9 Perusahaan Proses IPO di BEI, Mayoritas Punya Aset Skala Menengah

BEI mencatat dari 9 perusahaan yang proses IPO, mayoritas dari sektor perawatan kesehatan.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 10 Oktober 2026, 18:04 WIB
Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpampang di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan sudah tujuh perusahaan yang mencatatkan saham di BEI hingga 9 Oktober 2026. Total dana dihimpun dari penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) Rp 2,16 triliun.

BEI juga mencatat 9 perusahaan dalam proses IPO. Dari jumlah perusahaan itu, empat perusahaan memiliki aset skala menengah (aset antara Rp 50 miliar-Rp 250 miliar), tiga perusahaan aset skala besar (aset di atas Rp 250 miliar), dan dua perusahaan aset kecil (aset di bawah Rp 50 miliar), demikian berdasarkan POJK Nomor 53/POJK.04/2017.

Sementara itu, berdasarkan rincian sektor, BEI mencatat terbanyak dari sektor perawatan kesehatan yakni empat perusahaan. Disusul dua perusahaan dari sektor energi, dan masing-masing satu perusahaan dari sektor basic materials dan keuangan.

Selain itu, BEI menyampaikan telah diterbitkan 140 emisi dan 63 penerbit efek bersifat utang dan sukuk (EBUS). Total dana dihimpun mencapai Rp 138,04 triliun.

Hingga 9 Oktober 2026 terdapat 22 emisi dari17 penerbit EBUS sedang berada dalam pipeline. Klasifikasi sektor yang dalam pipeline antara lain lima perusahaan dari sektor energi, empat perusahaan dari sektor infrastruktur, tiga perusahaan dari sektor basic materials, tiga perusahaan dari sektor keuangan, dan masing-masing satu perusahaan dari sektor industri dan properti serta real estate.

Dari rights issue, BEI mencatat terdapat 15 perusahaan tercatat atau emiten yang telah menerbitkan rights issue dengan dana dihimpun Rp 16,23 triliun hingga 9 Oktober 2026. Adapun satu perusahaan dari sektor properti dan real estate sedang proses melakukan rights issue.

Kinerja IHSG Pekan Lalu

Karyawan memfoto layar pergerakan IHSG, Jakarta, Rabu (3/8/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Rabu (3/08/2022), ditutup di level 7046,63. IHSG menguat 58,47 poin atau 0,0084 persen dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan saham sepekan tepatnya 5-9 Oktober 2026. Analis menuturkan, IHSG sepekan dipengaruhi sentimen internal dan eksternal terutama rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (10/10/2026), IHSG naik 0,94% ke posisi 6.093,75 dari pekan lalu 6.036,88. Sementara itu, kapitalisasi pasar BEI melonjak 0,69% menjadi Rp 10.701 triliun dari pekan lalu Rp 10.627 triliun.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG sepekan bergerak naik 0,94% tetapi belum mampu break dari moving average (MA)20 harian. Sedangkan dari sentimen, ia menuturkan,pertama, data tenaga kerja AS jauh di bawah ekspentasi, hanya bertambah 29.000, sedangkan tingkat pengangguran naik menjadi 4,2%. “Hal ini dicermati pasar karena adanya ekspektasi akan sikap dovish dari the Fed ke depan,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

 

Kinerja Perdagangan Saham

Karyawan melihat layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Pada hari ini, IHSG melemah pada penutupan sesi pertama menyusul perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). (Liputan6.com/Johan Tallo)

Kedua, dari rilis Federal Open Market Committee (FOMC) Minutes menunjukkan the Fed kembali menyiratkan ada satu kali kenaikan suku bunga pada akhir 2026. Hal ini mengakibatkan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun pada level 5,2%.

“Ketiga, dari sisi komoditas, terpantau harga minyak masih cenderung tinggi pada rentang US$ 90-US$ 103 per barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah sehingga mengakibatkan meningkatkan kekhawatiran pasar akan inflasi energi,” tutur dia.

Faktor keempat, ada kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, Herditya menuturkan, indeks dolar AS cenderung menguat dan menekan mata uang negara berkembang sehingga hal tersebut juga menekan IHSG. Ditambah aliran dana investor yang keluar dalam sepekan mencapai Rp 2,48 triliun pada 8 Oktober 2026.

Dari rata-rata volume transaksi harian BEI tercatat turun 7,62% menjadi 46,53 miliar saham dari 50,37 miliar saham pada pekan lalu.

Sementara itu, rata-rata frekuensi transaksi harian merosot 0,27% menjadi 1,67 juta kali transaksi dari 1,68 juta kali transaksi pada pekan lalu.

Selama sepekan, investor asing melakukan aksi jual saham Rp 2,44 triliun. Pada pekan lalu, aksi jual investor asing mencapai Rp 5,03 triliun.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya