilai tukar rupiah sebesar 0,08% di kisaran 17.913 per dolar Amerika Serikat (AS) akibat penguatan Indeks Dolar AS (DXY).
“Oleh sebab itu, kepercayaan investor terhadap stabilitas kebijakan ekonomi dan konsistensi reformasi pasar modal masih menjadi faktor penting, terutama ketika IHSG mengalami tekanan dan investor cenderung mengurangi eksposur terhadap saham berisiko tinggi,” ujar Nafan.
Selain itu, menurut Nafan, rencana Danantara untuk memanfaatkan peluang investasi ketika pasar saham mengalami tekanan dapat menjadi sentimen psikologis positif. Danantara menyatakan terbuka untuk masuk ke pasar saham apabila valuasi dinilai menarik, dengan rencana tambahan investasi sekitar US$ 1 miliar hingga akhir 2026, bergantung pada kondisi pasar.
“Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai fundamental sektor jasa keuangan Indonesia masih relatif solid, dengan inflasi domestik yang terjaga dan konsumsi masyarakat yang tetap menopang perekonomian. Namun, ketahanan fundamental tersebut belum tentu langsung tercermin pada harga saham dalam jangka pendek ketika tekanan market dan ketidakpastian global masih dominan,” ujar dia.
Sentimen Eksternal
Dari eksternal, Nafan menilai, sikap pelaku investor global cenderung berhati-hati di tengah dimulainya musim publikasi laporan keuangan kuartal III 2026 dan penantian data inflasi Amerika Serikat (AS).
Pergerakan bursa AS yang bervariasi menunjukkan pelaku pasar belum memiliki keyakinan yang cukup kuat untuk mendorong reli secara merata karena masih mempertimbangkan keseimbangan antara prospek pertumbuhan laba korporasi, tekanan inflasi, harga energi, dan arah kebijakan moneter The Fed.
Faktor penting berikutnya adalah laporan inflasi AS per September, terutama Consumer Price Index (CPI) yang dijadwalkan rilis pada Rabu, 14 Oktober, serta Producer Price Index (PPI) dan data penjualan ritel yang menyusul.
"Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk mengukur persistensi tekanan harga dan kekuatan konsumsi domestik AS, sekaligus memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Federal Reserve (the Fed),” kata Nafan.
Nafan mengatakan, jika inflasi kembali lebih tinggi daripada perkiraan, pasar berpotensi mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat atau suku bunga bertahan tinggi lebih lama (higher for longer). Kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury dan memperbesar tekanan valuasi saham, khususnya saham teknologi dengan valuasi premium yang sensitif terhadap perubahan tingkat diskonto.
“Sebaliknya, inflasi yang lebih terkendali dapat memperkuat optimisme investor terhadap prospek pasar saham,” ujar dia.
Di sisi lain, perkembangan harga minyak mentah menjadi variabel risiko yang tidak kalah penting. Meskipun pada awal perdagangan terdapat harapan penambahan pasokan energi dari Rusia yang dapat meredakan tekanan harga, eskalasi geopolitik di Timur Tengah kembali mendorong kenaikan harga minyak Brent sebesar 2,41% pada level US$ 106,05 per barel pada penutupan Senin.
"Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya produksi dan transportasi perusahaan, menekan daya beli konsumen, serta memperlambat proses disinflasi,” ujar dia.
Investor Harus Bagaimana?
Seiring sentimen itu, investor harus bagaimana?
Untuk menerapkan strategi yang lebih bijaksana, menurut Nafan adalah melakukan stock picking pada saham dengan fundamental solid, valuasi menarik, likuiditas memadai, dan indikasi pembalikan tren yang terkonfirmasi.
“Investor sebaiknya tidak terburu-buru melakukan bottom fishing sebelum tekanan jual mereda, sembari menerapkan manajemen risiko dan disiplin menentukan batas kerugian,” kata dia.
Nafan menuturkan, jika sentimen MSCI membaik dan arus dana asing mulai stabil, peluang pemulihan indeks akan lebih terbuka. Sebaliknya, jika tekanan eksternal dan domestik berlanjut, volatilitas tinggi masih berpotensi mewarnai perdagangan hingga akhir pekan.
Sementara itu, Analis Infovesta, Wawan Hendrayana menuturkan, IHSG masih rawan koreksi dan jika menguat akan terbatas pada perdagangan saham Selasa, 13 Oktober 2026. IHSG akan menguji support 5.800-5.900. Seiring hal itu, ia menilai, agar investor tidak panik dan menjaga dana tunai. “Fokus saham fundamental kuat, stop loss ketat, lebih baik wait and see,” kata Wawan saat dihubungi Liputan6.com.
Ia menilai untuk menghindari dahulu sektor saham energi dan industri. "Lebih defensif ke consumer dan keuangan. Cermati selektif BRMS, ANTM, atau saham bank/batu bara berkualitas,” kata dia.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.