Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan sejak kecil. Salah satu kenangan yang tak pernah dilupakannya adalah berjualan kue cucur untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Hal itu disampaikan Bahlil saat berbincang dalam acara Bicara Bersama Retno Pinasti di Liputan6 SCTV.
Advertisement
"Kue cucur ini adalah kue yang enggak mungkin saya lupa. Sampai kemudian saya meninggal baru saya lupa," ujar Bahlil.
Dia mengenang, semasa masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), ibunya membuat kue cucur setiap pagi setelah salat Subuh. Bahlil kemudian bertugas menjajakan kue tersebut kepada teman-teman sekolahnya.
"Karena kue ini adalah kue yang sering saya jual di pagi hari di saat saya masih SD. Jadi setiap pagi ibu saya habis sholat subuh bikin kue cucur, kemudian saya yang jajanin ke teman-teman sekolah saya," katanya.
Bahlil mengaku berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang sulit. Karena itu, berjualan kue cucur menjadi salah satu cara dirinya membantu orang tua bertahan hidup.
"Saya kan dulu keluarga saya kan, ya mohon maaf, ya miskinlah. Saya tidak pernah malu untuk mengatakan bahwa kue ini yang pernah mempertahankan hidup saya dan orang tua saya. Kue ini," ungkapnya.
Kuliah di Jayapura
Perjuangan Bahlil tidak berhenti ketika dirinya beranjak dewasa. Saat melanjutkan kuliah di Jayapura, Papua, dia mengaku harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup sendiri.
Bahlil menceritakan, perjalanan dari Fakfak menuju Jayapura ditempuh menggunakan kapal perintis selama sekitar dua minggu. Kondisi kapal saat itu bercampur dengan berbagai muatan, mulai dari hewan hingga bahan pangan.
"Karena saya kuliah di Jayapura dari Fakfak ke Jayapura itu kan saya naik kapal perintis. Kapal perintis itu dalamnya itu kambing, ayam, singkong, campur lah gitu. Dua minggu aku. Baru tiba di Jayapura," tuturnya.
Setibanya di Jayapura, Bahlil tidak memiliki keluarga yang bisa menjadi tempat bergantung. Dia pun berusaha bertahan hidup selama menjalani pendidikan.
"Di Jayapura itu gak ada keluarga. Karena saya memang sejak kuliah gak pernah minta kiriman dari orang tua. Saya harus bertahan hidup," katanya.
Bahlil kemudian menceritakan masa ketika dirinya dan teman-teman di asrama kesulitan mendapatkan makanan. Dalam kondisi tersebut, dia mengaku kerap mencari sesuatu yang bisa dimakan untuk mengganjal perut sebelum berangkat kuliah.
"Nah bagaimana? Suatu ketika kami itu enggak ada makanan di asrama. Maka setiap pagi itu saya itu makan mangga muda. Bangun pagi, mangga muda jatuh. Itu kita pake sarapan pagi," ujarnya.
Setelah sarapan seadanya, Bahlil berangkat kuliah. Namun, rasa lapar kembali datang ketika dia pulang dan membuatnya harus mencari buah-buahan di sekitar tempat tinggalnya.
"Abis itu pergi kuliah, pulang, lapar, makan buah apa di sekitar situ," katanya.
Pernah Mengalami Busung Lapar
Kondisi tersebut berujung pada masalah kesehatan. Bahlil mengaku pernah mengalami perut kembung hingga awalnya mengira dirinya terkena malaria.
"Suatu ketika perut saya kembung. Saya kirain malaria," ungkapnya.
Bahlil mengatakan, seorang temannya bahkan meninggal dunia dalam kondisi tersebut. Sementara dirinya berhasil mendapatkan pertolongan dan dibawa ke rumah sakit.
"Dua orang itu satu orang meninggal. Temen saya. Nah saya untung cepat dibawa lari," tuturnya.
Sebelum dibawa ke rumah sakit, Bahlil sempat diberi ramuan daun sambiloto. Namun, kondisinya tidak kunjung membaik hingga akhirnya mendapatkan pemeriksaan medis.
"Dikirain malaria. Jadi dikasih minum air sambiloto. Apa? Daun sambiloto itu dikasih panas, dikasih minum. Kok enggak sembuh-sembuh. Dibawa ke rumah sakit, ternyata busung lapar," pungkas Bahlil.
Tonton Bicara Bersama Retno Pinasti dengan Menteri ESDM, Bahllil Lahadalia secara lengkapnya di video berikut: