The Fed hingga Geopolitik Timur Tengah Membayangi Pasar Pekan Ini

Suku bunga global seperti the Fed dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah mempengaruhi pasar, tetapi sentimen domestik cenderung positif.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 11 Oktober 2026, 10:07 WIB
Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Pasar keuangan bergerak ke dua arah berlawanan pekan ini. Laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang jauh lebih lemah sempat memunculkan harapan the Federal Reserve (the Fed) mungkin akan memperlambat kebijakan moneter-nya.

Namun, risalah rapat September menunjukkan sebagian besar pejabat masih memprediksi ada kenaikan suku bunga lagi sebelum akhir tahun, dan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun sempat menyentuh 5,36%, level tertinggi sejak 2002, sebelum akhirnya ditutup pada level 5,24%.

Sementara itu, harga minyak sempat berfluktuasi tajam akibat laporan Washington sedang menyiapkan opsi serangan terhadap Iran. Akan tetapi, Presiden AS Donald Trump kemudian menepis kemungkinan serangan sebelum pemilihan umum sela pada 3 November 2026.

Di sisi lain, ekonomi AS mencatat penambahan 29.000 lapangan kerja pada September, jauh di bawah perkiraan sekitar 90.000, dan tingkat pengangguran naik menjadi 4,2%.

"Secara teori, kondisi ini biasanya menjadi alasan untuk menunda kenaikan suku bunga,” demikian seperti dikutip dari riset PT Ashmore Asset Management Indonesia, Minggu (11/10/2026).

Namun, pejabat the Federal Reserve (the Fed) khawatir inflasi bisa menjadi permanen setelah bertahan di atas target selama lebih dari lima tahun, ditambah dengan tekanan dari kenaikan harga energi.

Gubernur The Fed Christopher Waller menyatakan, kenaikan suku bunga lebih lanjut diperlukan, meskipun dengan fleksibilitas terkait waktu pelaksanaannya. Saat ini, pasar memperkirakan peluang sekitar 20% untuk kenaikan suku bunga pada rapat Oktober, tetapi sudah mengantisipasi satu kali kenaikan pada Desember. Tingginya imbal hasil obligasi jangka panjang turut menjaga kekuatan nilai tukar dolar AS.

 

Risiko Kembali Meningkat di Kawasan Teluk

Sebuah kapal tanker berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

Di kawasan Teluk, risiko kembali meningkat seiring serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) Houthi yang berulang kali menyasar bandara utama Riyadh.

Serangan terhadap bandara-bandara Saudi menewaskan tiga orang, yang memicu koalisi pimpinan Saudi untuk melancarkan serangan terhadap 82 target Houthi di Yaman.

Sebuah kapal tanker juga terkena serangan di lepas pantai Qatar. Pada Kamis, laporan mengenai permintaan Gedung Putih kepada Pentagon untuk menyiapkan opsi serangan terhadap Iran mendorong kenaikan harga minyak Brent sekitar 4% ke level di kisaran US$ 104 per barel.

Presiden Trump kemudian menyatakan, AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela dan menyebut pembicaraan yang berlangsung sebagai langkah yang produktif, sementara Iran menyatakan akan menanggapi usulan terbaru AS dalam beberapa hari ke depan.

Salah satu kabar positif kecil adalah kesepakatan antara Iran dan Oman mengenai jalur pelayaran aman yang ditetapkan melalui Selat tersebut, meskipun lalu lintas kapal masih sangat minim, yakni enam kapal per hari.

 

Sentimen Domestik

Karyawan melihat layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Dari sentimen domestik, terdapat kabar menggembirakan baik dari sisi ekonomi dan pasar. Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan Indonesia untuk 2026 menjadi 5,2% dari sebelumnya 4,7%. Pertumbuhan ekonomi itu didorong permintaan domestik dan program-program pemerintah.

Di sisi lain, FTSE Russell mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Markets atau pasar berkembang, tanpa memasukkannya ke dalam daftar pantauan aau watch list, serta akan memberikan informasi terkini mengenai reformasi pasar sebelum tinjauan Desember.

Selain itu, cadangan devisa relatif stabil di US$ 146,3 miliar, setara dengan pembiayaan impor selama 5,3 bulan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik sekitar 2,6% pada Senin dan Selasa karena harapan kebijakan the Federal Reserve yang lebih moderat, sempat turun setelah rilis risalah rapat yang bernada hawkish, tetapi kembali pulih pada Jumat pekan ini. Selama sepekan, sektor saham transportasi dan logistik serta perawatan kesehatan memimpin kenaikan sekitar 5,85% dan 3,59%.

Di pasar obligasi, suku bunga domestik bergerak dalam dua arah. Suku bunga jangka pendek terus menurun. Imbal hasil rata-rata tertimbang pada lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) minggu ini turun menjadi 6,48% dari 6,75% dua minggu sebelumnya. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang sedikit meningkat, sejalan dengan pergerakan imbal hasil obligasi AS.

Hal ini mengindikasikan kuatnya permintaan terhadap aset rupiah jangka pendek, di mana Bank Indonesia tampaknya berupaya menjaga biaya pinjaman jangka pendek tetap terkendali demi mendukung pertumbuhan, sembari mengandalkan intervensi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang bertahan di kisaran Rp 17.900.

 

Sentimen yang Perlu Dicermati ke Depan

Karyawan memfoto layar pergerakan IHSG, Jakarta, Rabu (3/8/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Rabu (3/08/2022), ditutup di level 7046,63. IHSG menguat 58,47 poin atau 0,0084 persen dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Secara keseluruhan, Ashmore melihat minggu ini diwarnai oleh volatilitas tinggi, di mana suku bunga global dan berita terkait Timur Tengah kembali menjadi faktor penentu utama, sementara kabar mengenai ekonomi dan posisi pasar Indonesia cenderung lebih positif.

"Dalam berbagai strategi investasi kami, kami lebih mengutamakan kualitas dibandingkan mengejar pergerakan jangka pendek; fokus kami mencakup perusahaan ekuitas yang likuid dan memiliki fundamental kuat, obligasi berkualitas tinggi untuk pendapatan, serta reksa dana pasar uang bagi investor yang mengutamakan stabilitas, semuanya dalam portofolio yang terdiversifikasi,” demikian seperti mengutip riset Ashmore Asset Management.

Hal yang Perlu Dicermati

Adapun hal-hal utama yang perlu dicermati meliputi respons Iran terhadap usulan AS, data inflasi AS pada 14 Oktober, potensi serangan lanjutan di Timur Tengah, serta rapat kebijakan Bank Indonesia pada 20–21 Oktober 2026.

“Di mana penurunan suku bunga jangka pendek baru-baru ini akan mengarahkan perhatian pada panduan kebijakan bank sentral tersebut,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya