IHSG Anjlok 2,59% ke 5.936, Isu MSCI Membayangi Pasar

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun signifikan mencapai 2,59% pada perdagangan saham Senin (12/10/2026). Salah satunya dipicu isu MSCI.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 12 Oktober 2026, 21:14 WIB
Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan hingga meninggalkan posisi 6.000 pada perdagangan saham Senin, (12/10/2026). Analis menilai, koreksi IHSG hari ini dipicu salah satunya isu Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Berdasarkan data RTI, IHSG hari ini ditutup merosot 2,59% ke 5.936,14. Indeks saham LQ45 tergelincir 1,79% ke posisi 590,90. Seluruh indeks saham acuan kompak tertekan.

Mengawali sesi perdagangan, IHSG sempat menguat, dan menyentuh level tertinggi di 6.128,72. Namun, kenaikan IHSG hanya sementara, dan berbalik arah ke zona merah. IHSG menyentuh level terendah 5.917,39.

Koreksi IHSG hari ini terjadi disebutkan salah satunya isu MSCI. Lembaga penyedia indeks global ini akan menyampaikan hasil tinjauan indeksnya pada November 2026. MSCI diperkirakan masih membekukan saham Indonesia termasuk Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS) saham Indonesia.

Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menuturkan, penembusan IHSG ke bawah level psikologis 6.000 perlu dilihat sebagai kombinasi tekanan eksternal dan domestik, dengan sentimen kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia menjadi salah satu faktor penting.

“Ketika indeks menembus level psikologis tersebut, tekanan jual berpotensi semakin besar karena investor cenderung meningkatkan aksi profit taking, mengurangi eksposur risiko, dan menunggu konfirmasi stabilisasi pasar sebelum kembali masuk,” ujar Nafan saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menambahkan, untuk menentukan sentimen yang paling dominan, perlu dicermati pergerakan saham berkapitalisasi besar, nilai transaksi, serta arus dana investor asing.

“Isu MSCI juga berpotensi menjadi salah satu faktor penekan yang signifikan. Kekhawatiran investor terhadap evaluasi MSCI pada 11 November 2026, terutama terkait transparansi pasar, keterbukaan informasi kepemilikan saham, dan kecukupan free float, dapat mendorong investor asing bersikap lebih defensif terhadap saham-saham Indonesia,” kata dia.

 

 

Sentimen IHSG Lainnya

Karyawan mengamati pergerakan harga saham di Profindo Sekuritas, Jakarta, Jumat (22/9/2023). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Nafan menuturkan, Jika ketidakpastian tersebut belum teratasi, risiko pengurangan bobot saham Indonesia dalam portofolio berbasis indeks global dapat memicu antisipasi arus keluar dana asing.

“Meski demikian, isu MSCI bukan satu-satunya penyebab koreksi, karena sentimen global, pergerakan rupiah, imbal hasil obligasi AS, dan persepsi risiko domestik juga dapat memperkuat tekanan jual,” ujar Nafan.

Hal senada disampaikan Kepala Riset PT Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata. Ia menuturkan, pihaknya sudah melihat MSCI kemungkinan besar masih akan membekukan saham Indonesia. Namun, pekerjaan rumah (PR), menurut Liza tetap sama yakni transparansi kepemilikan, free float yang betul-betul bisa diinvestasikan dan kemudahan investor mengikuti komposisi indeks.

“Kepercayaan tidak hanya pulih dengan janji, perlu bukti perbaikan yang jalan. Tapi tanpa perkembangan baru, yang terkonfirmasi terlalu jauh kalau seluruh koreksi hari ini dianggap gara-gara MSCI,” kata Liza.

Harga Minyak

Mengutip Antara, dalam kajian Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim menuturkan, sentimen negatif berasal dari ketidakpastian di global yang masih tinggi dan harga minyak Brent yang bertahan di atas US$ 100 per barel.

“Kekhawatiran akan potensi capital outflow di pasar obligasi Indonesia, serta berbagai isu mengenai MSCI,” kata Ratna.

Sedangkan dari sentimen global, pelaku pasar masih mencermati arah suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (the Fed), pergerakan yield US Treasury, serta risiko geopolitik yang memicu volatilitas pasar.

Sementara dari sisi geopolitik, kelompok Houthi di Yaman telah melakukan serangan ke wilayah Arab Saudi, termasuk infrastruktur minyak Aramco serta Lapangan Terbang Antarabangsa King Khalid di Riyadh.

“Dari dalam negeri, tekanan terhadap Rupiah dan potensi berlanjutnya net foreign sell (aksi jual investor asing) telah membatasi pergerakan IHSG. Rupiah ditutup melemah 0,08 persen ke level 17,899 per dolar AS,” kata dia.

 

Sektor Saham

Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pada awal pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 6.128,72 dan terendah 5.917,39. Sebanyak 602 saham melemah sehingga menekan IHSG. 114 saham menguat dan 77 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan saham 1.877.358 kali dengan volume perdagangan saham 62,2 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 13,7 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.911.

Seluruh sektor saham kompak tertekan pada Senin pekan ini. Sektor saham energi merosot 5,88%, dan pimpin koreksi. Sektor saham basic tergelincir 2,96%, sektor saham industri merosot 5,2%, sektor saham consumer nonsiklikal susut 0,935, dan sektor saham consumer siklikal tergelincir 2,23%.

Lalu sektor saham kesehatan tergelincir 0,77%, sektor saham keuangan merosot 0,98%, sektor saham properti terpangkas 1,34%. Selanjutnya sektor saham teknologi susut 2,88%, sektor saham infrastruktur merosot 4,72% dan sektor saham transportasi tergelincir 3,44%.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya