Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Menteri ESDM), Bahlil Lahadalia mengungkapkan, pengembangan ekosistem industri baterai mobil di Indonesia sebagai salah satu upaya mempercepat hilirisasi. Pengembangan tersebut mencakup rantai industri dari hulu hingga hilir, mulai dari pertambangan hingga produksi baterai sel.
Bahlil mengatakan, proses hilirisasi membutuhkan waktu sebelum hasilnya dapat dirasakan. Hasil dari proses tersebut dapat terlihat dalam kurun waktu sekitar satu setengah hingga dua tahun.
Advertisement
Hal itu disampaikan Bahlil dalam acara Bicara Bersama Retno Pinasti, dikutip Senin (12/10/2026).
"Hilirisasi itu paling cepat. Satu setengah tahun sampai dua tahun baru hasilnya," ujar Bahlil.
Dia menjelaskan, kerangka pengembangan hilirisasi telah disiapkan sejak dirinya ditunjuk sebagai Satuan Tugas (Satgas) Hilirisasi. Salah satu fokus-nya adalah membangun ekosistem industri baterai mobil yang terintegrasi.
Ekosistem tersebut mencakup sejumlah tahapan, mulai dari penambangan, pengelolaan melalui fasilitas peleburan atau smelter, pemrosesan menggunakan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL), produksi prekursor dan katoda, hingga pembuatan baterai sel.
Menurut Bahlil, Indonesia telah menjalankan pengembangan ekosistem tersebut dan memiliki posisi penting dalam industri baterai global.
"Kita nomor dua di dunia setelah China," katanya.
Hilirisasi untuk Meningkatkan Nilai Tambah
Bahlil menegaskan, percepatan hilirisasi membutuhkan keberanian pemerintah dalam mengambil kebijakan. Indonesia perlu mengembangkan industri pengolahan di dalam negeri agar tidak terus bergantung pada ekspor bahan mentah.
Dia mengingatkan, pengalaman Indonesia pada masa kolonial ketika sumber daya alam diekspor dalam bentuk bahan baku. Karena itu, pengembangan industri dari hulu hingga hilir dinilai penting agar Indonesia memperoleh nilai tambah lebih besar dari kekayaan alam.
Pengembangan ekosistem baterai mobil menjadi salah satu contoh upaya membangun industri terintegrasi di dalam negeri.
Dengan memperkuat tahapan produksi, mulai dari bahan baku hingga produk akhir, Indonesia berupaya meningkatkan peran industri nasional dalam rantai pasok global sekaligus memperluas kegiatan ekonomi berbasis sumber daya alam.