Prediksi IHSG Pekan Ini, Simak Level Support dan Resistance

IHSG menguat 0,94% pada pekan 5–9 Oktober 2026, tetapi investor asing mencatat jual bersih Rp 2,44 triliun. Simak prediksi pekan ini.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 12 Oktober 2026, 11:59 WIB
Layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta. (BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,94 persen atau 56,87 poin ke level 6.093,76 selama perdagangan 5–9 Oktober 2026. Meski demikian, investor asing masih mencatatkan jual bersih atau net foreign sell sekitar Rp 2,44 triliun.

Untuk pekan 12–16 Oktober 2026, Indo Premier Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak konsolidatif dengan rentang 6.000–6.215, di tengah dinamika pasar global dan domestik.

IHSG bergerak dalam rentang 5.995–6.216 sepanjang pekan lalu. Kapitalisasi pasar BEI meningkat 0,69 persen menjadi Rp 10.701 triliun dari Rp 10.627 triliun pada pekan sebelumnya.

Saham yang paling banyak dibeli investor asing adalah ULTJ senilai Rp 111,5 miliar, diikuti MEDC sebesar Rp 48,5 miliar dan EMAS Rp 42,1 miliar. Sebaliknya, saham yang paling banyak dilepas investor asing adalah GOTO senilai Rp 663,2 miliar, BBCA Rp 293,5 miliar, dan BMRI Rp 235,6 miliar.

Dari sisi aktivitas perdagangan, rata-rata volume transaksi harian turun 7,62 persen menjadi 46,53 miliar saham. Frekuensi transaksi harian juga melemah 0,27 persen menjadi 1,67 juta kali. Namun, rata-rata nilai transaksi harian naik 28,52 persen menjadi Rp 16,23 triliun.

Pada Jumat (9/10/2026), IHSG ditutup menguat 1,04 persen ke level 6.093,76 setelah sempat menyentuh titik terendah 5.995,82 pada sesi perdagangan.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Brigita Kinari, menilai pergerakan pasar saham sepanjang pekan lalu dipengaruhi sejumlah sentimen global dan domestik.

"Pergerakan pasar global sepanjang pekan 5–9 Oktober 2026 diwarnai volatilitas saham teknologi, tingginya imbal hasil obligasi AS, dan risiko geopolitik," jelas dia, dikutip Senin (12/10/2026).

 

Sentimen Global dan Domestik Pengaruhi IHSG

Layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta. (BAY ISMOYO/AFP)

Brigita menjelaskan, Wall Street sempat bergerak bervariasi akibat tekanan pada saham teknologi. Kekhawatiran terhadap prospek pendapatan OpenAI serta tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury meningkatkan tekanan terhadap valuasi saham.

Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun masih berada di level tinggi, meskipun sempat terkoreksi setelah lelang obligasi mendapat respons permintaan yang kuat.

"Sentimen membaik pada Jumat (9/10/2026), ketika Dow Jones naik 0,83%, S&P 500 menguat 0,59%, dan Nasdaq naik 0,64%, didukung pemulihan saham teknologi dan meredanya tekanan pasar obligasi."

Di pasar komoditas, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat turun menjadi US$ 88,28 per barel pada Rabu (7/10), sebelum melonjak 3,64 persen ke US$ 91,49 per barel pada Kamis. Kenaikan dipicu risiko gangguan pasokan akibat serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, kekhawatiran potensi tindakan militer AS terhadap Iran, serta ancaman Badai Isaias terhadap produksi minyak di Teluk Meksiko.

"WTI kembali naik tipis 0,19% ke US91,66/barel seiring gangguan produksi akibat badai yang mengimbangi tekanan dari perkembangan diplomatik AS - Iran. Di sisi lain, emas menguat 1,47% ke US4.193,9/troy ounce pada 9 Oktober, didukung pelemahan dolar AS dan permintaan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian pasar."

Sementara itu, harga batu bara Newcastle turun menjadi US$ 148,85 per ton pada penutupan 9 Oktober setelah sempat menyentuh US$ 152 per ton, level tertinggi dalam 23 bulan.

Dari dalam negeri, risiko eksternal turut menjadi perhatian karena defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Indonesia diproyeksikan melebar menjadi 1,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2026 akibat peningkatan impor energi.

Indeks Keyakinan Konsumen September 2026 masih berada di zona optimistis pada level 118,1. Namun, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini turun dari 109,4 menjadi 107,5.

"Perkembangan tersebut perlu dicermati bersama pergerakan arus dana asing dan volatilitas IHSG, tanpa mengasumsikan adanya hubungan sebab-akibat langsung," terangnya.

Prediksi IHSG dan Level Support Resistance

Pengunjung melintas dilayar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (30/12/2019). Pada penutupan IHSG 2019 ditutup melemah cukup signifikan 29,78 (0,47%) ke posisi 6.194.50. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Di tengah berbagai tekanan, sejumlah faktor dinilai masih menopang stabilitas domestik. Cadangan devisa Indonesia tercatat US$ 146,3 miliar atau setara 5,3 bulan impor. FTSE Russell juga mempertahankan status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market. Sementara itu, defisit APBN hingga September 2026 dilaporkan sebesar 1,24 persen PDB dengan keseimbangan primer surplus.

Pemerintah berupaya menjaga disiplin fiskal melalui pengendalian belanja. Di pasar saham, IHSG kembali menguat pada Jumat (9/10/2026), meskipun tekanan jual asing masih terlihat di pasar reguler.

Danantara juga menyatakan terbuka untuk menambah investasi ketika valuasi saham dinilai menarik. Dengan portofolio saham dan obligasi sekitar US$ 3 miliar serta rencana tambahan investasi US$ 1 miliar hingga akhir 2026, langkah tersebut berpotensi mendukung permintaan saham domestik. Namun, dampaknya terhadap pasar secara keseluruhan bergantung pada realisasi investasi dan kondisi likuiditas.

Secara teknikal, IHSG menguat 1,04 persen pada Jumat dan ditutup di atas MA3 serta level psikologis 6.000. Meski naik 0,94 persen secara mingguan dengan dukungan volume pembelian, indeks belum menembus MA20 sehingga pemulihan tren jangka menengah belum terkonfirmasi.

Histogram negatif MACD yang menyempit mengindikasikan tekanan jual mulai mereda. Namun, potensi death cross pada Stochastic RSI di area pivot menunjukkan penguatan jangka pendek masih berisiko tertahan.

"Dalam skenario bullish, IHSG berpeluang melanjutkan rebound menuju area penutupan gap di 6.227–6.231. Namun, apabila gagal mempertahankan momentum dan menembus ke bawah 5.973, risiko koreksi lanjutan menuju 5.850–5.911 perlu diwaspadai," prediksinya untuk sepekan ke depan, 12–16 Oktober 2026.

Untuk jangka pendek, area 6.008–6.025 menjadi zona koreksi yang perlu dicermati, dengan support terdekat di 6.018.

"Kami memperkirakan IHSG bergerak konsolidatif pada kisaran 6.000–6.215 pada pekan depan. Penembusan resistance rentang tersebut berpotensi membuka ruang penguatan menuju 6.297, sedangkan pelemahan di bawah support 5.973 akan meningkatkan risiko koreksi lanjutan," tandasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya