Liputan6.com, Jakarta - Citroën bersiap menghidupkan kembali salah satu ikon otomotif legendaris asal Prancis, Citroën 2CV, melalui interpretasi modern yang mengusung teknologi kendaraan listrik (EV). Mobil yang dikenal dengan julukan Bebek atau La Deuche tersebut diproyeksikan kembali hadir sebagai mobil kota berukuran kompak dengan desain retro dan harga terjangkau.
Mengutip laman Motor1, Rabu (14/10/2026), Citroën 2CV EV akan diperkenalkan melalui konsep yang dijadwalkan meramaikan Paris Motor Show. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya Citroën untuk bersaing di segmen mobil listrik perkotaan, yang sebelumnya telah diramaikan oleh Fiat 500 dan Renault Twingo generasi terbaru.
Advertisement
Melalui konsep ini, Citroën ingin mempertahankan karakter dasar 2CV sebagai mobil sederhana, praktis, dan ekonomis. Namun, sejumlah elemen desain serta teknologi modern disematkan untuk menyesuaikan kendaraan tersebut dengan kebutuhan mobilitas masyarakat perkotaan masa kini.
Jika terealisasi sesuai rencana, versi produksi massal Citroën 2CV EV diperkirakan meluncur pada 2028. Tahun tersebut sekaligus menandai 80 tahun sejak kemunculan perdana Citroën 2CV klasik pada 1948.
Daya tarik utama Citroën 2CV EV terletak pada upayanya mempertahankan identitas desain model klasik, tetapi dengan pendekatan yang lebih modern.
Siluet membulat dan proporsi bodi khas 2CV tetap dipertahankan. Pada bagian depan, mobil ini menampilkan lampu utama berbentuk bundar yang berdiri terpisah, dipadukan dengan elemen pencahayaan LED kontemporer.
Kap mesin juga mengadopsi nuansa desain TPV, merujuk pada Toute Petite Voiture, prototipe awal yang menjadi cikal bakal Citroën 2CV. Sementara itu, kaca depan dengan sudut relatif curam memperkuat karakter klasik yang menjadi identitas kendaraan tersebut.
Beranjak ke bagian belakang, konsep 2CV EV menampilkan garis atap melengkung, pintu bagasi berwarna hitam yang memanjang, serta lampu LED horizontal. Kombinasi tersebut memberikan kesan modern tanpa sepenuhnya meninggalkan karakter desain mobil legendaris ini.
Perpaduan gaya retro dan teknologi baru tersebut menjadi salah satu pendekatan Citroën untuk menarik konsumen yang menginginkan mobil listrik dengan tampilan berbeda dari kendaraan listrik perkotaan pada umumnya.
Dimensi Lebih Ringkas
Selain desain, Citroën juga menaruh perhatian pada dimensi dan bobot kendaraan. Konsep 2CV EV dirancang lebih ringkas dibandingkan model klasiknya.
Mobil ini memiliki panjang sekitar 147,6 inci atau 3,7 meter. Sebagai perbandingan, Citroën 2CV generasi klasik memiliki panjang sekitar 151,2 inci atau 3,8 meter.
Dimensi yang lebih kompak tersebut dirancang untuk mendukung kelincahan ketika digunakan di jalan perkotaan. Ukurannya juga berpotensi mempermudah pengemudi saat bermanuver di jalan sempit maupun mencari tempat parkir di kawasan padat.
Dari sisi bobot, Citroën menargetkan angka sekitar 2.200 pon atau hampir 1 ton.
Target tersebut menjadi bagian penting dari konsep mobil listrik yang ingin dikembangkan. Kendaraan dengan bobot lebih ringan berpotensi membutuhkan energi lebih sedikit untuk bergerak dibandingkan mobil yang lebih berat dengan kondisi penggunaan serupa.
Selain itu, penggunaan baterai berkapasitas besar dapat dihindari apabila kebutuhan jarak tempuh dan performa kendaraan dirancang sesuai karakter mobil perkotaan.
Pendekatan ini juga berpotensi membantu menekan biaya produksi, sehingga Citroën dapat menawarkan kendaraan listrik dengan harga yang lebih terjangkau.
Meski demikian, kapasitas baterai, spesifikasi motor listrik, dan jarak tempuh versi produksi massal belum dapat dipastikan berdasarkan informasi konsep yang tersedia.
Nuansa nostalgia tidak hanya ditampilkan melalui desain eksterior. Citroën juga menghadirkan sejumlah detail unik di dalam kabin untuk memperkuat hubungan antara model modern ini dan pendahulunya.
Salah satu detail yang menarik perhatian adalah penggunaan simbol kelinci pada pedal akselerator dan kura-kura pada pedal rem.
Kedua simbol tersebut memberikan sentuhan visual yang berbeda sekaligus mengingatkan pada karakter sederhana dan bersahaja dari 2CV klasik.
Citroën juga merancang kantong pada pintu untuk membawa telur. Detail ini merujuk pada filosofi praktis 2CV generasi awal, yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat dengan kendaraan sederhana dan fungsional.
Fitur lain yang tak kalah menarik adalah Radioën, perangkat radio portabel yang dapat dilepas dari dasbor.
Perangkat tersebut tidak hanya berfungsi sebagai radio di dalam kendaraan, tetapi juga dapat digunakan sebagai pengeras suara untuk aktivitas di luar mobil.
Kehadiran fitur-fitur tersebut menunjukkan bahwa Citroën tidak sekadar mengadaptasi bentuk fisik 2CV klasik. Pabrikan asal Prancis ini juga berupaya membawa kembali semangat kendaraan tersebut melalui solusi praktis yang disesuaikan dengan gaya hidup modern.
Proyeksi Harga dan Waktu Peluncuran
Salah satu aspek yang berpotensi menarik perhatian konsumen adalah harga jualnya.
Citroën memproyeksikan versi produksi massal 2CV EV memiliki harga awal sekitar 15.000 euro atau setara 16.000 dolar AS. Jika dikonversikan menggunakan angka yang tercantum dalam materi sumber, nilainya berada di kisaran Rp 286 jutaan.
Dengan harga tersebut, Citroën 2CV EV berpotensi masuk ke segmen mobil listrik terjangkau di pasar Eropa.
Harga yang relatif rendah juga sejalan dengan konsep dasar kendaraan ini, yakni menghadirkan mobil listrik berukuran kecil yang praktis dan ekonomis untuk kebutuhan mobilitas harian.
Untuk mendukung strategi tersebut, versi produksi massalnya direncanakan dirakit di Eropa. Namun, rincian fasilitas produksi, spesifikasi akhir, serta harga resmi saat peluncuran masih perlu menunggu pengumuman lebih lanjut dari Citroën.
Jika target harga tersebut dapat dipertahankan, 2CV EV berpeluang menjadi alternatif bagi konsumen Eropa yang membutuhkan kendaraan listrik untuk perjalanan sehari-hari, khususnya di kawasan perkotaan.
Rencana kehadiran Citroën 2CV EV pada 2028 memiliki makna tersendiri karena bertepatan dengan peringatan 80 tahun kelahiran model klasiknya.
Citroën 2CV pertama kali diperkenalkan pada 1948 dan kemudian dikenal sebagai salah satu model penting dalam sejarah otomotif Prancis. Mobil tersebut identik dengan desain sederhana, biaya operasional yang relatif rendah, serta kemampuan menunjang kebutuhan mobilitas masyarakat.
Melalui versi listriknya, Citroën berupaya membawa filosofi tersebut ke era elektrifikasi.
Alih-alih mengandalkan baterai berkapasitas besar atau dimensi kendaraan yang semakin bongsor, konsep 2CV EV menitikberatkan pada ukuran kompak, bobot ringan, fungsi praktis, dan harga yang lebih mudah dijangkau.
Meski demikian, keberhasilan mobil ini akan bergantung pada sejumlah faktor, termasuk spesifikasi teknis, jarak tempuh, kemampuan pengisian daya, dan harga akhir ketika dipasarkan.
Apabila Citroën mampu mempertahankan karakter tersebut hingga tahap produksi, 2CV EV berpotensi menjadi salah satu model yang menarik di tengah persaingan mobil listrik perkotaan di Eropa.