Saat IHSG Rontok Tersengat Isu MSCI hingga Geopolitik

Sejumlah sentimen eksternal dan internal salah satunya MSCI menekan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin, (12/10/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 13 Oktober 2026, 06:15 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok signifikan pada perdagangan saham Senin, 12 Oktober 2026. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meninggalkan level 6.000 pada perdagangan saham Senin, 12 Oktober 2026. Analis menilai, kombinasi sentimen eksternal dan internal menekan laju IHSG, salah satunya MSCI.

Mengutip data RTI, IHSG anjlok 2,59% ke 5.936,14 pada perdagangan kemarin. Indeks saham LQ45 susut 1,79% menjadi 590,90. Seluruh indeks saham acuan kompak tertekan.

Tekanan IHSG itu juga tak lepas dari 602 saham yang memerah. Sementara itu, 114 saham menguat dan 77 saham diam di tempat.

Analis Infovesta Wawan Hendrayana menuturkan, IHSG anjlok 2,59% didorong sejumlah sentimen. Pertama, serangan Houthi ke Arab Saudi menaikkan harga minyak dunia. Harga minyak Brent sempat naik 1,9% ke posisi US$ 106,69 per barel.

Dari domestik, Wawan menuturkan, kekhawatiran pelaku pasar terhadap MSC kembali membekukan saham Indonesia yakni membekukan kenaikan foreign inclusion (FIF) dan number of shares (NOS), penambahan saham baru hingga kenaikan status saham dalam indeks. Kekhawatiran pasar itu mendorong aksi jual saham. Namun, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat aksi beli saham Rp 142,75 miliar di pasar regular. Sedangkan sepanjang 2026, investor asing melepas saham Rp 84,85 triliun.

Namun, Wawan menilai, tekanan IHSG masih wajar karena bukan didorong dari sisi fundamental.

"Tekanan masih wajar karena kombinasi sentimen global dan domestik, bukan krisis fundamental,” ujar Wawan kepada Liputan6.com.

Sementara itu, Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji menuturkan, IHSG tembus ke bawah level psikologis 6.000 perlu dilihat sebagai kombinasi tekanan eksternal dan domestik. Hal ini dipicu sentimen kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia yang menjadi salah satu faktor penting.

“Ketika indeks menembus level psikologis tersebut, tekanan jual berpotensi semakin besar karena investor cenderung meningkatkan aksi profit taking, mengurangi eksposur risiko, dan menunggu konfirmasi stabilisasi pasar sebelum kembali masuk,” ujar Nafan saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menambahkan, isu MSCI juga berpotesi menjadi salah satu faktor penekan yang signifikan. Nafan menuturkan, kekhawatiran investor terhadap evaluasi MSCI terutama transparansi pasar, keterbukaan informasi kepemilikan saham, dan kecukupan free float dapat menekan investor asing bersikap lebih defensif terhadap saham-saham Indonesia.

“Jika ketidakpastian tersebut belum teratasi, risiko pengurangan bobot saham Indonesia dalam portofolio berbasis indeks global dapat memicu antisipasi arus keluar dana asing,” kata Nafan.

 

MSCI Bukan Satu-satunya Beri Tekanan ke IHSG

Pekerja berjalan dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jakarta, Selasa, 28 Juli 2026. (KLY/ Arie Basuki)

Namun, Nafan menegaskan, isu MSCI bukan satu-satunya yang memberi IHSG tekanan. Pelaku pasar juga perlu mencermati pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, rilis data inflasi AS, serta harapan kebijakan suku bunga the Federal Reserve (the Fed).

Sementara itu, pengamat pasar modal Hendra Wardana menuturkan, hasil evaluasi MSCI November 2026 berpeluang menjadi katalis penting bagi arah IHSG. Namun, tidak tepat jika dijadikan satu-satunya penentu pembalikan tren pasar.

“MSCI merupakan salah satu acuan utama bagi pengelola dana global dalam menentukan alokasi investasi berdasarkan indeks. Karena itu, perubahan status suatu negara, bobot saham, maupun kelonggaran kebijakan indeks dapat memengaruhi keputusan investasi dana yang mengikuti atau menggunakan indeks tersebut sebagai tolok ukur. Namun, pasar akan mencermati bukan hanya hasil akhirnya, melainkan juga apakah reformasi yang dilakukan Indonesia benar-benar menjawab,” kata dia.

Kepala Riset PT Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai, tekanan IHSG didorong isu MSCI terlalu jauh. Pembekuan saham oleh MSCI memang diperkirakan masih berlanjut pada review November 2026.

"PR-nya tetap sama, transparansi kepemilikan, free float yang betul-betul bisa diinvestasikan dan kemudahan investor mengikuti komposisi indeks. Kepercayaan tidak pulih hanya dengan janji dan perlu bukti perbaikan yang jalan. Tanpa perkembangan baru yang terkonfirmasi, terlalu jauh kalau seluruh koreks hari ini dianggap gara-gara MSCI,” kata dia.

Selain itu, ia juga menilai, arah pergerakan aset tetap harus dilihat dari data. Kabar serangan rudah Houthi ke Bandara Riyadh menambah kekhawatiran soal ketegangan Timur Tengah. Pasar juga menunggu Consumer Price Index Amerika Serikat pada 14 Oktober 2026 yang bisa menggeser harapan suku bunga. Ia mengatakan, sesuai dengan perkiraan awal, saat ini era suku bunga tinggi. "Namun, jangan otomatis memakai narasi minyak dan dolar melonjak. Laporan Reuters pagi ini (Senin pagi-red) justru menyebut minyak lebih rendah daj dolar AS melemah. Ketidakpastiannya ada, tapi arah pergerakan aset tetap harus dlihat dari data," kata dia.

Ia menambahkan, jebolnya level 6.000 menambah tekanan psikologis, apalagi jika upaya kenaikan IHSG terus mentok di area resistance. “Kami sudah memberi peluang bulan ini menghijau hanya sekitar 55%, tidak berani mengikuti optimisme lima tahun terakhir yang mencapai 83%. Tantangan bulan ini memang berat,” kata Liza.

Sektor Saham

Pekerja mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan Sekuritas, Jakarta, Rabu (14/11). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di zona hijau pada penutupan perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Mengawali pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 6.128,72 dan terendah 5.917,39. Sebanyak 602 saham melemah sehingga menekan IHSG. 114 saham menguat dan 77 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan saham 1.877.358 kali dengan volume perdagangan saham 62,2 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 13,7 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.911.

Seluruh sektor saham kompak tertekan. Sektor saham energi merosot 5,88%, dan pimpin koreksi. Sektor saham basic tergelincir 2,96%, sektor saham industri merosot 5,2%, sektor saham consumer nonsiklikal susut 0,93%, dan sektor saham consumer siklikal tergelincir 2,23%.

Lalu sektor saham kesehatan tergelincir 0,77%, sektor saham keuangan merosot 0,98%, sektor saham properti terpangkas 1,34%. Selanjutnya sektor saham teknologi susut 2,88%, sektor saham infrastruktur merosot 4,72% dan sektor saham transportasi tergelincir 3,44%.

Prediksi IHSG

Karyawan mengamati pergerakan harga saham di Profindo Sekuritas, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

 

Wawan memprediksi, IHSG masih melanjutkan koreksi pada perdagangan saham Selasa pekan ini. “IHSG menguji support 5.800-5.900. Rebound terbatas,” kata dia.

Sementara itu, Nafan prediksi IHSG akan bergerak di kisaran suppprt 5.851 dan 5.647 , sedangkan resistance di 6.016 dan 6.180.

Lalu apa yang harus dilakukan investor?

Nafan menuturkan, strategi yang lebih hati-hati adalah melakukan stock picking pada saham dengan fundamental solid, valuasi menarik, likuiditas memadai, dan indikasi pembalikan tren yang terkonfirmasi.

“Investor sebaiknya tidak terburu-buru melakukan bottom fishing sebelum tekanan jual mereda, sembari menerapkan manajemen risiko dan disiplin menentukan batas kerugian,” kata dia.

Ia menambahkan, jika sentimen MSCI membaik dan arus dana asing mulai stabil, peluang pemulihan indeks akan lebih terbuka. Sebaliknya, jika tekanan eksternal dan domestik berlanjut, volatilitas tinggi masih berpotensi mewarnai perdagangan hingga akhir pekan.

Sedangkan wawan mengingatkan untuk menjaga kas dan fokus pad saham fundamental kuat. “Stop loss ketat lebih baik wait and see. Hindari dulu sektor saham energi dan industri. Lebih defensif ke consumer dan keuangan. Cermati selektif BRMS, ANTM atau saham bank dan batu bara berkualitas,” kata dia.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya