Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Tembus US$ 105 per Barel

Harga minyak dunia naik di tengah eskalasi konflik Timur Tengah dan serangan terhadap kapal tanker yang memicu kekhawatiran pasokan.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 12 Oktober 2026, 07:40 WIB
Seorang pekerja mengumpulkan oli mesin saat bekerja di stasiun degassing di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia melanjutkan penguatan pada perdagangan Senin di tengah eskalasi konflik Timur Tengah. Serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap Arab Saudi serta serangan terhadap dua kapal tanker selama akhir pekan meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dari kawasan tersebut.

Mengutip investing,com, Senin (12/10/2026), harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan harga minyak dunia naik 76 sen atau 0,73% menjadi US$ 105,48 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) menguat 59 sen atau 0,64% menjadi US$ 92,44 per barel.

Kelompok Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan pada Sabtu terhadap bandara internasional Riyadh yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Otoritas Arab Saudi juga melaporkan adanya korban luka dalam serangan baru di bandara tersebut pada Minggu.

Presiden AS Donald Trump mengatakan negaranya mempertimbangkan untuk bergabung dalam serangan Arab Saudi terhadap Houthi. Konflik tersebut merupakan dampak meluas dari perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari.

Goldman Sachs Naikkan Proyeksi Harga Minyak Brent

Sebuah kapal tanker berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

Kekhawatiran pasokan juga meningkat setelah muncul laporan serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Otoritas perdagangan maritim Inggris melaporkan sebuah kapal tanker diserang drone di dekat area labuh Sohar, Oman. Kapal lainnya mengalami kerusakan akibat proyektil yang belum diketahui saat melintasi Selat Hormuz.

Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak Brent pada Desember menjadi US$ 90 per barel dari perkiraan sebelumnya US$ 85. Meski demikian, analis yang dipimpin Daan Struyven menilai penyesuaian pasokan minyak Timur Tengah pada akhirnya dapat menurunkan harga.

“Kami mempertahankan skenario dasar bahwa penyesuaian pasokan Timur Tengah yang berkelanjutan pada akhirnya akan menurunkan harga minyak mentah, sementara potensi eskalasi kembali masih menimbulkan risiko kenaikan harga yang signifikan,” tulis para analis.

Mereka memperkirakan premi risiko sedikit di atas US$ 20 per barel.

Goldman Sachs memperkirakan harga WTI rata-rata mencapai US$ 81 per barel pada Desember 2026 dan US$ 73 per barel pada 2027.

Di Teluk Meksiko, Shell, Chevron, dan BP berupaya memulihkan produksi serta menempatkan kembali pekerja di anjungan minyak setelah Badai Isaias mendarat pada Sabtu pagi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya