Nestapa 46 Orangutan Terjebak di Sisa Hutan Terbakar

46 Individu Orangutan terjebak kebakaran hutan

oleh Lia HarahapDiterbitkan 12 Oktober 2026, 06:33 WIB
Orangutan yang ditranslokasi oleh BKSDA dan YAIRI Kalbar di Hutan Lindung Batu Nyambu (Dok: Antara)

Liputan6.com, Jakarta - Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) serta Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Kalimantan Barat telah menyelamatkan 46 individu Orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus) yang menjadi korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Sejak Agustus hingga 9 Oktober 2026 selama siklus karhutla, setidaknya sudah ada 46 orangutan yang diselamatkan dari habitat yang terbakar. Sementara penyediaan habitat aman menjadi tantangan lanjutan bagi upaya konservasi satwa dilindungi tersebut," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat (Kalbar) Murlan Dameria Pane di Pontianak, Minggu.

Dari jumlah tersebut, delapan individu yang telah dinyatakan sehat mulai ditranslokasikan pada 9 Oktober ke Hutan Lindung Batu Nyambu, Kabupaten Ketapang. Pemindahan itu menjadi tahap lanjutan setelah satwa dievakuasi dari habitat yang terbakar dan menjalani pemeriksaan kesehatan serta observasi.

"Upaya penyelamatan satwa liar tidak berhenti pada penyelamatan dan translokasi. Keduanya merupakan bagian dari strategi konservasi yang lebih luas," kata Murlan.

Orangutan yang diselamatkan berasal dari sejumlah lokasi di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara. Kebakaran menghilangkan tutupan hutan dan memutus keterhubungan antarkawasan, sehingga satwa terisolasi di perkebunan dengan sumber pakan dan ruang jelajah terbatas.

 

Bertahan di Antara Pepohonan

Sebagian orangutan bahkan bertahan di area perkebunan yang hanya menyisakan pepohonan. Mama Lifa dan anaknya, Lifa, misalnya, ditemukan terisolasi di antara pohon akasia pada lahan sekitar 400 meter persegi yang dikelilingi perkebunan kelapa sawit di Desa Pelang, Ketapang.

Sementara itu, Mama Man dan anaknya, Man, dievakuasi dari Desa Tempurukan, Ketapang, pada 3 September 2026 setelah kebakaran mendekati habitat mereka. Empat orangutan lainnya, yakni Mama Nopi dan anaknya, Nopi, serta dua jantan remaja Naufal dan Nopan, diselamatkan dari Desa Pemangkat, Kayong Utara, sehari setelahnya.

Direktur Operasional YIARI Argitoeranting mengatakan pemilihan lokasi pelepasliaran harus mempertimbangkan ketersediaan pakan, sumber air, ruang jelajah, dan keterhubungan dengan kawasan hutan lainnya. Karena itu Hutan Lindung Batu Nyambu dipilih berdasarkan kajian kesesuaian habitat dan daya dukung ekologis.

Kawasan seluas sekitar 23.000 hektare tersebut memiliki tutupan hutan primer dan sekunder serta terhubung dengan sejumlah kawasan hutan lindung dalam lanskap Arabella–Schwaner. Berdasarkan survei pada 2023 kawasan itu merupakan habitat alami orangutan dengan daya dukung ekologis yang dinilai memadai.

"Translokasi bukanlah solusi akhir. Selama kebakaran masih berlangsung dan habitat terus terancam, upaya penyelamatan harus dibarengi dengan perlindungan hutan yang tersisa," ujar Argitoeranting.

CEO YIARI Karmele Llano Sánchez menambahkan sejumlah orangutan terdampak karhutla lainnya masih menjalani perawatan intensif akibat luka bakar, malnutrisi, anemia berat, dan gangguan kesehatan lain. Mereka membutuhkan waktu untuk pulih sebelum dapat dipindahkan ke habitat alami yang aman dan sesuai.

Kepala KPH Ketapang Utara Ya' Suharnoto berharap translokasi diikuti patroli pengamanan kawasan secara rutin, sosialisasi kepada masyarakat, serta penanaman pohon penghasil bunga dan buah sebagai sumber pakan.

"Langkah tersebut diperlukan untuk mendukung keberlangsungan hidup orangutan setelah dilepasliarkan dan menjaga habitatnya dari ancaman berikutnya," kata Ya' Suharnoto.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya