Liputan6.com, Jakarta - Pemegang saham PT Jaya Trishindo Tbk (HELI), perusahaan bergerak di bidang usaha jasa angkatan utara niaga tidak berjadwal yakni PT Alta Internasional Indonesia melepas saham HELI pada 8 Oktober 2026. Transaksi penjualan saham HELI tersebut merupakan divestasi.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Minggu (11/10/2026), PT Alta Internasional Indonesia menjual 9.200.000 saham pada 8 Oktober 2026. Dengan demikian, penjualan saham HELI itu sekitar Rp 3,14 miliar.
Advertisement
“Tujuan transaksi divestasi dengan status kepemilikan langsung,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.
Setelah transaksi penjualan saham HELI, Alta Internasional Indonesia memiliki 124.058.000 saham HELI atau setara 14,90%. Sebelumnya, ia memiliki 16% saham HELI atau setara 133.258.000 saham HELI.
Berdasarkan data RTI,pada penutupan perdagangan saham Jumat, 9 Oktober 2026, harga saham HELI turun 8,77% menjadi Rp 312 per saham. Harga saham HELI dibuka naik enam poin menjadi Rp 348 per saham. Harga saham HELI berada di level tertinggi Rp 352 dan terendah Rp 300 per saham. Total frekwensi perdagangan saham 1.805 kali dengan volume perdagangan saham 93.719 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 3 miliar.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melonjak 1,04% menjadi 6.093,75. Indeks saham LQ45 bertambah 1,35% menjadi 601,66. Seluruh indeks saham acuan menghijau menjelang akhir pekan ini.
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menuturkan, penguatan IHSG sebesar 1% pada perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026 mengindikasikan adanya aksi penguatan secara teknikal setelah indeks mengalami tekanan jual cukup signifikan pada perdagangan sebelumnya.
IHSG pada Kamis, 8 Oktober 2026 terkoreksi 1,88% ke level 6.031,28, sehingga pelemahan tersebut membuka peluang bagi investor untuk melakukan buy on weakness terhadap saham-saham yang dinilai sudah berada pada level harga menarik.
"Pada perdagangan Jumat, penguatan IHSG ditopang oleh sektor industri, barang baku, dan infrastruktur, dengan saham BBCA, AMMN, TLKM, BBRI, dan MORA menjadi beberapa penopang indeks,” ujar Nafan saat dihubungi Liputan6.com.
Sentimen IHSG
Selain itu, ia menambahkan, kenaikan IHSG juga mencerminkan upaya investor memanfaatkan momentum pemulihan pasar setelah tekanan jual pada perdagangan sebelumnya.
"Namun, pelaku pasar tetap mencermati sejumlah risiko eksternal, terutama arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve yang masih cenderung hawkish, pergerakan imbal hasil US Treasury, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta harga minyak dunia di tengah ketidakpastian geopolitik,” ujar dia.
Dari domestik,Nafan menuturkan, perkembangan daya beli masyarakat dan data penjualan ritel juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi serta kinerja emiten.
“Dengan demikian, kenaikan IHSG hari ini belum serta-merta mengonfirmasi pembalikan tren menuju bullish. Penguatan tersebut masih perlu dikonfirmasi oleh keberlanjutan arus beli, peningkatan volume transaksi, serta kemampuan indeks bertahan di atas level support terdekat,” kata dia.
Sektor Saham
Ia mengingatkan, investor tetap selektif dengan memperhatikan fundamental emiten, valuasi, dan manajemen risiko, mengingat volatilitas pasar masih berpotensi tinggi.
Pada sesi perdagangan, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.100,57 dan terendah 5.995,82. Sebanyak 381 saham menguat sehingga angkat IHSG. Namun, 238 saham melemah sehingga menahan penguatan IHSG dan 172 saham diam di tempat.
Total frekuensi perdagangan saham 1.427.348 kali dengan volume perdagangan saham sebesar 38,4 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 10 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.888.
Dari 11 sektor saham, hanya sektor saham properti turun 0,16%. Sektor saham basic melesat 1,67%, dan catat kenaikan terbesar. Sektor saham industri mendaki 1,51%, sektor saham infrastruktur bertambah 1,15%.
Sementara itu, sektor saham energi mendaki 0,71%, sektor saham consumer nonsiklikal melompat 1,02%, sektor saham consumer siklikal menguat 0,86%. Lalu sektor saham kesehatan bertambah 0,69%, semtor saham keuangan naik 0,79%, sektor saham teknologi menanjak 0,60% dan sektor saham transportasi bertambah 1,08%.